Wednesday, 31 July 2013

ONE LAST DIVE


Ada yang seru dari Jason Eisener (sutradara 'Hobo with A Shotgun, V/H/S 2) bulan ini. Disebut-sebut sebagai 70 detik yang menegangkan. Film horor pendek berjudul 'One Last Dive'. Ketakutan yang efektif. Simak saja sendiri ya, harus sendiri, :)).
- - -
Ditulis Btok di Radio Dalam (30/7) sambil mendengar lagu Matta Band, "Oo, kamu ketakutan!" Tulisan ini merupakan bagian dari rubrik #Seninema.
- - -

Tuesday, 30 July 2013

BAPAKE

Saya tahu ada ada beberapa hal menyenangkan datang, bukan sebagai pengganti, karena memang beberapa hal tak akan terganti. Tapi, tak ada salahnya untuk merasa sedikit senang. Senang karena beberapa hal menyenangkan datang, untuk mengingatkan.
Terakhir kali berkomunikasi dengan Bapak, mungkin Oktober dua tahun lalu. Sebelum dia terkena stroke, mendadak sekali dan kami semua kaget. Orang yang tak pernah mengeluh sakit selama hidupnya. Memang ya, tak ada yang pasti di dunia ini.
Komunikasi saya dengan Bapak begitu klise. Ia lahap habis semua halaman koran hampir setiap hari. Langganannya, Kompas untuk skala nasional, Pikiran Rakyat untuk skala regional. Setelah pensiun, ya teman sejati di pagi harinya, dua surat kabar itu.
Menjelang siang, saya baru bangun. Ya kami ngobrol soal apa yang dibacanya tadi pagi. Tentang apa saja, dari politik  hingga olahraga. Ngobrol ngalor ngidul dan sok bener tentang negara, atau tentang hasil pertandingan sepak bola semalam. Kata ibu, ia komentator sejati. Kasarnya, "Jago komentar doang." Bapak hanya tersenyum mendengarnya.
Entah kenapa mendadak rindu obrolan klise macam itu. Saya amat bersyukur stroke tak memisahkannya selamanya dari saya. Tapi juga kecewa karena itu pula, saya tak bisa lagi berkomunikasi kata-ke-kata dengannya. Stroke tak hanya pernah membuat separuh tubuhnya lumpuh, tapi juga membuat kemampuan bicaranya lenyap. Setelah itu, ia hanya mengangguk, menggeleng, dan tersenyum terhadap orang-orang yang bercengkerama padanya.
Kerinduan terhadap sosok orang tua laki-laki sedikit terbayar dua pekan lalu. Pulang dari Jakarta, singgah di tempat teman menjelang sahur. Jelas ada yang menyambut, karena sudah 'wanci janari'. Menunggu makanan siap saji, kami ngobrol ngalor-ngidul. Bapak si teman ini juga gandrung obrolan seputar media massa. Topik-topik terhangat ia ikuti. Kami jadi mengobrol tentang itu, juga tentang hal-hal lain yang lebih sederhana, tentang hidup, kerja, dan rencana-rencana ke depannya (nggak sederhana-sederhana banget ternyata, xp). Senang saja rasanya ketika bertemu bapak-bapak yang lebih tua, menaruh perhatian lebih terhadap kita, di saat, ya mungkin sedikit banyak yang merasa, kita rindu perhatian macam itu. Ya, menyenangkan rasanya.
Dan ia menawarkan untuk sahur di tempatnya. Obrolan masih jauh dari usai. Rasanya tak ada salahnya untuk menyicip masakan ibu si teman yang terkenal jago masak ini. Tergoda pula. Tapi di rumah juga ada yang berharap saya tiba. Meski biasanya makanan sahurnya cuma 'ceplok endog' dan ayam goreng yang dipanaskan sisa semalam.
Seperti yang sudah saya bilang di atas. Beberapa hal menyenangkan datang untuk mengingatkan. Di rumah, Bapak yang ternyata ikut puasa pasti menunggu. Meski ia tak bisa secara eksplisit bilang rindu. Tawaran itu, justru jadi pengingat bahwa masih ada tanggung jawab lain yang harus saya penuhi.
Saya pamit. Di perjalanan pulang ke rumah yang tak sampai setengah jam saya berharap Bapak cepat pulih lagi. Membaca koran lagi dan kembali bertukar cerita tentang apa yang tercetak di sana. Sekarang mungkin beda rasanya, saya jadi salah satu pelakunya, peliput berita-berita itu. Bapak mungkin senang.
Atau ya bila itu terlalu berat. Setidaknya hanya ingin mendengar ia berkata, "Gimana kabarmu sekarang?" Dan saya akan bercerita tentang semuanya, mengalihkan perhatannya dari segala apa yang ia dengar, lihat dan baca. Saya bersyukur masih diberi kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya.
- - -
Ditulis oleh Btok di Radio Dalam, Jakarta Selatan (29/7) setelah menonton Le Grand Voyage.
- - -

