Saturday, 17 May 2014

REN(T)JANA KYRIE

1
"Depresif ya Kay ternyata. Bukunya sih belum sempet dibaca. Tapi filmnya udah kutonton semalem," ujarku menyambut kedatangan Kyrie yang terlambat setengah jam. Alasannya terjebak hujan. Padahal kan bukannya hujan hanya membasahi? Manusia saja yang ingin terjebak di rintiknya, entah romansa atau trauma. Banyak alasan untuk terjebak dalam hujan.

"Apaan?" ujar Kyrie sambil membuka mantel berwarna cokelat tua yang basah di bagian bahu. Mantel ini hampir dipakainya tiap hari pada musim hujan. Sehingga katanya dengan tameng kain tebalnya itu, ia tak perlu lagi repot membawa payung.

"Norwegian Wood!" Aku menyebut novel karya Murakami yang legendaris itu. Yang malah baru ingin kubaca setelah menonton filmnya. Rinko Kikuchi hampir dibugili di sana, meski aku jauh lebih tertarik pada Reika Kirishima yang memerankan tokoh Reiko.

"Astaga! Belum juga dibaca juga.Udah hampir setahun juga aku pinjemin. Balikin aja ah kalau nggak dibaca-baca. Awas balik-balik novelnya keriting." Ia tak pernah meminjamkan novelnya pada orang lain. Aku adalah pengecualian karena pertama, kami kenal lama, kedua, aku memberi tahu novelnya ada di tanganku dua minggu setelah aku diam-diam ambil dari rak buku di kamarnya. Akhirnya ia ikhlas meminjamkan, itu pun dengan catatan, bukunya tak boleh cedera satu depa pun kala pulang ke raknya.

"Ya nggak lah, aman. Hahaha," ujarku sambil kembali memandangi komputer jinjing yang menemaniku saat menunggu keterlambatannya. Bola mataku bergerak-gerak sambil menaik-turunkan alis, hidungku kembang kempis. Padahal tak ada yang sedang kukerjakan.

"Curiga deh. Ilang ya? Bilang?" Ia menatapku tajam, pandangannya mengiris keningku yang mulai berkerut. Suaranya nyaring kalau sudah mengancam.

"Enggak, ahaha, ahahaha. Iya deng, ilang novelmu iya yang merah. Nanti kuganti deh, janji! ...Eh, atau kudownload aja PDF-nya, mau gak? Ya, ya, ya? Haha, aduh," bola mataku makin bergerak liar. Ingin rasanya bersembunyi ke gelap dan berputar 180 derajat, ke dalam lunar mare. Andai  bisa.

"Aaaah! Enggak mau. Gantiin!" Ia menangkap basah sebelum bola mataku sempat bersembunyi. Ia mendumel karena buku yang hilang terbilang langka. Cetakan pertama Norwegian Wood yang diterbitkan dua seri oleh Kodansha English Library, tahun 1989. "Mati!" ujarku kala menyadari satu dari sepaket novel yang kupinjam darinya hilang. Untung satu lainnya masih selamat. 

"Iya, iya nanti kucari sampai ujung dunia. Rrr, rrr," ujarku merasa bersalah sambil pura-pura mengemeretakan gigi dan memberi pandangan bintang-bintang, meminta iba. Ia melepaskan pandangan tajamnya dariku, mengangguk sedih. Kutahu ia tak bisa lama-lama marah padaku.

“Padahal kan dunia nggak ada ujungnya, Kay,” ujarku berbisik pelan, hihi.

2
"Tapi hubungan Toru (Watanabe) sama Naoko di sana itu seru lho. Kok bisa ya mereka bisa nahan untuk cerita sekian lama tentang Kidzuki?" ujarku mengalihkan pembicaraan. Ia sibuk memesan menu, sambil mendamprat pelayan yang kikuk mendeskripsikan pesanannya. Kasihan.

"Eh sebentar. Kidzuki itu yang mana?" tanyanya.

"Lah, katanya udah khatam, gimana sih?" ujarku mencoba mencairkan suasana. Riskan juga sih takutnya dianggap mengejek.

"Aku bacanya kelas satu SMA, udah lupa. Kidzuki yang mana ya?" tanyanya lagi.
"Temen Naoko dari kecil. Yang mati bunuh diri itu lho,"
"Aaaaah, ya, ya," muka tegangnya mengendur, layu, dan berkabung. "Iya, sedih."
"Eh tapi, kok seru? Apanya?" tanya Kyrie.

"Ya gitu. Tiba-tiba mereka ketemu lagi kan. Setelah sempat kepisah gara-gara tragedi Kidzuki itu. Dua-duanya rindu. Dua-duanya sedih. Eh tapi pas ketemu bisa seru lagi gitu. Bisa berdamai aja gitu dengan masa lalu mereka. Seolah cerita yang dulu bukan lagi hal-hal penting yang perlu dibahas," ujarku memberi alasan.

"Iya, tapi apa serunya?" Ia, lagi-lagi bertanya.

