Friday, 7 March 2014

THAT'S WHAT'S UP - THE STELLAS

1
Setelah hampir setahun (teman asal Batak akan berkata, "Kamana hungkul atuh?"---maksudnya, “Kamana wae?”), The Stellas balik lagi. Terakhir kali lihat mereka setahun lalu bikin lagu khusus untuk idola mereka (meh lah bro, :|), Harry Styles.
Lennon pangling jadi cantik banget (mungkin efek lepas kaca mata ya. greget nerdnya berkurang, tapi entah kenapa jadi mirip Elizabeth Olsen versi kurus, < 3). Sang adik, Maisy (jumpa lagi!) makin lucuk, gemes, pengen nyubit terus-terusan bawaannya.
Yang tak berubah, nyanyinya tetap bikin merinding. Plus, di video terbaru mereka yang diunggah Kamis, 5 Maret 2014, 'That's What's Up' - Lennon and Maisy Stella (Edward Sharpe and The Magnetic Zeros cover), chemistry keduanya bikin bulu kuduk nggak duduk-duduk. Lirik lagunya yekaaan~ (aneh malah kalau Edward Sharpe yang nyanyi), merepresentasikan keduanya banget. Dan di lagu ini, mereka tak hanya menyanyi, tapi saling mengagumi. Bagus banget broh! Falset Maisy di reffrain bikin narik nafas. Iwan Fals aja sampai bilang, "Anaaaak sekecil ituuuu~"
Silakan deh langsung disimak penampilan mereka, dan video-video sebelumnya di kanal Lennonandmaisy. Akan membuatmu bertanya sendiri deh, (lebay memang), "Ini ibu mereka, melahirkan keduanya lewat pita suara kali ya?"
They've made my day!
/
Ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk Rubrik #Coverabu di The Moderntramp. "Jadi, Lennon atau Maisy?"

Tuesday, 4 March 2014

OSCARS

1
Tak banyak kejutan atau tangis bahagia tahun ini. Leonardo di Caprio haruskembali menyimpan kotretan ucapan kemenangan untuk tahun-tahun berikutnya. Jennifer Lawrence tak perlu lagi jatuh di tangga (dan kalaupun ia menang, Ellen DeGenerees akan mengantarkan ke tempat duduknya) seperti tahun lalu.
Tahun ini milik Cate Blancheet dan Rustin Cohle, maksud saya Matthew McCounaghey (atau John Travolta akan menyebutnya, Maddow Mohogany). Keduanya tampil tergelang-gelang dalam film yang dibintanginya. Untuk itu pula mungkin mereka sepakat tampil bercahaya, Blanchett dengan gaun rona kulit rancangan Armani dan McCounaghey dengan tuxedo putihnya (untungnya masih memakai celana panjang, tidak memakai 'shux' ala Pharrel).
Namun di podium, justru penyabet gelar Aktris Pendukung terbaik 'tampil' lebih subtil dan emosionil. Jared Leto dan Lupita 'Eike Bo' Nyong'o membuat kita percaya bahwa mimpi adalah hak setiap orang: bagi orang-orang yang sedang 'berperang' di Venezuela dan Ukraina, mereka yang terinfeksi AIDS, hingga perempuan-perempuan di kota kecil di Kenya (atau dalam bahasa keturunan Bojongkenyot disebut, Ngke Nya alias nanti dulu). Yak, "No matter where you're come from, your dreams are valid." (Kecuali lagi-lagi, untuk orang Bojongkenyot, valid, bukan palid alias hanyut). 
Keempatnya menang, dan tak mengejutkan. Termasuk ganjaran Sutradara Terbaik untuk Alfonso Cuaron (yang begitu canggih dalam 'Gravity') dan Film Terbaik untuk '12 Years A Slave' (gimana kalau seabad, 12 tahun aja bisa menang Oscar, :o).
Tak mengejutkan bukan berarti tak membikin sejarah. '12 Years A Slave' menjadi film pertama yang menang Oscar, disutradarai sineas kulit legam. Memang pantas menang, Ellen sudah memprediksinya lewat banyolan di awal acara. "Prediksi pertama, '12 Years a Slave menang. Prediksi kedua, ...kalian rasis!"
Kategori lain, Dokumenter Terbaik membuat sebagian banyak orang Indonesia patah hati. Film besutan Joshua Oppenheimer, 'The Acts of Killing' gagal menang. Meski sang sutradara tak patah arang. "Kami sudah menang, kami membuat perubahan di Indonesia," ujarnya tentang film kontroversial itu.
Yang 'patah hati' lain di Oscars mungkin Kerry Washington (gagal dapat pizza yang dia idamkan) dan Lizza Minnelli (gagal masuk di selfie terpopuler tahun ini), atau mungkin juga orang-orang seperti saya yang bertanya, "Kenapa harus Pink yang membawakan 'Somehere Over the Rainbow'? kala mengenang 'The Wizard of Oz' " Dan yang paling patah hati, kembali lagi ke bahasan di atas, adalah Leonardo di Caprio yang lagi-lagi harus gigit jari. Eh, ada deng yang lebih parah, segenap produser 'American Hustle' dan 'The Wolf of Wall Street' yang pasti padamencak-mencak, "Anjis, teu bebeunangan broh!" sambil pulang dengan tangan hamva.
Tapi gelaran ke-86 Oscars tak memberi banyak ruang untuk orang-orang bersedih. Ellen bilang, "Ini bukan kompetisi, ini perayaan." Dan semua harus setuju dan berhenti mengejek lagu 'Happy'- Pharrel (tak ada hubungan dengan Kiki FarrelMamamia). Lagu ceria itu memang tak menggondol piala, tapi membuat semua orang berselebrasi, dari Lupita hingga Merryl Streep.
Pra dan paska gelaran Oscar aura hepi sudah terpancar meski cuaca sudah seminggu mendung di sana. Kevin Spacey masih berusaha cool saat Buzzfeed iseng memberinya pertanyaan-pertanyaan remeh yang biasa diajukan pada selebrita wanita. Seleb-seleb wece dengan gaun sipu memudarnya di karpet merah (Naomi Waaaatttttts! Kalau aku sih, yes!). Bennedict Cumberbatch meloncat tinggi demi bisa photobombing di belakang personil U2. John Tromolto dengan kegugupannya yang bikin perut sakit saat memperkenalkan, uhm, Adele Dazeem, :)). Mama Jared Leto yang inspiratif dan masih cling aja, berdebar aku melihatmu, Ma. Hingga terakhir, Amy Poehler diguling-guling di pesta Vanity Fair, sinjing!
Seru sih melihat sebuah acara bergengsi, dikemas dengan sangat rendah hati. Para bintang menumpulkan rasa kompetitifnya dan berupaya sekuat tenaga mengapresiasi kemenangan orang lain. Pesta seusainya menjadi ajang silaturahim para selebrita, termasuk untuk Jennifer Lawrence yang bercanda ingin merebut pialadari tangan Lupita. Bagi yang kalah, mereka mungkin tak lupa, tapi kadang untuk apa, berdebat di kala dan usai pesta. Toh piala, hanya simbol belaka.