Thursday, 25 July 2013

TORONTO VENICE



Kalau 'Pintu ke Mana Saja' benar adanya, ada dua tempat yang ingin segera saya kunjungi. Venezia dan Toronto, kebetulan di dua kota itu sedang dihelat dua festival film skala internasional, Venice Film Festival (28-9 September 2013) dan Toronto International Film Festival (5-15 September 2013).
Line-up dua film festival itu untuk tahun ini sadis, teramat sadis, bro. Hayao Miyazaki bakal rilis film terbarunya, 'The Wind Rises' di Venezia. Bennedict Cumberbatch yang jadi Julian Assange lewat 'The Fifth Estate' bakal membuka festival di Toronto.
Belum cukup satu Bennedict, Toronto kasih dua lagi. Dia bakal muncul bareng dua aktris gaek Merryl Streep dan Julia Roberts di 'August" Osage County', dan urunan bareng film budak bertabur bintang (Michael Fassbender, Paul Giamatti, Brad Pitt, Paul Dano, Quvenzhane Wallis) di 'Twelve Years a Slave' menemani aktor utama Chiwetel Ejiofor.
Di Toronto juga bakal diputar pertama kali film biopik Sang Madiba, 'Mandela: Long Walk to Freedom' yang diperankan Idris Elba (banyak yang bilang doskil Denzel Washington dari Inggris). Terus ada Kirsten Wiig, Guy Pearce dan Nick Nolte di 'Hateship, Loveship'. Diangkat dari buku Alice Munro, 2001.
Dua sutradara papolit, Richard Ayoade dan Jason Reitman juga bakal ngelayar lagi di Toronto. Richard yang juga merilis film pertamanya 'Submarine' di Toronto tiga tahun lalu, kini merilis 'The Double'. Film ini menampilkan Jesse Eisenberg, mengadaptasi buku berjudul sama karya Fyodor Dostoevsky.
Jason Reitman, setelah melandaskan 'Up in The Air' dengan segudang prestasi dan terjebak quarter life crisis di 'Young Adult' (saingannya 'Young Aus, Young Aus, Young Aus!'), tampil lagi dengan naskah lebih serius. Kali ini bintang yang dipetiknya, Kate Winslet dan Josh Brolin dalam 'Labor Day', berdasar novel Joyce Maynard.
Di Venezia ada film terbaru James Franco 'Child of God' yang dibintangi, ...dirinya sendiri. Kisahnya mengadaptasi novel Cormac McCarthy, berlatar tahun 1960an. Oiya, doskil juga main di film pendek Gia Coppola 'Palo Alto'. Gia ini cucunya Francis Ford, dari mendiang Gian-Carlo, kakak Roman dan Sofia. Trah abis.
Yang paling banyak bikin khawatir pemburu Oscar adalah film terbarunya Stephen Frears, 'Philomena'. Menampilkan Judi Dench dalam kisah mengenai pencarian orang tua terhadap anaknya yang hilang berdekade lalu.
Buat yang kangen Nicholas Cage, ada 'Joe', brewokan doskil di sini. Jesse Eisenberg juga tampil di Venezia, bareng Dakota Fanning dan Peter Sarsgaard di film terbarunya Kelly Reichardt 'NightMoves'.
Yang bikin penasaran di Venezia ada film terbarunya Kim Ki-duk, 'Moebius', doskil menang Golden Lion tahun lalu. Terus ada 'The Zero Theorem' Terry Gilliam (ada Christopher Waltz), dan 'Under the Skin' Jonathan Glazer (ada Scalett Johannson). Ada 'Gravity' Alfonso Cuaron pun sebagai film pembuka.
Sayangnya sih, beberapa film papolit lain, 'The Wolf of Wall Street' Martin Scorcese, 'A Most Wanted Man' Anton Corbijn, 'Nymphomaniac' Lars von Trier, dan film terbaru duo-Spike, 'Her' Spike Jonze, dan 'Oldboy' Spike Lee nggak ada dalam daftar.
Tapi ya mengingat tahun kemarin pun film 'The Master' Paul Thomas Anderson tiba-tiba muncul dua minggu setelah daftar film diumumkan, kita masih boleh berharap.
Berharap kalau 'pintu ke mana saja' benar-benar ada, :((.
- - -
Ditulis Btok di Radio Dalam, Jakarta Selatan (25/7) sambil nonton Doraemon.