"Ya itu, kemampuan mereka untuk berdamai dengan masa lalu. Depresif banget coba kamu bayangin, temenmu dari kecil, tiba-tiba bunuh diri. Lah aku misal, kamu pasti sedih banget. Nih coba langsung kupraktekkin,” ujarku sambil mencoba menggapai tubuhnya, dan pura-pura nggak kena. “Kay, Kay, kamu denger aku nggak? aku mau ngomong sesuatu,” ujarku pura-pura jadi hantu. “Sedih kan, ngomongnya harus pake perantara kayak di film 'Ghost'," ujarku sambil mencoba menepuk bahunya, tapi lagi-lagi pura-pura gagal, karena dimensinya (ceritanya) beda. Seolah benar kalau aku ini mati, dan yang berbicara dengannya adalah hantuku.

"Shht ah, berisik!" Ia melirik ke meja sebelah, ada seorang wanita duduk sendiri sambil memesan es kopi hitam. Mungkin menunggu temannya yang terjebak hujan sepertiku sejak satu jam lalu. Wanita itu, wajahnya mirip sekali dengan Whoopi Goldberg. Aduh, aku sekuat tenaga menahan tawa. Mungkin ia tak sendiri di sana, bisa jadi ia sedang duduk bersama Patrick Swayze. “Makanya jangan sok-sokan maen-maenin ‘Ghost’!” ujarnya berang tapi sambil menahan tawa. Aku mengangguk.

"Kan Naoko nantinya nggak seberdamai itu sama masa lalunya. Iya nggak sih, aku lupa?" ujarnya mengajakku kembali berbincang tentang novel itu.

"Iya sih, kan di tengah-tengah Toru terus nanya. Penasaran dulu Naoko sama Kidzuki gimana. Sampai ketahuan kalau ya dua-duanya lebih dari sekedar teman. Naoko keinget lagi, depresi lagi, Toru nenangin lagi, keinget lagi, depresi lagi. Gitu aja siklusnya."

"Sekadar! Terus tadi juga praktik, bukan praktek!" ujarnya meralat. Satu hal yang aku sebal darinya, selain keras kepala, adalah kebiasaannya untuk menjadi polisi kata. Sampai-sampai tadi ketika memesan es teh manis, ia sampaikan pada pelayan kikuk yang kena semprotnya, "Gulanya, ala kadarnya aja ya." Aku tahu si pelayan sebenarnya bingung, tapi tak lagi berani bertanya.

"Ya artinya nggak ada yang berdamai dengan masa lalu dong di sana?" ujarnya melanjutkan pembicaraan,  dan lagi-lagi bertanya.

"Iya sih ya. Haha, maksudku awal-awalnya gitu kan. Seru aja tapi tetep. Eh tapi gini lho, maksudku tadi mau nanya gini, penting nggak sih kita berdamai dengan masa lalu?"

"Konteksnya?" Dia malah balik bertanya.
"Ya kayak Toru tadi, kalau dia bertahan buat berdamai dengan masa lalu Naoko, ya aman. Bisa seru terus apa yang mereka jalanin."

"Tapi di satu momen, Toru ngerasa perlu nuntasin segala kepenasarannya dengan minta klarfikasi semua dari Naoko. Dan ya, dia tahu sendiri resikonya... (menahan tawa) Meski ya nanti kita tahu kan yang lebih banyak nanggung bebannya, tetep Naoko," ujarku menjelaskan

"Ya kan katanya beberapa hal yang nggak kita tahu, katanya nggak bakal bikin kita ngilu. ..."
"...Tapi beberapa orang milih buat ngilu, karena mereka sangat ingin tahu, dan mereka nganggap itu penting."
"Jadi buat apa tahu? Apa pentingnya tahu? Apalagi kalau cuma buat bikin ngilu,"

"Ah, kamu kenapa jadi nanya balik muluk," ujarku sedikit kesal, meski ia ada benarnya. Karena aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.

"Buat apa?" ia kembali bertanya, menegaskan.
"Ya, buat apa ya. Ya udah itu, buat ngilu kan, haha. some people can get addicted to a certain kind of sadness. Hahaha, tapi auk ah, ya tanya Toru lah jangan ke saya."

"Ya kamu juga tahu kan gimana akhirnya di sana. Toru akhirnya tahu, penasarannya tuntas. Ia ngilu keras. Tapi toh kan bukan dia yang berakhir tragis di sana?" ia menanyakan satu hal yang kami berdua sudah tahu jawabannya.

"...," aku tak tahu harus bicara apa, mungkin bingung. Tapi mengerti kok, mengerti. Dan aku tahu akan ke mana arah perbincangan ini.

"Kamu tahu kamu ngilu. Tapi bukan berarti orang yang menceritakan semuanya padamu, nggak lebih ngerasa ngilu dari kamu," jawaban Kyrie ini bak pecutan terpedas bagi orang yang terlalu ingin tahu seperti saya. Orang yang sangat ingin tahu, sangat sok tahu, tapi mengakuinya selalu malu.