PS: Tiga kalimat terakhir ditulis sambil menonton monolog Najwa di akhir, Mata Najwa. Maaf, jadi kebawa-bawa. Berima. Aaa, aa, a.
/
Ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk rubrik #Seninema di The Moderntramp. "Apa momen favoritmu di Oscars tahun ini?"
.

Thursday, 13 February 2014

HER - SPIKE JONZE (2013)


1
Sebelum bercerita tentang film ini, mari sedikit bahas soal 'Lost in Translation', dan sedikit banyak Sofia Coppola mempengaruhi 'Her'. Dalam 'Lost in Translation' kita bertemu dengan Catherine (Scarlett Johannson). Ia 'tersasar' di Tokyo, diajak ke sana, namun kemudian ditinggalkan suaminya yang gila kerja. Dulu, banyak kritikus bilang, 'Lost...' adalah tentang Sofia, paska perceraiannya dengan, ya, Spike Jonze!
Dan ketika Jonze mengumumkan akan merilis 'Her', kritikus yang sempat tertidur sepuluh tahun lamanya, bangun kembali. "Tuh kan, tuh kan," kira-kira begitu lah desas-desus yang muaranya berkesimpulan 'Her' adalah respon dari 'Lost...' Sofia Coppola.
Setidaknya ada beberapa hal yang menguatkan asumsi itu. Di 'Lost...', Sofia lebih jujur. Catherine jelas meninggalkan suaminya dengan alasan kira-kira begini, "Ah, si John (Giovanni Ribisi) mah, gawe muluk! Nyebelin!" Meski hal itu tak terungkapkan dan membuat Catherine teralienasi, hingga nantinya ia bertemu Bo Harris (Bill Murray). Dan membuat kita selalu penasaran dengan apa yang dibisikannya pada Catherine di ujung film.
Jonze memilih untuk lebih tertutup mengapa karakter Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) harus berpisah dengan Catherine (Rooney Mara, cantik banget bikin migren di sini, di Side Effect juga, < 3). Klunya disempilkan singkat dalam perbincangan mereka ketika akan menandatangani surat cerai. Catherine hilang kendali, intinya ia bilang, "It makes me sad. You can’t handle real emotions, Theodore."
Eh sebentar, Catherine kan benar. Rooney Mara di 'Her'? Scarlett Johannson di 'Lost...'? Tuh kan, ah, kalian berdua, Spike, Sopia, ..., :s.
Tapi Jonze lebih jujur ketika mengatakan 'Her' adalah produk semi-otobiografisnya. Tentu kita bisa menerka cerita tentang OS1 yang dimajikani Theodore adalah metafora, bagian ‘semi’ dari semi-otobiografinya. Dan sisanya mengenai Catherine, bisa jadi benar dialami. ya, BISA JADEE!
Karena saya tipe orang yang menganggap "art never comes from happines," saya yakin sih Jonze amat sangat curcol lewat 'Her'. Film ini adalah seni, dan itu mungkin berarti, Jonze masih tak bahagia. Ini jawaban bagi Coppola (yang kini sudah menikah lagi, 2011 silam), sepuluh tahun setelah anak kedua Francis Ford Coppola itu 'tersasar'. Sebuah respon, pernyataan tegas tentang kondisinya saat ini.
Dalam 'Her', Jonze menyelimuti kegelisahannya dengan macam hal menakjubkan. Latar masa depan yang tak berselang lama (syuting di Shanghai, 2013), di sebuah kota yang siangpun gemerlap karena gedung-gedungnya tak hanya mencakar langit, tapi juga memantulkan sinar matari. Ia menciptakan sebuah kondisi psikologi di mana orang-orang nyaman dengan kesunyiannya masing-masing. Ditemani teknologi, menghibur orang-orang yang selalu tak puas dengan apa yang cukup baginya. Dan bagi beberapa dari mereka, termasuk Theodore, teknologi menyempurnakan hidup.
Hingga akhirnya Theodore bertemu Samantha (Scarlet Johannson, suaranya doang), operating system nan jenius, seperti Siri punya Apple, tapi punya simpati dan empati. Lebih dari itu, OS ini selalu berkembang tiap harinya, lebih dari sekadar asisten digital pribadi, melainkan teman ngobrol, penghibur, hingga, ...kekasih, ya, hingga kekasih dalam defiinisi teman tidur di kasur.
Ini jadi jualan 'Her', jujur bila premisnya seperti ini, saya sangat tertarik. Setelah 'Where The Wild Things Are' (yang saya cuma suka soundtracknya, Karen O, dan ia ngisi lagu lagi di 'Her'), saya tak berpikir untuk menonton karya Spike Jonze lagi. Juga Scarlett, sebelumnya suara Samantha akan disampaikan oleh Samantha Morton, namun di tengah film perannya dicabut (meski tetap masuk kredit). Alasannya, suaranya kurang punya afeksi. Saya sih curiga bukan itu alasannya. Pertama karena ini Hollywood, ketika curhatan seorang sutradara difilmkan, tetap harus menjual. Siapapun pasti lebih setuju mendengar (dan membayangkan) ditemani Scarlett selama film ini diputar. Apalagi mendengar ia mendesah di tengah-tengah film ketika mencoba memuaskan Theodore.
Kedua, karena Scarlet adalah sentral dalam 'Lost...', ia adalah Catherine. Sudah saya bilang kan ini adalah repson untuk Coppola. Jonze ingin menyampaikan itu lebih tegas.
Untungnya, Scarlet tampil ciamik. Bukan saya saja yang ngomong. Buktinya, ia hampir bikin rekor, hampir masuk nominasi Oscar untuk kategori aktris terbaik, hanya untuk suaranya saja. Ide ini ditolak, ia tetap digdaya meski tanpa piala.
Eh tapi sebentar, ada yang ngeh gak kalau tak cuma Scarlet yang tampil tanpa raga di 'Her'. Ini bakal jadi trivia seru, silakan cari Kirsten Wiig di film ini. Dan kalau saya jadi Theodore, saya akan lebih jatuh cinta pada Wiig ketimbang Scarlet bila keduanya menjadi OS.
Tak hanya Scarlet, semua pemeran wanita dalam 'Her' tampil bagus. Rooney Mara mah saya nggak mau komen, gak bisa subjektif tentang ia setelah 'Side Effects', < 3. Amy Adams juga tampil tanpa beban, senang lihatnya keluar dari stigma perannya yang kerap tampil terlalu rapi (eh tau-tau bocahnya menang aja di 'American Hustle'). Terakhir, Olivia Wilde, meski cuma tampil sebentar, tapi bikin saya amat menyesal melewatkan 'Drinking Buddies' sebelum menonton 'Her'.
Dan muaranya, Joaquin Phoenix mau tak mau harus tampil kuat, kata kritikus luar ini penampilannya yang meditatif, gentle, dan cerebral. Setuju, pas, tak se'berlebihan' di 'The Master, meski bagus juga ia main di sana. Ia membuktikan itu dengan membuat yakin kalau orang bisa berkomitmen dengan teknologi.  meski beberapa gesturnya mengingatkan saya pada Leonard Hoftstader di 'The Big Bang Theory (series)'. Versi lebih tinggi dan lebih ganteng mungkin. Tapi ya kalau boleh saya terka, referensi karakter Theodore adalah Leonard, dan kumisnya yang tertinggal sepulang ekspedisi dari Antartika. Ohya, dan soal komitmen, ini bukan hal pertama, dalam 'Big Bang...', Raj juga pernah hampir jatuh cinta pada Siri. Beberapa sub-plotnya juga mengingatkan salah satu episode dalam serial science fiction asal Inggris, ‘Black Mirror’. Jadi ya, yang orisinal di sini bukan idenya, tapi keberanian sutradara untuk bertunangan dengan masa lalunya, menjadikan ini konsumsi publik, untuk direnungkan.
2.
Tapi di atas (mungkin sudah pada lupa, karena baru sadar kok panjang banget ya tulisannya), saya sudah bilang kalau cerita Theodore dangan OS1 adalah metafora. Beberapa kritikus menyebutnya ini sisi gila kerja Jonze. OS1 merepresentasikan film, video, semua karya visual yang diciptakannya. Dan Jonze jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta pada hal yang tak perlu punya raga, tak perlu punya nafas. Jonze menawarkan dan sempat kalut dalam konsep itu, mencintai yang fana. Hingga ia harus kehilangan status sebagai menantu Francis Ford Coppola.
Dan dalam 'Her' ia ingin kita menerka, "Apakah itu sebuah dosa?" Dan "Apakah kita, perlu didera karena melakukannya?"
/
HER (2013), directed by: Spike Jonze. Starring: Joaquin Phoenix, Scarlett Johannson, Amy McAdams. Release date: 13 October, 2013 (New York Film Festival). Duration: 126 minutes. Rating - 84 (IMDB), 91 (Metacritic), 94 (Rotten Tomatoes), 86 (The Moderntramp, xp).
/
Ditulis Mohammad Andi Perdana untuk ‘The Moderntramp’, Februari 2014. “Apakah kalian berani untuk jatuh cinta dengan hal-hal yang tak hidup juga?”