Friday, 12 July 2013

THE BRIDGE


Tahun lalu, Critic’s Choice Television Awards kasih anugerah ke (salah satunya) ‘The Following’, sebagai salah satu serial baru yang wajib ditonton. Sampai kelarnya itu serial akhir April kemarin, memang nggak mengecewakan. Jelas saya berharap pada ‘The Bridge’, dapat anugerah yang sama tahun ini (bareng-bareng dua serial Showtime yang saya tunggu banget, ‘Master of Sex’ dan ‘Ray Donovan’).
10 Juli 2013, ‘The Bridge’ tayang kali pertama di FX Network. Jelas lah saya baru nonton besoknya setelah taut unduhan di PirateBay muncul. Ekspektasi saya nggak hancur. ‘The Bridges’ memang menjanjikan. Banyak kemiripan dengan ‘The Following’ memang, sama-sama mengangkat cerita tentang pembunuh berseri, tokoh utamanya detektif yang punya masalah pribadi nan pelik.
Meski skala ceritanya lebih kecil (Ryan Hardy di The Following, agen FBI), Sonya Cross (diperankan oleh Diane Kruger, cantik banget) ‘cuma’ detektif di kota perbatasan El Paso, Amerika Serikat. Tapi plotnya nggak kalah rumit, bahkan mungkin bakal jauh lebih politis ketimbang ‘The Following’ yang menurut saya terlalu meneror.
El Paso ini merupakan kota perbatasan dengan wilayah Mexico. Nggak tanggung-tanggung, kota yang membatasinya adalah Ciudad Juarez, salah satu kota paling tak aman di dunia. Perbandingannya begini, satu orang wanita mati di El Paso bisa bikin geger, tapi ratusan wanita menghilang di Juarez seolah bukan masalah. Di kota itu kabarnya iblis bertahta.
Belum lima menit, penonton udah dibikin geger. Seorang wanita ditemukan tewas tepat di sebuah jembatan yang memisahkan dua negara itu. Bagian perut ke atas tergeletak di El Paso, sisanya di Juarez. Saat itulah kali pertama Sonya bertemu Marco Ruiz yang kharismatik. Marco adalah detektif kota Juarez di Meksiko.
“Ini orang Amerika, kami ambil kasusnya,” ujar Sonya kala berdebat dengan Marco. Nggak debat juga sih, hehe, soalnya Marco tak melawan. “Silakan saja ambil, kami masih punya banyak mayat yang harus diselesaikan di Juarez.” Haha, dan Marco pun minta izin pulang untuk tidur, sementara itu Sonya antusias mengusut kasus ini. Dia pikir, “Nanti aja aku boboknya ama Btok.”