"Kok aku?" kini giliranku yang bertanya.
"Ini soal Sekar lagi kan?" Ah, nama itu. Terkaan Kyrie. Setelah terdiam beberapa saat, aku tak bisa menahan lebih lama untuk tidak mengangguk.

3
Aku tak berkata-kata. Kembali pura-pura sibuk di depan laptop. Kulirik sedikit, Kyrie tampak sedikit bersalah. Meski tidak, sama sekali ia tak salah. Ia selalu tahu kemana kailku memancing. Apalagi untuk banyak perbincangan  beberapa bulan terakhir. Aku selalu butuh Mori untuk meredakan keresahan yang menggenang entah di bagian mana dalam tubuhku, sehingga kadang sulit rasanya untuk bernafas.

Dan ia selalu berhasil untuk sedikit mengurasnya.  Selalu berhasil untuk menahanku untuk tidak menumpahkan segalanya pada Sekar. Hanya akan membuatnya duka dengan cara yang sudah kuduga, sesuai jawabannya: menorehkan luka.

Bingung menanganiku, ia tanpa pamit pergi ke kamar kecil. Ia berlalu dengan sepatu boots barunya, belum sempat kupuji betapa maskulinnya ia mengenakan itu. Dipadu dengan tas punggung hitam polosnya yang sederhana, membonceng di balik bahunya yang bidang, dalam balutan mantel cokelat yang hangat. Saat itu aku menyadari jangan lagi terlalu banyak bicara. Ia sedang ‘ada tamu’. Selalu saja begitu dari dulu kubilang bawa pouch kecil untuk menyimpan pembalutnya. Jadi tak perlu repot bawa seluruh tas untuk ganti pengaman di tempat umum seperti ini. Ia tak pernah berubah, selalu keras kepala.

Kyrie Amori dan aku seperti Naoko dan Kidzuki, kami mengenal sejak kecil. Tapi kami hanya berteman, tak pernah dan tak berpikir lebih dari teman. Kata orang-orang, "Belum saja." Tapi kami yakin itu. Dan tak ada hal yang salah di luar keyakinan kami berdua.  Ia dan keluarganya pindah ke komplekku pada saat umurku sembilan tahun. Rumahnya selempar bidak kuda catur dari rumahku. Setahun lebih kukira ia lelaki. Karena postur dan potongan rambutnya. Juga karena ia tak pernah menolak ketika kuajak bermain bola.

Aku baru kaget, ketika masuk SMP yang sama, ia memakai rok biru tua ke sekolah. Buah dadanya pun mulai menonjol. Tak hanya kaget, pun takut. Baru pertama kali aku melihat perempuan selaki-laki ini. Baru kutahu belakangan, tomboi istilahnya.

Di SMA, kami mulai dekat karena ia merasa tak nyaman dengan teman-teman wanitanya yang dianggap terlalu ceriwis. Sementara ia tak suka berbasa-basi. Ia mengetuk pintuku setiap pagi dan kadang sarapan di rumah sebelum pergi sekolah. Kami berangkat naik motor. Sekali-kali kuizinkan ia yang mengendarai.

Di sekolah kami saling mengenalkan sebagai sepupu. "Biar orang nggak mikir macem-macem," ujarnya. Meski kadang itu tetap jadi masalah. Beberapa pria urung mendekatinya, karena dipikirnya Kyrie ada apa-apa denganku. Begitu juga sebaliknya kuadrat. Kuadrat karena setiap aku mencoba mendekati teman wanita di SMA, banyak yang beralasan, "Nggak enak sama Kyrie ah," ujar salah satu dari sekian banyak mereka. Kutegaskan kami tak ada apa-apa. Kami cuma sepupu. Atau kadang kalau sedang jahat, kubilang Kyrie tak doyan lelaki. Mereka tetap tak mau mengerti. Belakangan aku menyadari bahwa alasannya bukan karena Kyrie, gadis-gadis itu memang tak mau saja denganku.

Lulus sekolah, kami satu kampus lagi. Satu universitas dan sempat satu kelas selama setahun. Semester ketiga ia mengambil Jurusan Jurnalistik hanya karena jaket almamaternya paling macho. Sementara aku masuk jurusan Manajemen Komunikasi, karena awalnya kupikir di Jurnalistik, ceweknya nggak ada yang ciamik. Aku senang melihatnya tumbuh dewasa, dan menjadi cantik dengan caranya sendiri. Kata seorang temanku di kampus yang naksir padanya, "Cantik yang macho-macho gimana gitu." Aku bingung kadang, berarti kalau begitu ada pula lelaki yang 'ganteng tapi feminim-feminim gimana gitu'. Ah, kenapa juga kupikirkan!