Tuesday, 11 February 2014

'IN A PERFECT WORLD' - KODALINE


#001
Saya akan buat daftar singkat kenapa kalian perlu mendengarkan debut album Kodaline, ‘In A Perfect World’. Satu, saya suka sampul albumnya, baru liat itu aja udah hilang penat rasanya, hehe. Dua, ya tentu, lagu-lagunya. Beberapa favorit saya ‘’All I Want’, ‘High Hopes’, ‘Brand New Day’, ‘Talk, ‘Love Like This’ dan ‘One Day’, mengingatkan akan Aqualung era ‘Strange and Beautiful’ (2005). Tiga, ada Ser Davos (Game ofThrones) di video klip ‘High Hopes’. Empat, konsep beauty and the beast di rangkaian video ‘All I Want’ bagus, ceweknya juga cantik, meski saya belum tahu namanya (but i will find you!). Lima, di kanal Youtubenya, album mereka bisa didengar lewat video stop-motion bekerja sama dengan ilustrator Shiloh Smith (mana favoritmu? Favorit saya ‘One Day’). Enam, mereka banyak mencover lagu orang lain, dan menghembuskan nafas yang berbeda, *HAH*,  Kodaline punya dan kentara. Antara lain ‘SameLove’ – Macklemore & Ryan Lewis di BBC; ‘Digital Love’ – Daft Punk dimedley ‘1901’ – Phoenix di Taratata; serta ‘We Are Never Ever Getting Back Together’ di GI:EL. Suka! Kalau kata Titi DJ di Indonesian Idol, “Merinding, merinding, merinding!”
Terus, apalagi ya? Ohya, tujuh, Suara sang vokalis Steve Garrigan terdengar rintih-genik, makin meraung makin bagus, kata orang-orang sih ini versi kasar dari pita suaranya si Tom Chaplin, vokalis Keane. Delapan, fans menyanyikan lagu Kodaline, dan masih tetap terdengar enak. Antara lain di kanalnya Kina Granis ini menyanyikan ‘All I Want’ (duh, saya suka sekali cewek cantik main gitar pake baju kutung); Orla Gartlan dan Gavin James membawakan ‘Love Like This’ (duo ginger favorit saya di Youtube); Paddy Leishman menyanyikan ‘All I Want’ di pemakaman sang paman; dan terakhir, Jemma Johnson menyanyikan ‘High Hopes’, nyanyinya biasa aja, tapi cantik, gimana dong (reminds me of Lauren Mayberry from CHVRCHES, bitter version). Ohya, hampir ketinggalan, sembilan, mereka masuk daftar BBC: Sound of 2013, setara sama ‘Savages’,’ The Weeknd’, dan ‘Little Green Car’. Di atasnya ada 'Haim', 'Laura Mvula', dan ya, lagi, ...‘CHVRCHES’.
Last but not least, sepuluh. Hal lain yang saya suka dari Kodaline adalah liriknya. Memories / they seem to show up so quick but they leave you far too soon / di ‘High Hopes’. You were a moment in life / that comes and goes / A riddle, a rhyme / that no one knows / di ‘Talk’, dua bagian lirik ini pas banget diresapi di satu pagi yang berkabut sambil ninyuh kopi. Terus ada I’ll be flicking stones / at your window / I’ll be waiting outside / 'til you’re ready to go di ‘Brand New Day’, bawaannya jadi kepingin jalan-jalan dan pacaran, uuk, :3. Jadi kalau lagi sedih, cocok banget dengerin Kodaline, resapin liriknya sampai cirambay, sampai satu momen kamu terlalu lama sedih dan tiba-tiba ngeh, “Eh musiknya enak juga ya ternyata.” Dan akhirnya kamu pun bingung mau senang atau sedih.
Nah, itu alasan saya menggemari Kodaline. Semoga kalian pun jadi suka, tapi ya, saya tidak memaksa, x).
/
Ditulis Rasuna Adikara untuk ‘The Moderntramp’, Januari 2014. “Jadi, apa pendapatmu tentang ‘Kodaline’?”

Monday, 10 February 2014

PILOT JANUARI

#001
Bulan pertama di 2014, kancah (halah!) pertelevisian semesta sudah banyak meninggalkan jejak baru di laptop yang sudah miring ke kiri ini. Serial-serial baru yang menarik, beberapa di antaranya sudah disimak rutin per minggu, beberapa cuma dicek pilotnya, beberapa yang tak terlalu menarik, dipindai cepat, --barangkali banyak tease-scene menggiurkan (apalagi HBO, nggak bisa dilewatkan, xp), beberapa sisanya: sampah banget. Berikut di antaranya yang sudah saya simak:

TRUE DETECTIVE, 12 Januari 2014 (8 episodes, HBO)
Tentang: Dua detektif Rustin Cohle (Matthew McConaughey) dan Martin Hart (Woody Harrelson) mengejar pembunuh berseri pada 1995 di Lousiana. Dora Lange, ditemukan terbunuh dengan tanduk rusa termahkotai di kepalanya, dalam keadaan telanjang. Kasusnya pelik, karena menyangkut sekte yang dianggap mengancam eksistensi gereja saat itu. Tekanan datang dari berbagai pihak sementara keduanya belum bisa mengidentifikasi siapa di balik semua ini. Ya, semua ini, karena ternyata Dora bukan kasus yang pertama.
Kenapa Harus Nonton: Rustin Cohle. Ini orang wuanjing banget. Salah satu detektif favorit saya karena banyak hal. Antara lain: Ia tak suka tidur, tak suka berbasa-basi, dan tak percaya eksistensi agama. Plus, dia punya intuisi dan menganggap semua kasus yang ditanganinya tak harus dikejar dari data dan fakta.
Alasan lain, ini menjadi noir yang artsy. Mengingatkan pada ‘Hannibal’, plus scoring yang menghantui, macam serial-serial Eropa, ‘Les Revenants’, ‘The Fall’, dan ‘Broadchruch’. Dialog-dialognya tajam meski alurnya lambat banget. Tapi nggak bakal buang-buang waktu karena ini bukan semata kisah pengejaran kasus pembunuhan berseri. Ini juga drama tentang hidup di sebuah era yang depresif, dan tetang orang-orang yang mencari tanya, “Apakah kita perlu sebuah utopia?”
Pemanis Mata: Maggie Hart (Michelle Monagan), istri Detektif Martin Hart. Terutama di episode tiga, menit ke 29:00 (KILLERS’s version). Hehe.
Data Lain - Durasi: 60 menit. Rating: 1,6-2,3 juta penonton yang kangen Matthew dan Woody kembali ke layar kaca. Ponten IMDB: 9,4/10 dari 19.367 users. Ponten Mas Anang untuk The Moderntramp: “Wuasu kamu rek! Rustin Cohle juaranya, aku suka kamu! Aku mau semua polisi di dunia ini kayak kamu dan Tony Leung di ‘Infernal Affairs’. Pancen oye!”
HINTERLAND, 4 Januari 2014 (4 episodes, BBC One)
Tentang: Berjudul asli ‘Y Gwyll’ (seru ya, nggak ada huruf vokalnya), berkisah mengenai kasus pembunuhan Helen Jenkins. Di rumahnya ditemukan seretan darah dari kamar mandi hingga teras. Jasad Helen hilang diduga dibuang pelaku ke antah berantah. Detektif Tom Mathias (Richard Harrington) bersama timnya membuka tabir kasus. Dimulai dari fakta baru bahwa Helen pernah mendirikan panti asuhan di sebuah tempat yang dinamakan Devil’s Bridge. “Some would say, that the devil never left,” ujarnya tentang tempat itu.
Kenapa Harus Nonton: Terutama yang suka gaya nordic-noir, ‘Hinterland’ hukumnya wajib. Punya kelas yang sama dengan ‘Wallander’, ‘The Killings’, dan ‘The Fall’. Dingin, mencekam, karakter-karakter yang berekspresi lewat mimik, bukan hanya gestur. Juga kasus-kasus pembunuhan yang diselipi sodetan kisah tradisi kelam, cult, kelakuan yang menyimpang. Plotnya lambat memang, dan dialog-dialognya pun nggak sebagus ‘True Detective’, mungkin karena Mathias tak punya partner yang bisa dibully pandangan hidupnya macam Martin Hart. Tapi nggak ada salahnya untuk coba menonton. Meski mungkin, terutama untuk episode pertama, kau akan sedikit kesal dengan simpulannya. Banyak hal yang dibiarkan tak terjabarkan.
Pemanis Mata: Sian Owens (Hannah Daniel) sebagai anak buah Mathias yang paling nggak berguna di kultur kerja mereka. Semoga di episode selanjutnya ia diberi peran lebih banyak. Terutama, ...peran bercinta, yang kalau mengutip God Bless, bisa bikin kami mabuk kepayang. Wajar broh, dingin broh!
Data Lain - Durasi: 60 menit. Penonton: 350ribu penonton yang bosan dengan kisah detektif ala Hollywood. Ponten IMDB: 8,4/10 dari 141 users. Ponten Mas Anang untuk The Moderntramp: “Ya aku sih mau kasih kamu (Hinterland) kesempatan! Semoga di episode selanjutnya celah-celah yang muncul dalam penampilan kali ini nggak terulang.”
LOOKING, 19 Januari 2014 (HBO, 8 episodes)
Tentang: Tiga orang gay dan kisah cinta mereka. Seperti ‘Girls’, tapi isinya cowok-cowok. Patrick (Jonathan Groff), seorang video game designer yang baru ditinggal tunangan oleh kekasihnya. Ia punya masalah membina sebuah hubungan serius. “Paling lama cuma lima bulan,” ujar kawannya Dom (Murray Bartlett), seorang pramusaji wine di sebuah resto mewah. Ia sedang rindu kekasihnya yang kini hidup terpisah dan seolah mengabaikannya. Terakhir ada Agustin (Frankie Alvarez), gay paling gahar, keturunan Kuba, dan bekerja sebagai seniman. Kehidupan cintanya tak bermasalah, ia siap pindah satu rumah dengan kekasihnya, Frank. Hanya saja, kehidupan cintahnya terlalu absurd bagi kaum heteroseksual macam saya. Tonton saja sendiri, hati-hati bikin geli.