Bahkan iblis pun tak mengizinkan Marco untuk tidur nyenyak malam itu. Ketika diangkat, rupanya mayat itu terpotong dua. Perut ke atas memang orang Amerika, teridentifikasi sebagai Hakim Lorraine Gates. Perut ke bawah adalah Cristina Fuentes, gadis Mexico yang hilang setahun lalu. Ia hanya satu dari ratusan gadis yang menghilang dalam kurun waktu setahun di kota kelam itu. Mau tak mau, Marco harus kerja sama dengan Sonya yang dianggap banyak orang menyebalkan itu (tapi cantik sih, mau gimana lagi).
Padet banget pilot ‘The Bridge’. Pilot itu ibarat gunung es bro’, kalau pucuknya memikat, banyak hal yang masih bisa mengundang penasaran di episode-episode selanjutnya. Kejutan-kejutan macam itu sukses dihadirkan ‘The Following’ hingga episode akhir tahun pertamanya (SPOILER: Claire Matthews nggak mati, ia baru teken kontrak buat season dua). Tentu saya berharap ‘The Bridges’ bakal seperti itu.
Bonusnya, ada Matthew ‘Shaggy’ Lilliard di akhir film. Ia merupakan salah satu saksi kunci/terduga pelaku di kasus pembunuhan hakim Lorraine. Tapi hidupnya justru terancam, gimana dong. Ah peduli amat sih ya Matthew Liliard, buat saya sih yang penting Diane Krueger tetap hidup, tetap tegar, jangan mewek muluk kayak Claire Danes di ‘Homeland’. Hehe.
- - -
Ditulis Btok di Radio Dalam, Jakarta (12/7). Episode pertamanya bisa diunduh di sini >> The Bridge.

Wednesday, 26 June 2013

NAKED AND AFRAID

via NY Daily Times
Bakal gila nih, reality show terbaru keluaran Discovery Channel, ‘Naked and Afraid’ (premiere, 23 Juni 2013, atau dalam Bahasa Sunda, B2B, ‘Bulucun dan Borangan’). Semacam ‘Survivor’, tapi tiap edisi hanya menampilkan dua manusia yang harus bertahan di alam selama tiga minggu, tanpa makanan, minuman, tempat berteduh, dan ...baju. Mereka akan telanjang di alam, seperti manusia purba konon pernah menjalaninya, dan bertahan demi kelangsungan kita.
Denise Contis, produser eksekutif program ini menyebut ketelanjangan adalah cara bertahan hidup yang otentik. Para peserta disebutnya tak canggung untuk bertelanjang demi suguhan survival yang murni. Lagipula menurutnya apa artinya ketelanjangan, jika yang terpikir pertama kali ketika terjun ke lokasi survival adalah bertahan hidup; mencari makan, minum, dan tempat berteduh. Tanpa busana, manusia tak akan jadi fana.
Bagi saya sih pelajaran moralnya, tak perlu malu untuk telanjang, xp (apalagi buat lelaki yang rajin ke Mak Erot, dan perempuan yang rajin ke Haji Jeje). Tapi malulah ketika kita tak bisa menghidupi diri sendiri. Mati kelaparan karena tak mampu beli makan, mati kehausan karena tak bisa beli minum, mati kedinginan karena tak punya tempat tinggal. Karena pada dasarnya, tak perlu di alam liar, dalam dunia modern pun kita sedang bertahan hidup. Di alam liar sana, sandang menjadi tersier, pangan adalah primer, dan papan menjadi sekunder. Di kota, bisa jadi sandang adalah kebutuhan primer, maka tak aneh, penjualan mie instan melonjak tiap akhir bulan.
OOT sih, tapi 'Naked and Afraid' mengingatkan saya pada industri film porno di Jepang. Ini malah membuat saya jadi lebih menghargai Miku Ohashi, Shou Nishino, Manami Suzuki, dan artis JAV lain, haha. Tak banyak yang berani mengambil keputusan ini, "bertelanjang untuk bertahan hidup". Di rekam kamera, di kasur-kasur empuk dalam kamar yang vivid, mereka mengajak kembali ke alam, ...alam nafsu, xp.
Entah kenapa saya jadi mendefinisikan ‘alam’ sebagai, tempat di mana kita berani ‘menelanjangi’ diri. Dimensinya lain dengan rutinitas modern yang kini saya jalani. Beribadah misal, adalah ‘alam’, karena kita tahu di depan Tuhan, semua manusia telanjang seperti ia pertama kali mengirimkan kita ke bumi. Atau misal yang lain, cinta (ahsik!) adalah ‘alam’. ‘Ketelanjangan’ dan ketelanjangan adalah bukti kau memasuki ‘alam’ itu lebih dalam. Jika masih saling menyelubungi diri, mungkin yang dijalani kemudian hari hanya rutinitas modern semata; melamar, menikah, punya anak, punya cucu, mati deh. Tapi saya pikir, tanpa ‘ketelanjangan’ di sisa hidupnya, manusia akan selalu merasa takut.   
Maka inilah menariknya ‘Naked and Afraid’, mengingatkan saya bahwa bertahan hidup bukan hanya soal strategi, melainkan juga intuisi. Episode pertamanya sudah bisa diunduh di Piratebay. Silakan.