Belajar dari pengalaman masa sekolah. Kami mulai menjaga jarak di kampus. Tak perlu menjaga jarak pun tak masalah baginya. Baru kutahu saat itu, Kyrie bukan tipe wanita yang percaya komitmen dalam berhubungan. “Ya udah temenan aja, nggak harus pacar-pacaran,” ujarnya padaku saat kutanya tentang seorang lelaki yang sedang mendekatinya. Hingga lulus pun, tak ada satupun mahasiswa, bahkan dosen yang nyangkut di hatinya. Sementara aku di tahun ketiga bertemu Sekar. Setelah itu hubungan kami seperti sedia kala, tak lagi perlu menjaga jarak. Tak ada yang perlu dihindari lagi. Sekar pun amat menerima Mori, vice versa. Kadang aku iri, karena Sekar tampak lebih perhatian pada Mori, begitupun sebaliknya. Aku langsung mengingat perkataanku zaman sekolah dulu. "Mori kan nggak suka cowok!" Mengingat itu aku langsung berdoa saban malam agar candaan jahat itu tak dihitung tuhan sebagai harapan.

Kyrie Amori. Namanya diambil dari tiga bahasa asing. 'Kyrie' dalam bahasa Yunani artinya 'tuhan'. Katanya terinspirasi dari lagu Mr. Mister, "Kyrie Eleison" Kami berdua selalu menyanyikannya saat karaoke bersama teman-teman satu geng di kampus. Liriknya kami plesetkan menjadi, "Carry a laser down the road that i must travel." Sambil pura-pura memegang pistol imajiner dan menembaki hadirin-hadirot jemaah karaoke lainnya.

Nama belakangnya pun kusuka. Paduan dari "Amor", dan "Mori". Amor dalam bahasa Spanyol adalah 'cinta', Kyrie menyebutnya dengan istilah ‘hantu’ karena ia percaya hal itu ada tapi tak pernah bisa dilihatnya, dan hal itu selalu membuatnya takut. Sementara itu Mori, diambil dari Bahasa Jepang, artinya 'hutan'. Akan sangat lucu bila pada 1987, tahun kelahirannya, Norwegian Wood tak pernah terbit. "Tadinya aku mau dikasih nama, Kyrie Amor aja. Nggak tahu itu beneran apa becanda. Tapi geli banget, kayak ‘Por Tu Amor’ dong masa. Untung aja diselamatkan Murakami," ujarnya suatu waktu.

‘Norwegian Wood’ yang dikarang Murakami berjudul asli 'Noruwei no Mori'. Ia berutang banyak pada buku ini, namanya jadi cantik dan penuh makna. Kyrie Amori.  "Artinya, dalam hutan, aku menemukan ‘hantu’ dan tuhan. Dalam tuhan, aku menemukan ‘hantu’ dan hutan. Dalam ‘hantu’, aku menemukan tuhan dan hutan."

Ia selalu memberi alegori pada kata-kata dalam namanya itu. 'Hutan' adalah kehidupan, 'tuhan' adalah kematian, dan cinta, atau istilahnya yang lain, ‘renjana’ adalah rencana. "Mori menuju Kyrie, harus dibimbing oleh Amor." Itu yang selalu membuatnya tenang, mampu berdamai dengan situasi apapun. Pun memberikan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. "Dengan mencintai hidup, kamu tak perlu membenci kematian." Ya, setiap orang takut mati, tapi untuk apa membencinya, kata ia. Cintai saja hidup, semoga kematian juga mencintaimu kelak.

Motto yang selalu kudebat, karena menurutku bagaimana orang bisa tak membenci suatu hal yang merebut apa yang dicintainya. "Kalau tiba-tiba kamu dapat lotere, satu miliar misalkan. terus kurampok kamu besoknya, terus kamu aku bikin mati. Apa kamu tak akan membenci kematian?"

"Aku hanya akan membencimu." ujarnya ringan, karena jelas tahu bahwa aku jauh dari serius. Tapi kadang kalau sudah kesal dan terus kutekan kala berdebat tentang hal itu, ia selalu lari ke pertanyaan yang akan ia jawab sendiri ini:

"Kamu punya barang berharga, lalu seseorang mencurinya darimu. Siapa yang akan kau benci? Pencurinya?" tanya Mori yang disambung dengan jawabanny sendiri.

"Kalau aku. Aku hanya akan membenci diriku sendiri karena kelalaianku," ujarnya. Balik kesal, aku langsung mengambil tahu mayo yang masih hangat dari tangannya. Tepat ketika ia hendak menyuapkan itu dalam mulutnya yang sudah menganga besar. Hendak dilahapnya itu mungkin dalam sekali telan.

Dia tertawa pasrah sambil berkata, "Aaah, aku benci kelalaianku. Udah sini balikin aku laper banget," ujarnya sambil memasang muka sedih. Menopang tangannya di dagu, dan gantian memberi pandangan bintang-bintang kepadaku.

“Kamu sadar nggak sih tadi aku ngomong resiko pake 'e' kok tumben nggak rewel?” tanyaku usil. “Aku tahu dari hidungmu yang suka tiba-tiba kembang kempis itu, kapan kamu sengaja ngisengin atau beneran serius salah! Ngapain juga kutanggepin.”