Kenapa Harus Nonton: Nggak harus juga sih. Namun setelah ‘gay parade’ marak tahun lalu (bahkan aktivisnya terpilih sebagai salah satu dari TIME’s 2013 People of The Year), saya merasa perlu memahami mengapa orang-orang begitu menaruh perhatian pada hubungan macam ini. Ternyata tak ada yang perlu diributkan, wajar-wajar saja. Dan saya jadi mahfum kenapa dulu ada teman kosan yang begitu perhatian. Lain kali saya nggak perlu takut, cuma perlu menjawab, “Enggak, makasih.”
Pemanis Mata: Nggak ada :((.
Data Lain -  Durasi: 30 menit. Estimasi penonton: 700-800 ribu orang yang berharap ini bisa jadi semacam ‘Sex and The City’ untuk lelaki, ...yang suka lelaki. Ponten IMDB: 7,6/10 dari 1.454 users. Ponten Mas Anang untuk The Moderntramp: “Wis, Geli toh aku nontonnya. Lucu sih digambari gay itu macem-macem, orang kulit yang suka main game, orang Kuba yang badannya tatto semua, orang kulit hitam tapi nggak hitam-hitam banget, orang Mexico gitu apa nyebutnya, Hispanik ya? Wis abis tinggal orang Jember aja masuk ‘Looking’ pasti aku tonton terus!”
THE SPOILS OF BABYLON, 9 Januari 2014 (IFC, 6 episodes)
Tentang: Eric Jonrosh (Will Ferrel) membuat sendiri serial yang diangkat dari novel laku kerasnya. Dibintangi bintang tenar Tobey McGuire, Kirsten Wiig, Tim Robbins, Michael Sheen, Joel Haley Osment (brilian!), Jessica Alba hingga Carey Mulligan. Ceritanya sederhana: tentang sengketa perusahaan minyak kayak antar dua orang anak Morehouse yang sempat saling jatuh cinta, Devon dan Cynthia.
Kenapa Harus Nonton: Kalau bukan parodi, ini kisah sampah. Hanya saja, konsepnya serial ini dibikin jadi sampah banget. Sangat nggak penting, tapi saking nggak pentingnya, kamu malah harus nonton. Sebab ini proyek ‘ambisius’ yang amat menghibur. Kalau bukan buat senang-senang, kenapa aneka bintang layar emas sampai harus mau dibayar murah untuk sempilan layar kaca ini. Kurang James Franco aja sih ini.
Pemanis Mata: Jelly Howie dan Jessica Alba yang baru muncul di episode empat. Kirsten Wiig yang model rambutnya lebih banyak dari jumlah episode dalam serial ini. Dan terakhir, Carrey Mulligan melakukan adegan seks eksplisit di sini, hihi.
Data Lain - Durasi: 30 menit. Estimasi penonton: 100-400 ribu orang-orang haus hiburan dan penggemar Jessica Alba. Ponten IMDB: 7/10 905 users. Ponten Mas Anang untuk The Moderntramp: “Wuasu! Ketawa-ketawa aku pas Laddy Anne York muncul. Syahrini tuh kayak gitu, palsu. Cetar memang, tapi buat apa kalau cuma manekin! Hahaha!”
KLONDIKE, 20 Januari 2014 (Discovery Channel, 3 episodes)
Tentang: Diangkat berbasis kisah nyata, tentang dua orang pemuda yang ingin cepat kaya dan menjadi penambang emas di Yukon, Kanada. Keduanya adalah Bill Haskell (Richard Madden, Robb Stark di ‘Game of Thrones’) dan Augustus Prew (Byron Epstein), mencari peruntungan ke ‘utara’ dan bertemu banyak karakter keras yang tak mereka lihat di kampung halaman mereka.
Kenapa Harus Nonton: Mungkin karena ini miniseri pertama Discovery Channel, penasaran seberapa epik. Dan (saya belum nonton pilotnya) tapi setelah dipindai, cukup berskala saga, openingnya mirip ‘Game of Thrones’. Kabarnya pun, karakter-karakternya amat kuat. Nanti kalau ada waktu luang dan antrian serial yang harus diikuti nggak banyak, saya mau nonton ini.
Pemanis Mata: Belinda Mulrooney (Abbie Cornish), membel ya, empuk gitu ngeliatnya di tengah musim dingin bintang utara di ‘Klondike’. Artis Australia ini bisa lho jadi Xena, kalau serial itu mau dibikin ulang. Saya dukung.
Data Lain - Durasi: 60 menit. Estimasi penonton: 0,8-1,1 juta penonton yang penasaran afterlife Robb Stark dan pecinta sejarah. Ponten IMDB: 8/10 dari 1.354 users. Ponten Mas Anang untuk The Moderntramp: “Aku nggak suka serial kolosal-kolosal dari Amerika kayak gini. Aku nonton cuma karena salah baca judulnya, aku pikir tadinya ‘Klonin’, ternyata ‘Klondike’. Btw, bener lho itu Belinda kayak Ashanty, membel! Itu aja sih alasan aku nonton.”
BITTEN & KILLER WOMEN, 7 dan 11 Januari 2014 (13 & 7 episodes)
Tentang: Dua serial terbaru yang mengedepankan sosok perempuan sebagai jagoan utama. Dalam ‘Bitten’ Laura Vandervoort jadi Elena Michaels, cewek blonde seksi yang bisa berubah jadi werewolf. Kisahnya berkembang karena sebelum pindah dan menyembunyikan identitasnya di Toronto, Kanada, ia pernah tinggal bersama sesamanya di kamp Stoneheaven bersama werewolf lain. Di ‘Killer Women’, Tricia Helfer jadi Molly Parker, jadi sheriff wanita satu-satunya di Texas. Jangkung, berotot, rambut pirangnya tergerai panjang, maklum dulu ia pernah jadi ratu kontes kecantikan. Namun ketika ia mengacungkan senjata, bolehlah para penjahat pria takut, sambil berdesir tapinya.