BERDAMAI DENGAN BAYANG-BAYANG

via Kumi Yamashita
Setiap orang, pasti punya masalahnya masing-masing. Bahkan mungkin, bagi orang yang paling riang sekalipun. Saya kadang membayangkan, mereka akan menganggap, “Kenapa sih kok saya nggak sedih-sedih?” sebagai masalah. Lucu setiap kali membayangkannya, karena saya dulu begitu.
Bagi saya kini, masalah datang seperti bayang-bayang yang muncul setiap terang, memanjang setiap petang. Dan kita tahu ketika malam tiba, seolah masalah hilang, tapi esok akan muncul lagi dengan hal-hal lebih baru yang harus dipecahkan. Itu mungkin ya mengapa Tuhan membuat bumi berotasi, ...agar manusia punya masalah setiap hari. (INTERMEZZO. Bro, ‘bro’ apa yang bikin muter-muter terus? ...brotasi. *kurang banget, emang, xp*)
(LANJUT) Dan setiap orang, pasti punya caranya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Seperti tadi saya bilang, masalah kadang seperti bayang-bayang. Ada orang yang memilih untuk bersembunyi saja di ruangan gelap untuk menghindarinya. Tapi masalah akan terus menungguinya di luar sana. Suatu saat ia juga pasti akan menyerah, lalu keluar rumah, dan terperangah karena bayangan yang itu-itu saja masih setia menungguinya. Sementara itu bagi mereka yang tak bersembunyi, bayang-bayang baru mengikuti mereka setiap hari.
Beberapa lain mungkin menanggapi datangnya masalah dengan marah-marah. “NGAPAIN SIH KAMU NGIKUTIN SAYA TIAP HARI?!?” Jelas bayang-bayang tak akan menjawab. Ia, justru butuh jawaban dari pertanyaan, “Kenapa aku harus selalu mengikutimu?”. Itu takdir bayang-bayang. Ia tak akan pernah lari, ia temanmu paling setia setiap tiba cahaya. Dan malam gelap hanyalah ruang baginya untuk beristirahat. Jelas bagimu juga.
Untuk saya, dengan apa yang telah dipelajari belakangan ini, bayangan tak bisa dilawan. Pernah satu petang saya menginjaknya yang sedang asyik memanjang di tanah yang berbatu. Saking kesalnya waktu itu. Walhasil, kaki saya yang terkilir. Tak berapa lama setelah itu saya mengerti, mengutip orang-orang bijak yang datang lewat mimpi, “Jadikan teman, apa yang tak bisa kau lawan.”
Sejak saat itu saya ‘berdamai dengan bayang-bayang’. Tapi sejak saya menganalogikan masalah dengan bayang-bayang, sulit mengharfiahkannya sebagai, ‘berdamai dengan masalah’. Kurang lebih padanannya yang lebih pas, “saya harus berpikir damai, tenang untuk menyelesaikan masalah.” Karena sesungguhnya, saya menyadari ini kemudian hari, tak ada gunanya marah-marah, tak ada gunanya keluh kesah.
Lalu akhirnya, pada setiap orang hanya bermuara dua cara untuk menyelesaikan masalah. Dengan cara yang menyedihkan, atau cara yang menyenangkan. Saya memilih cara yang kedua. Karena saya tahu seperti bayang-bayang, setiap satu masalah usai tiap harinya, akan berganti masalah baru kala esok mentari terbit. Saya tak mau saja menghabiskan sisa waktu saya secara menyedihkan, toh masalah hanya terselesaikan, tapi tak akan pernah pergi. Juga alasan lainnya sih saya tidak mau lagi terkilir kaki, hanya karena melawan apa yang tak bisa dilawan.
Maka itu saya percaya kutipan yang saya bikin sendiri terinspirasi dari Peter Parker ini, haha, “Semakin tegas cahaya, semakin kuat bayang-bayang kita.” Lalu mengapa harus sembunyi dari kilau, bila kita bisa jauh lebih kuat daripada bayang-bayang. Karena di bawah naung cahaya, selalu jadi hal yang paling menenangkan, x).
- - -
Ditulis oleh Btok di Jakarta Selatan (26/6). 