“Ah, udah ah sini balikkin kamu tahu kan kenapa aku suka makan tahu mayo di sini? Karena porsinya pas, jadi kalau kamu ambil satu, mending empat sisanya nggak aku makan daripada ntar kenyangnya nanggung,” ujarnya memohon.

Aku lebih sibuk memerhatikan hidungku dengan ujung mataku. Benar juga ternyata kalau sedang usil, hidungku kembang kempis. Hrr, aku tak suka jika orang lain lebih paham tentangku daripada diriku sendiri. Kyrie masih berisik memohon aku agar mengembalikan cemilannya. Mataku bangkit dan menatapnya tajam. Hidungku sengaja kukembang-kempiskan lebih kuat.

Yyuuummmm! kulahap tahu mayonya dan ia sekuat tenaga mencoba menggigit lenganku.

/

‘Ren(t)jana Kyrie’ ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk The Moderntramp pada Januari 2014. Merupakan bagian entah ke berapa dari cerita panjang yang berjudul sementara ‘Suar Sekar’. Sebuah fiksi

Tuesday, 13 May 2014

TRA-TRA-TRAILERS

1
Dua minggu terakhir banyak banget ya trailer serial-serial keluar (tjrot!). Ada ‘Gotham’, 'Constantine', ‘Wayward Pines’, ‘Last Man on Earth’, ‘Gracepoint’, ‘A to Z’, sampai ‘Utopia’. Di Gotham, seru banget liat Benjamin McKenzie alias Ryan Tokwood dari The OC tampil lagi di serial yang punya kelas. Di sini, ia berperan sebagai James Gordon brondong, sebagai tokoh utama, menceritakan asal-muasal Gotham sebagai kota kriminal tempat kelahiran Batman. Dari dunia komik ada trailer lain dari 'Constantine', cuma untuk sekarang saya masih belum tertarik.

Wayward Pines’ muncul dengan trailer yang memamerkan trofi aktor-aktor dan artisnya, ada Matt Dillon, Mellisa Leo, dan Terrence Howard, semua pernah jadi nominasi Oscar. Semoga serial yang diproduseri oleh M. Night Shyamalan (duh!) ini punya greget lebih tinggi ketimbang serial sejenis macam ‘Under The Dome, ‘Resurrection’, atau juga mungkin ‘Helix’. Orang-orang sih berharapnya ini bakal jadi ‘Twin Peaks’, saya belum nonton euy.

Last Man on Earth’ juga kayaknya seru. Butuh upaya teknis lumayan lho untuk menghilangkan jutaan orang dalam trailernya yang mencakup sejumlah landmark terkenal di dunia, tanpa manusia. Kecuali Will Forte, satu-satunya tokoh dalam serial ini. Di ‘A to Z’, The Mother hidup lagi menjadi Zelda, menjalin romansa dengan karakter bernama Andrew. Trailer serial yang dibikin oleh Rashida Jones (ex Parks and Recreation) ini banyak banget memanfaatkan momen kemunculan efektif Cristin Milloti di ‘How I Met Your Mother’ lewat-lewat dialog dan skena yang antara lain misal, “Zelda, have you met Andrew?” atau ketika mereka berdua ngobrol di bar dan bercerita bagaimana bila kelak menikah mereka akan menceritakan kisahnya pada anak-anak mereka.

Yang seru adalah, ‘Gracepoint’, versi Amrik untuk salah satu serial favorit saya (dan nggak banyak yang nonton tapi, sedih) ‘Broadchurch’. Dari trailernya ini bener-bener plek-plek ambil banyak referensi dari ‘Broadchurch’. Dari mula nada warna, latar, adegan, sampai tokoh utama. Saya suka bayangkan lucu saja gimana rasanya David Tennat kembali harus memerankan karakternya di dua serial berbeda dengan cerita yang plek-plek sama. Ohya, ada Anna Gun (Skylar di ‘Breaking Bad’) di sini, yakin banget saya ia bisa menyamai akting brilian Olivian Colman di ‘Broadchurch’. Tapi sisanya masih perlu disimak nanti di pilotnya.

Terakhir, ‘Uuuuuuutopia’, serial favorit saya lainnya, mau dibuat ulang oleh David Fincher dan Gillian Flynn (my current crush, aak, < 3). Bingung juga kok udah ada lagi trailernya, hhh~, hh~, h~ tak sabar lihat versi Fincher untuk ‘Utopia’ (meski pernah kecewa gara-gara bikin jelek Rooney Mara di ‘Girl with Dragon Tatoo’, phbt!). Pas disimak trailernya, eh, lho kok, ...ternyata ada ‘Utopia’ lain, fak lah. Makanya aneh banget kok ‘Utopia’ tapi kok kayak ‘Siberia’, faklah, faklah, fak, fak.