Kenapa Harus Nonton: Nggak harus kok, ini serial di ambang nilai merah dalam ponten IMDB. Saya suka nonton aja semua serial yang tokoh utamanya cewek, memberantas kebatilan. Dari zaman ‘Charmed’, ‘Xena: Warrior Princess’, dan Buffy the Vampire Slayer’. Saya soalnya feminis banget, tapi bohong. Hehe, maksudnya, saya suka aja liat sosok cewek tangguh. Titik.
Pemanis Mata: Ya jelas, dua tokoh utamanya. Terutama Laura Vandervoort kalau mau berubah jadi serigala. Beretika banget, harus buka baju dulu. Hihi, senangnya. Nah, kalau si Tricia Helfer ini mirip Anastasia di ‘Banshee’, perawakannya, gayanya, beda nasib saja.
Data Lain -  Bitten, Ponten IMDB: 6,7/10 dari 1.300 users. Ponten dari Mas Anang: “Aku kirain bakal sampah banget, ternyata selain punya Mbak Laura, ‘Bitten’ juga punya potensi jadi serial yang awet. Meski yang nonton nggak bakal spektakuler, karena susah Mas, saingannya banyak di pasar segmentasinya mereka.”
Killer Women, Ponten IMDB: 5,8/10 dari 737 users. Ponten dari Mas Anang: “Aku lebih suka Bitten kalau harus main banding-bandingan, dari urusan gelut di lapang sampai gelut di kasur!”
HELIX, 10 Januari 2014 (Syfy, 13 episodes)
Tentang: Science fiction! Tentang akademisi yang pergi ke Arktik untuk menginvestigasi penyebaran sebuah virus berbahaya bagi umat manusia di sebuah tempat penelitian di sana. Karena belum nonton dan dipindai pun, saya bayangkan ini akan jadi seperti ‘World War Z’, ya, zombie-zombiean juga. Diperkuat perkataan seorang kawan, ini tuh bisa jadi semacam awal mula kenapa ada zombie di ‘The Walking Dead’. UPDATE: Baru nonton, ...dan bagus banget, adiktif!
Kenapa Harus Nonton: Buat yang belum nonton (artinya ketinggalan enam episode, sampai tulisan ini diposting), kamu harus siap waktu luang yang panjang. Karena rasanya sulit untuk tidak melanjutkan, apa, yang, telah, ‘Helix’, tularkan, padamu.
Pemanis Mata: Kayaknya sih ya Kyra Zagorsky dan Jordan Harris boleh. Dua-duanya jadi ahli berstatus doktor. Ah, perempuan pintar dan cantik selalu bikin saya terintimidasi. UPDATE: Kyra, Kyra, Kyra, saya dukung dia, apalagi karena perannya di sini lebih vital dari Jordan Haris. Entah kenapa nama terakhir ini mengingatkan saya akan Kate Mara di ‘House of Spades’, menyebalkan, :)).
Data Lain - Durasi: 40 menit. Estimasi penonton: 1,3-1,8 juta penggemar science fiction. Ponten IMDB: 7,5/10 dari 3.939 users. Ponten dari Mas Anang untuk The Moderntramp: “Cerita kayak gini selalu bikin aku bingung, tapi orang-orang bilang jadi most anticipated series tahun ini. Tapi mau dipaksa nonton juga aku nggak ngerti. Yang aku ngerti, ya kisah-kisah cinta sederhana aja yang cuma begitu, ...tapi tak begini! *sambil nyanyi dan silang jari*”
FLEMING, 29 Januari 2014 (BBC America, 4 episodes)
Tentang: Entri terakhir ini masuk di detik-detik terakhir. Berkisah tentang biografi Ian Fleming, pengarang saga serial spionase James Bond. Dari kisahnya, kita akan mengetahui seberapa ‘Fleming’ seorang ‘Bond’ yang kita kenal kini, atau mengutip Lady Ann, “Itu hanya imajinasimu (Fleming) saja.” Dan mereka lalu bercinta. Ahh.
Kenapa Harus Nonton: Fleming adalah orang paling bertanggung jawab merevolusi gaya spionase di layar kaca. Apapun, tak hanya Bond, hampir semua mata-mata berakar dari apa yang ia tulis, dan lebih lanjut setelah menonton ini, ternyata bukan dari hanya apa yang dia reka, tapi ia alami.
Dan ohya, Dominic Cooper adalah salah satu aktor muda terbaik yang pernah saya saksikan. Terutama setelah The Devil’s Double, saya selalu ingin melihat ia punya karakter kuat dalam kisah lain. Alih-alih jadi Bond, ia malah diberi kesempatan untuk menjadi penciptanya.
Pemanis Mata: Dua obsesi saya jadi love interest Fleming di film ini. Lara Pulver, sosok Irene Adler dalam ‘Sherlock’ (aduh), dan Annabelle Wallis di ‘Peaky Blinders’. Keduanya menjadi karakter se’berbahaya’ apa yang pernah mereka tampilkan di seri sebelumnya. Oh, akhirnya kita pun tahu, mengapa Bond menjadi seflamboyan itu.
Data Lain – Durasi: 40 menit. Estimasi penonton: belum ada datanya euy. Ponten IMDB: 8,3/10 dari 208 users. Ponten Mas Anang untuk The Moderntramp: “My name is Bond, Mau Nge Bond. Orang ini yang bikin tiap aku mau ngutang (ngebon) di warteg dulu waktu belum sesukses sekarang bisa dilakukan dengan penuh gaya. Wuasu rek! (sambil tertawa renyah padahal lagi makan makanan kuah)”