Monday, 10 June 2013

HE HEHE HEHEHE

Sebelumnya saya tak merasa sesepi dan semencekam ini di kota orang. Jakarta menjadi sebuah kota yang sudut-sudutnya saya pandang dengan penuh curiga. Malam kemarin saya ingat, pulang dari kantor lepas tengah malam, naik angkot ke Pondok Indah, lalu jalan kaki ke Radio Dalam. Tak sedetikpun saya merasa tenang, rasanya, malam begitu memburu orang-orang yang sedang ketakutan seperti saya.
Sebabnya, Si Legendaris, motor butut kesayangan saya tiba-tiba dicuri orang tiga hari sebelumnya. Sedih bercampur sedikit heran. Buat yang sudah mengenal dan menumpang motor saya, mereka berduka, tapi pasti ujungnya tertawa.
"Kok bisa motor kayak gitu dicuri," ujar mereka sambil tertawa. "Mabok kali tuh yang nyuri," ujar yang lain. "Dimarahin tuh pasti sama bosnya pas lapor hasil malingan," ujar seorang lain sambil tertawa. Saya hanya ikut senyum saja, mengiyakan, tapi sulit membikin tawa semengembang apa yang mereka maksud untuk menghibur saya. Yang bisa menarik ceria ujung dua bibir ini juga pergi, mungkin ikut dimaling orang malam itu.
Motor itu sudah menemani saya ke mana-mana. Ke selatan, paling cuma sampai Pantai Pangumbahan waktu Kuliah Kerja Nyata, 2008 lalu. Timur dan Utara, ya paling jauh ke Jakarta ini, keliling-keliling berguna sekali untuk meringankan beban kerja saya. Nah, paling jauh ke barat, saya boleh bangga, meski sayapnya cuma sebelah, motor itu bisa mengantarkan saya hingga Pulau Dewata, medio 2008-2009.
Banyak kenangan manis, tak jarang juga kenangan pahit terjadi di atas joknya yang sudah terasa begitu keras. Seingat saya, dengan motor ini saya cuma jatuh dua kali. Pertama kali, waktu mau potong rambut di Buah Batu, Bandung, dua bulan setelah beli motor. Terakhir di Jakarta, 2013, pas mau masukin cucian ke laundry. Dua-duanya tak pernah memberi luka parah, hanya bocel-bocel sedikit saja. 
Luka paling parah dan laten paling hanya efek pantat tepos. Sebabnya, jok motor ini yang sudah tak diganti  bertahun-tahun. Busanya entah mengendap jadi apa, tentu saja jadi keras, itu motor jarang saya urus. Jadinya merasa bersalah sekarang. Kalau si Legendaris manusia, ia tak sempat saya bahagiakan, selalu ia melulu buat saya bahagia.
Ia jarang mogok meski jarang diservis, dan dipacu tanpa sempat dipanaskan. Buat motor Suzuki Smash, yang orang bilang karya gagal, motor ini termasuk yang bandelnya. Paling-paling masalah yang kerap menghambat adalah rantai yang terlalu cepat kendor, atau ban yang terlalu cepat bocor.
Nggak nyangka, Tuhan kasih saya kesempatan delapan tahun untuk memiliki motor ini. Delapan tahun sedikit, karena saya ingat persis, beli motor ini di dealer Suzuki, Jalan Kiaracondong, Bandung, yang kini kalau tak salah sudah berubah jadi dealer Proton.
Tanggal 2 Juni 2005, waktu itu beli pakai uang warisan almarhumah nenek, kata Mama. Tanpa banyak basa-basi, nggak sampai dua jam itu motor sudah ada di garasi rumah. Itu motor nantinya menemani saya dari sekadar jalan-jalan, main ke kosan teman, pacaran, nyambi kerja, kuliah sampai lulusnya enam setengah tahun kemudian.
Habis itu sempat bimbang, Mama menawarkan, "Kamu mau ganti motor saja nggak?" Waktu saya diterima kerja di sebuah perusahaan media di Jakarta. Kondisi si motor sudah jauh dari fit, diservis sedemikian rupa pun, sulit untuk bisa melaju di atas 80 km per jam. Tapi saya bilang, "Andi bawa aja dulu ke Jakarta ya, Mah?"