Dua serial terakhir, ada baiknya ditonton dulu sebelum versi Amriknya keluar, nggak bakal nyesel dijamin deh. Sisanya, ya disimak aja dulu trailernya dan tunggu kapan tanggal serial-serial itu dirilis secara resmi.

/

Ditulis oleh Btok untuk The Moderntramp di Jakarta, 12 Mei 2014

Thursday, 10 April 2014

SILICON VALLEY - MIKE JUDGE (2014)


1
Pada 1987 (tahun ketika saya lahir, bro), Mike Judge sudah lulus SMA dan mulai bekerja selama tiga bulan di lembah terbesar korporasi teknologi mutakhir, yang kini dikenal dengan Silicon Valley. Hanya tiga bulan, ia sudah tak kerasan. “The people I met were like Stepford Wives. They were true believers in something, and I don't know what it was,” ujarnya.
26 tahun berselang, Mike memetakan kembali kultus itu dalam ‘Silicon Valley’, sebuah sitkom satir terbaru garapannya untuk HBO. Richard Hendrix (Thomas Middleditch) adalah programer yang bekerja di sebuah perusahaan multi-teknologi, Hooli, sekaligus sibuk menggarap  aplikasi Pied Piper, yang ia klaim bak Google untuk blantika musik. Richard tak puas hidup sebagai kuli binary, ia masih ingin mengejar mimpinya sebagai techpreneur muda yang punya nama. Ibarat Steve, ia ingin menjadi Wozniak, ketimbang Jobs, Steve yang dinilainya lebih punya esensi ketimbang piawai bersosialisasi. Sebab menurutnya, golongan kedua, adalah poser, dan Silicon Valley kini penuh dengan orang-orang macam itu. Ia muak dengan tren yang berkembang di sana, rapat marketing di atas sepeda pawai, rutinitas brogrammer (programer yang doyan ngegym) atau ritual aneh lainnya yang tak bisa Richard cerna dengan logikanya. Mike Judge, melalui Richard dan Pied Pipernya, mengajak kita untuk menertawakan hal tersebut.
Pied Piper, rupanya punya alogaritma bagus yang memaksimalkan sistem kompresi dalam pengunggahan file ke dunia maya (impresi yang setara dengan apa yang disajikan David Fincher di ‘The Social Network’). Entah apa resepnya, yang pasti, proyek sampingan pekerja Hooli itu jadi rebutan dua tech-bilyuner, Peter Gregory (Christoper Evan Welch, meninggal akhir tahun lalu, gimana dong, :s) dan bosnya sendiri Gavin Belson (Matt Ross). Embrio proyek itu ditaksir bernilai hingga US$ 4 juta dolar, dan kedua horangkayah itu menawar dengan cara yang berbeda. Gavin ingin membelinya tunai, dan Peter hanya ingin berinvestasi di sana.
You can take that money, or keep the company!” Selesai sudah ‘Silicon Valley’ bila Richard memilih opsi yang pertama. Ia akan berakhir seperti Erlich (TJ Miller) yang pernah menyesal menjual mentah-mentah proyek Aviator dan kini hidup ‘luntang-lantung’ di SIlicon Valley, ‘hanya punya’ sebuah rumah ‘agak’ mewah dan mempekerjakan empat orang (salah satunya Richard) programmer/web developer di tempat yang ia sebut sebagai ‘inkubator’.
Dan akhirnya Richard tak memilih jadi budak. Alasan utamanya, jelas ia ingin melihat Pied Piper berkembang dan ia menjadi kepala keluarga dari ‘bayi’ yang dilahirkannya itu. Alasan lain, ia ingin membuat revolusi kecil-kecilan, bahwa Silicon Valley bukanlah Stepford, yang serba mewah, namun ada yang tak genah dalam tiap tingkahnya. Ia ingin membuat populasi kecil di Silicon Valley, yang lebih humanis, bukan robot-robot bertopeng tulang dan kulit yang tak jelas apa yang mereka cari dalam hidup.
Sebab tujuan Richard jelas. Ia ingin sukses, mungkin jadi kaya, mungkin jadi tenar. Tapi ia ingin tetap hidup sukses secara normal. Tak perlu lagi ada rutinitas nge-gym seperti yang dilakukan para brogrammer di kantornya, atau ritual-ritual aneh yang diwajibkan oleh kantornya yang bak menjadi sebuah kultus, tak ada lagi generalisasi grup para programer (seorang Asia Tengah, seorang Asia Timur, seorang pria gendut berambut kucir, dan seorang lain dengan bentuk janggut yang aneh). Ia ingin sukses, dan tetap jadi manusia.
2.
Selain Richard dkk, sebetulnya ada ‘manusia’ lain yang tampil singkat di detik-detik pertama pilot ‘Silicon Valley’ - ‘Minimum Viable Products’. Ia adalah Kid Rock (haha!), yang diundang untuk manggung dalam syukuran Goolybib. “He’s the poorest person here,” ujar Elrich pada Richard di pesta yang dihadiri orang-orang dengan kekayaan hampir US$ 20 juta itu. Dan tak ada yang memperhatikannya, selagi orang-orang kaya itu sibuk memikirkan kultus dalam teknologi masa depan di sebuah pesta. “Fuck these people!” ujar Kid Rock seusai menyanyikan ‘Cucci Galore’.