#002
Delapan aja kali ya yang kena highlight. Sisanya sih masih ada beberapa serial lagi seperti ‘ENLISTED’ (mungkin kayak ‘Brooklyn Nine-Nine’ untuk para tentara; 6,9/10 dari 1.125 users), ‘INTELLIGENCE’ (mungkin kisahnya kayak ‘Homeland’, tapi latar waktunya di ‘Almost Human’; 7,1/10 dari 3.750  users), ‘BROAD CITY’ (sitkom yang diproduseri Amy Poehler), ‘RAKE’ (adopsian serial Australia plus Miranda Otto; 6,6/10 dari 445 users),  ‘BLACK SAILS’ (usaha Michael Bay memindahkan ‘Pirates...’ ke layar perak; 8,4/10  dari 1.838 users ), dan ‘THE ASSETS' (pengen nonton karena ada Jodie Whittaker, cuma kayaknya mirip ‘The Americans’ banget. Sulit pindah ke lain hati dari Mbak Keri Russel, < 3; 6,6/10 dari 361 users), serta hampir lupa, 'THE MUSKETEERS' (masih belum bisa move-on dari film terakhirnya sih; 7,9/10 dari 1.838 users).
Sekian yang bisa saya laporkan dari klimaks serial baru (yang lama-lama pun masih bikin multiple orgasm, ‘Sherlock’ dan ‘Community’, season anyar!) di Januari. Sampai jumpa di bulan berikutnya dengan pilot serial-serial lain, mari menonton! Cheerio!
/
Ditulis oleh Mohammad Andi Perdana dan Anang ‘Los’ Hermanos untuk The Moderntramp, Februari 2014. “Apa serial baru favoritmu rek?”