"Yakin kuat dibawa ke sana?" Kata Mama. Saya mengangguk, percaya bahwa si Legendaris selalu bisa diandalkan.
Saya pikir, saya akan pakai motor ini sampai ia nggak bisa jalan lagi. Atau mungkin bila tiba-tiba sahabat saya 'kecelakaan', dan menikah dalam waktu dekat di Padang Sidempuan. Saya punya niat untuk menyetor dan memuseumkan motor saya di sana, setelah sebelumnya dibawa lewat jalur darat. Seburuk apapun kondisi fisik dan mesinnya, motor ini pernah dan selalu sangat berguna buat saya. Saya pikir kebutuhan akan motor baru memang mendesak, tapi ya mau gimana lagi, si Legendaris tak rusak-rusak, dan si kawan tak nikah-nikah.
Saya pikir ini komitmen atas apa yang sudah saya pilih. Daripada membeli yang baru, lebih bagus, kencang, dan muda, saya ingin mempertahankan yang lama. Hanya saja yang saya sesali, kadang upaya itu sebatas wacana. Yang paling saya sesali adalah, "Kenapa saya biarkan motor saya, diparkir di luar kosan tiga bulan berturut-turut? Kenapa saya tidan beli gembok biar lebih aman? Kenapa ketika sempat dibobol, kewaspadaan saya tidak bertambah? Kenapa ya mau cuci motor aja sampai harus disindir dulu? Kenapa motor dibiarkan tanpa rem depan dan belakang?" Intinya, saya sayang, tapi tak ada upaya untuk mengapik-apik.
Dan semakin menyadari itu, kehilangan menjadi penyesalan yang tak tahu di mana akan berujung. Meski kini sudah mencicil gantinya, (alhamdulillah), tapi tak akan sama rasanya. Lebih muda, lebih kencang, lebih bagus memang, tapi dalam beberapa hal, tak semua yang lebih menjadi semua yang kita inginkan. Momen ketika kamu menemukan yang tepat: ketika yang diberikan, tak lebih dari yang kuinginkan. Ketika pas takarannya semacam sebuah kesempurnaan. Itulah gambaran hubungan saya dengan si Legendaris, berlebihan memang. Tapi buat yang pernah punya riwayat panjang dengan sebuah barang, pasti pernah merasakan hal yang sama.
Dan ketika hilang, dada terasa amat sesak, langkah terasa limbung, pikiran melanglangbuana entah ke mana. Setiap orang yang berkata, "Sabar ya," malah membuat linang air mata. Ketika sudah begitu saya suka mencegah bahu saya dipegang atau ditepuk-tepuk. Biar tidak terlihat cengeng saja, meski tak salah untuk menangisi kehilangan sesuatu yang kita sayangi.
Dan perasaan kehilangan itu entah sampai kapan akan berlanjut. Sunyinya mencekam. Di dalam keramaian, seperti dalam lagu Dewa 19, terasa kesenduan. Pikiran yang masih trauma ini hanya berpikir, "Kok tega ya, :(." dan seketika dalam bayangan saya, porsi orang jahat di Jakarta melesat jauh lebih banyak dibanding orang baik.
Itu yang membuat saya setelah kejadian itu bersikap lebih tertutup, mungkin. Saya tak ingin menyinggung orang lain dengan rasa curiga saya yang menggunung. Atau membuat orang lain merasa kesal dengan kesedihan saya yang berlarut. Saya hanya ingin setelah menjalankan kewajiban sehari-hari, pulang saja ke kosan secepatnya, berbaring, dan berusaha tidur. Saya cuma ingin memejamkan mata dan meredakan apa yang berdegub-degub dalam dada. Saya ingin tidur saja agar tak perlu memikirkan apa-apa, dan bangun lagi setelahnya, tapi bukan untuk esok hari, ...
...,melainkan untuk kemarin, lusa, kemarin lusa, dan waktu-waktu yang terasa indah dan ramai sebelumnya, sebelum banyak hal-hal yang saya sayangi satu per satu hilang.
- - -

Ditulis oleh Btok, di Jakarta Selatan, (10/6). Selamat tidur, sampai jumpa kemarin hari.