Tak perlu mengerti dunia pemograman untuk bertanya, “Ini orang-orang kenapa sih?” Karena mereka bisa ditemukan di mana saja. Sebuah dunia yang tampak sederhana, tapi selalu punya geliat mahal dan istimewa. Bila tiap lingkungan punya kelasnya sendiri, ‘Silicon Valley’ akan menyibir tentang tech-elite dan kelas menengah ngehe di sana. Banyak aturan yang tak bisa kita pahami logikanya. Sebuah dunia yang aneh bentuk habluminannasnya.
Mike Judge (kreator Beavis and Butthead) menampilkan pesona unik itu secara satirikal dalam ‘Silicon Valley’. Karena sama-sama diproduksi HBO, dan tiap musimnya hanya diisi delapan episode, skema ini mengingatkan saya akan ‘Hello Ladies’. Hanya saja di kisah satir lain itu, karakter utama Stuart Pritchard ada di pihak yang terbawa arus. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Richard punya mimpi, hanya menjunjung langit dari bumi yang dipilihnya untuk berpijak. Lebih jauh, lewat karakternya, kreator Mike Judge ingin memberi batas pada para tech elite di Silicon Valley, bahwa semakin tinggi mereka ingin terbang, semakin keras kita ingin tertawa.
Karena ‘Silicon Valley’ hadir dengan cara seringan itu (ya, namanya juga komedi satir, bro). Saya pernah baca lupa di mana, beberapa tech-elite, kini memang dikultuskan oleh banyak bawahannya dan partnernya yang demen menjilat. Hal tersebut dihadirkan dan mudah dicerna di pilot serial ini (dan membuat kita geleng-geleng karena tetap tak paham dengan yang mereka lakukan). Misal ketika Richard pertama kali dipanggil big bossnya yang agendanya super-sibuk. “Hardly to describe, he's not humiliating, he's elevating you,” ujar salah satu bawahannya yang hanya pernah bertemu bosnya itu selama 10 menit. Nyatanya, sang bos malah sedang sibuk memperhatikan pola grup bawahannya, mengapa selalu terdiri dari orang Asia Tengah, pria gendut berambut poni, dan pria lain dengan mode janggut yang aneh. Dan penasihat spiritualnya malah berkata, “You have great understanding in humanity.” WTF.
Yang seperti ini nih, yang menjadi akar kuluts dari banyak perusahaan teknologi mutakhir di ‘Silicon Valley’, dan membuatnya lambat laun jadi seperti Stepford tanpa harus menghadirkan gadis-gadis berkaki jenjang. Para programer berbakat ini cukup beruntung, bekerja di perusahaan besar dengan gaji dan fasilitas nyaman. Tapi banyak yang takut untuk berpikir seperti Richard, “I don’t wanna be a lifer here (at Hooli).” Karena jelas, Richard tak mau jadi bagian kultus tersebut.
3.
Semua karakter di inkubator milik Erlich, termasuk ia sendiri, punya potensi jadi geng baru yang siap diperbincangkan selama delapan pekan ke depan. Karakter Elrich, memang paling ngehe sih. Misal, kengototannya untuk mendapat 10 persen bagian dari penjualan Pied Piper, yang sebelumnya ia anggap sampah. Highlight lain, ada Martin Starr (Bill Haverchuck di ‘Freaks and Geeks’) di sini sebagai karakter satanis, “Hail to The Dark Lord!” yang punya tato salib terbalik di lengannya. Senang rasanya melihat satu per satu alumnus Freaks and Geeks dapat porsi lagi di kancah pertelevisian Amerika yang kini jaya lagi. Karakter Big Head juga mengundang simpatim, justru karena kerendah diriannya, juga tentunya aplikasi Nipple Alert yang sedang digarapnya.
Salut juga untuk Kid Rock, yang mau-maunya dibayar untuk jadi orang paling miskin di Silicon Valley. Manggung setengah lagu, tapi siapa yang mau peduli. Sudah kurang apa lagi, itu hanya lima menit di episode perdana, dan saya sudah cekikikan. Di tengah episode, malah muncul Andy Dale (yang belakangan saya simak di ‘Review’, Comedy Central), jadi dokter yang menangani Richard pas kena panik akut. Muncul sebentar, tapi bikin ketawa KO karena sudah hampir jadi penasihat terburuk dalam karir Richard.
Karakter Richard sendiri diperankan Thomas Middleditch secara apik. Takaran kerendah-diriannya pas untuk kita sebut sebagai geek yang bermartabat. Gaya kikuknya pun juga membuatnya mudah disukai. Kadang saya melihat ada karisma Seth Cohen (The OC) dalam perannya.
Semoga di tujuh episode sisa, penampilannya prima dan banyak cameo lain yang tetap membumikan serial ini. ‘Silicon Valley’ membutuhkan itu karena topik yang diangkat, sangat tersegmentasi, tak semua mudah dimengerti. ‘Silicon Valley’ perlu dibuat tetap waras dan wajar, karena ironis nanti, jika komedi satir ini malah menjadi ‘cult’ untuk para programer sakit hati yang seolah ingin berteriak, “Occupy, Silicon Valley!”
/
‘Silicon Valley’, HBO, 30 minutes (8 episode, per April 6th, 2014). Created by: Mike Judge. Starring: Thomas Middleditch, TJ Milller, Josh Brener, Martin Starr, Kumail Nanjiani. IMDb Ratings: 8,5/10 from 920 users. The Moderntramp Rating: 8,4/10, X).