Monday, 3 February 2014

TAHUN ANJING

via Jacyn Conley (from piccsy)

1
Mankind is like dogs, not gods - as long as you don't get mad they'll bite you - but stay mad and you'll never be bitten. Dogs don't respect humility and sorrow.Jack Kerouac

Sayangnya kamus modern belum mendefinisikan hal ini: ‘Anjing!’ tak selalu umpatan kekesalan. Dalam beberapa hal, ‘anjing!’ juga ungkapan kekaguman. Jelas ini perlu saya terangkan lebih dulu. Agar tak ada yang tersinggung bila saya menyebut 2013, sebagai ‘Tahun Anjing!’.
Tahun yang mengesalkan, ya. Warsa yang mengejutkan, ya. Sekaligus pun menjadi 365 hari yang patut disyukuri. “Anjing!” saya kesal sekaligus berterima kasih untuk semua yang terjadi di 2013. Kesal untuk tiap hal buruk yang terjadi. Bersyukur untuk segala kebaikan yang datang sendiri maupun mengiringi kekesalan itu.
Kakek meninggal, Bapak tak kunjung bisa diajak ngobrol, motor hilang, rotasi kerja mandek di satu kompartemen, tempat nongkrong favorit tutup, update blog seret. ‘Anjing!’ kan? Saya sempat sampai di satu titik menjuluki tahun lalu sebagai ‘tahun kehilangan’. Sebelum membandingkan dengan banyak cerita dan kisah lain yang saya temui, skala ‘kehilangan’ ini belum ada apa-apanya. Meski kita sama-sama tahu, tak pernah manusia bisa membandingkan satu sama lain. Jadi ya tetap kok, ini ‘tahun kehilangan’ saya, tapi tak harus jadi palka duka. Toh, ‘hanya’ hilang, bukan sirna. Nanti juga dipertemukan kembali, meski mungkin, dalam dimensi, wujud, dan rasa yang berbeda.
Tapi 2013 tak membiarkan saya menerus murung. Beberapa teman datang, bercengkerama, dan membagi kisahnya. Saya senang, senang sekali mendengarkan kisah tentang apapun. Beberapa membuat terpingkal-pingkal, beberapa lainnya mengejutkan, beberapa menyebar kisah pilu dan kadang sedihnya menular. Saya memandang mata tiap mereka bercerita, dan melihat keterbukaan di sana. Bahasa sastra ala-alanya: ‘Ku / melihat danau lapang yang tenang / tetapi beriak / di hampar matamu’, dih~.
Saya senang menjadi tempat orang-orang melabuhkan cerita. Itu indikator saya berguna dan dipercaya orang lain. Saya butuh itu. Dan di tiap dermaga cerita, sebisa mungkin saya memberi hiburan (semoga lucu ya), mengkritik (semoga nggak asal jeplak ya), dan memberi sedikit bekal untuk perjalanan mereka selanjutnya (semoga berguna ya). Terima kasih untuk banyak pertemuan ‘Anjing!” yang menyenangkan, sangat saya syukuri. Seorang kawan pernah berkata, “Kebahagiaan tak pernah bersumber pada satu hal.” Dan tahun lalu, saya mempercayai itu setelah menemukan banyak mata air baru.
Tahun lalu untungnya pun sempat bervakansi. Ini obat paling mujarab untuk jenuh. Naik motor mewah ke nikahan seorang teman di Solo, Jawa Tengah. Rindu pun, terakhir berkendara jauh ya perjalanan ke Bali itu, tahun baru 2009. Untung ternyata masih kuat dan punya cerita menyenangkan (meski partner kali ini rewelnya minta ampun, xp).
Yang paling ‘Anjing!’ di 2013 sih seorang teman akhirnya menemukan tambatan hati. Senangnya! akhirnya setelah melajang sekiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan lama, haha. Mendengar ceritanya untuk kali pertama malah bikin pipi merona sendiri, :)). Selamat untuk kalian berdua, tak ada yang lebih berharga ketimbang menjadi magis bagi satu sama lain. Kalau kata Kahlo kan, “You take a lover who looks at you like maybe you are magic.” ‘Anjing!’ emang kalian, :)). 
2
‘Anjing!’ itu kini bak kata yang ‘gemini’. Punya dua sisi yang komplementer di satu raga. Lewat beranjing-anjing saya bisa mengumpat namun tak lama kemudian tersenyum. Banyak hal lain yang bikin kesal, namun pun bersyukur dibikin kesal. Karena dunia, bagi seorang Libra seperti saya harus setimbang rata baik-buruknya, susah-mudahnya, dan sedih-senangnya. Begitulah Libra, atau mungkin saya saja, selalu ingin menjadi orang paling bisa diandalkan untuk mencari silver lining dalam tiap masalah, tapi juga kelewat khawatir malah kalau terlalu lama bahagia. Tapi itu bukan alasan untuk menikmati apa yang terjadi pada saya saat ini, dalam keadaan yang seburuk-buruknya, sesusah-susahnya, dan sesedih-sedihnya. Toh, mengutip sebuah dialog di komik yang saya lupa judulnya apa, “Life is a series of unique opportunities. It’s our job to find the happiness in each one.”
Kepada seorang teman saya berkata, “Suatu saat, entah kapan itu akan datang hal-hal yang tak kau mengerti bisa terjadi padamu.” Bila itu tiba, jangan pernah berhenti untuk mencari dan memahami. Karena dengan cara itu saya bertahan, menikmati dan memperjuangkan tahun lalu. Bertahan dan menikmati, demi diri sendiri. Berjuang, untuk suatu hal yang memang layak dan mau diperjuangkan. Mereka yang membuat saya terus percaya, mengerti, juga berbesar hati.
Tahun berganti, umur pasti bertambah. Kedewasaan belum tentu sepadan melaju dengan hari yang dijalani. Dan bila bisa mengambil secuil momen di 2013, saya bisa menyebut apa yang telah saya sampaikan di paragraf sebelumnya sebagai: 'proses pendewasaan'. Ya, saya tahu itu masih akan terus berlangsung, malah mungkin ini baru awalnya saja. Dan karena itu  saya tak mau menyerah dengan warsa yang hanya memakan usia, membuat kita hanya menjadi lebih tua.
Selamat menikmati sebelas bulan tersisa di 2014. Semoga tetap menjadi ‘Tahun Anjing!’ yang mendewasakan untuk kita semua, :).

2014.

Thursday, 22 August 2013

DONGENG SEUSAI LELAP

#001
Dan kita, akan selalu percaya pada dongeng-dongeng. Hmm ya seperti yang sering kuceritakan padamu sebelum tidur. Cerita-cerita yang hampir selalu tak usai. Karena lelap lebih cepat membalap.
Dan aku, beranjak. Kau kaget membelalak, butuh tiga detik untuk berkata, "Tadi sampai mana ceritanya?" Padahal matamu masih setengah terbuka. Kubilang sudah beres saja, biar cepat perkara.
"Hooooo," kau lelap seperti yang sudah kuduga, semenit kemudian, sudah biasanya. Aku harus menunggu, hingga posisi tidurmu melingkar dan kecil mendengkur. Tanda lelapmu, lengkap dengan wajah yang menggelikan itu.
Kadang aku khawatir kalau sudah lelap, urat-urat di lehermu berdebar cepat. Katamu suatu waktu, "Tak apa memang begitu." Aku berpikir lagi, bagaimana kau bisa tahu apa yang terjadi padamu saat tertidur. "Hahaha!" 
Dan aku baru benar-benar, bisa beranjak setelah itu. Menggaruk-garuk rambut, menggeleng sambil tersenyum karena banyak hal. Kuselimuti kau dari kaki hingga kepala. Agar malaikat tetap khusyuk berdoa untukmu, tak hilang konsentrasi karena melihat, --sekali lagi-- wajahmu yang menggelikan saat tertidur.
Ah, pasti aku pun jauh menggelikan. Mungkin, menjijikan, ah jangan, jangan sampai. Maka sejak saat itu kuputuskan, aku tak ingin tidur lebih cepat darimu.
Juga karena alasan lain. Adalah kesenangan melihatmu berbaring di tempat yang kau bilang paling aman. Adalah ketenangan, melihat kedamaian tubuh yang terlelap, setia menunggu jiwa yang melanjutkan kisah fantasi di alam mimpi.
Selamat tidur, sampai bertemu esok hari, dan giliranmu bercerita untukku, dongeng seusai lelap, X) X) X).