Sunday, 6 April 2014

MINIMLOG - 2048 (#001)

1
(GAME) – ‘2048’. Baru donlot kemarin. Mainnya simpel, cuma memamahbiakkan angka 2 dan 4, jadi kelipatannya yang lebih tinggi di kolom seluas 4x4. Tiap angka yang sama bertemu, angkanya akan berlipat, dan tiap jurus yang kita ambil, berkonsekuensi dengan munculnya angka bontot baru. Mainnya sesederhana itu saja kok beneran. Anehnya, meski tampak begitu mudah, dan awalnya tak terlalu menarik, ta, ta, tapikok, ternyata seru juga. Adiktif malah. Sejauh ini raihan skor saya baru 20.400 (target saya sejauh yang kebayang saat ini: 25.000), jadi, silakan unduh/mainkan dan menyalip (kalau bisa, hihi).

Ohya, saya juga sudah membuat game 2048 versi saya sendiri, edisi 'Emma Watson'. Seperti game girl zaman dulu, saya ganti angka-angka 2,4,8,...,2048 dengan foto Emma Watson. Makin besar angkanya, makin syur gambarnya, haha. Silakan mencoba, semoga beruntung sampai kawin ke angka 2048, foto Emma Watson terseksi yang belum pernah kamu lihat sebelumnya, haha. (82/100) - BTOK

Saturday, 5 April 2014

HOW I MET YOUR MOTHER - SERIES FINALE (2014)

1
Tadinya mau bikin rekap dua drama komedi terbaru favorit saya di 2014, ‘Brooklyn Nine-Nine’ dan ‘Broad City’. Keduanya tampil spektakuler di musim perdana, dan berakhir dengan episode final yang ah, entah apa istilahnya, membuat hati nyaman meski harus menyimpan rindu (tsaeilah) hingga nanti musim kedua.
Tapi tiba-tiba, serial gacoan sejak sembilan tahun lalu, yang pada musim terakhirnya ini begitu sangat amat banget-banget membosankan, muncul dengan series finale yang sangat mengejutkan. ‘How I Met Your Mother’ akhirnya beres, tapi pembicaraan tentangnya tak berakhir hari itu. (<<<SPOILER ALERT MULAI DARI SINI>>>)
Bagaimana bisa mulut kita tetap tertutup dan pikiran kita tak berkecamuk, bila akhirnya ‘The Mother’ dibuat modar, tiwas, wafat walafiat, meninggal dunia. Rasanya, kreator Carter Bays dan Craig Thomas sempat bertemu George R.R Martin untuk memutuskan bagaimana serial ini harus diakhiri. Menurut teori sejumlah fans serial ini di Reddit, ‘The Mother’ tiwas karena kanker serviks. Yak, payung kuning itu—ah sial seharusnya saya menyadari dari dulu—adalah lambang penyakit kanker di leher rahim itu.
Sembilan tahun kita digoda untuk mengikuti perjalanan Ted menemukan wanita yang menjadi ibu dari kedua anak-anaknya. Kita dibuat percaya seolah tujuan dari perjalanan sembilan musim ini adalah tentang menemukan sang mama. Siapa nyana, pada akhirnya Ted kembali ke bawah balkon Robin Scherbatsky untuk mengantar terompet biru yang dulu sempat dipersembahkannya dalam kencan pertama. Sembilan tahun pula kita tertipu bahwa serial ini akan berakhir bahagia, Ted akhirnya bertemu dan membina keluarga berencana (ya, dua anak cukup) bersama sang karakter titular, ‘The Mother’, namun mengutip Meggy Z, “Sungguh teganya, teganya, teganya, teganya, teganya,” kreator mengguratkan nasib buruk karakter yang diperankan oleh Cristin Milioti itu (konon dari awal, Josh Radnor sudah tahu akhirnya memang demikian). Nasib buruk untuk mereka yang merasa kecele hampir satu dekade.
Meski berakhir tak bahagia untuk tim Ted-‘The Mother’, saya tak mau buru-buru menyimpulkan series finale ‘HIMYM’ sebagai simpulan yang mengecewakan. Akhir yang mengejutkan ini justru membuat rom-com ini naik kelas. Salah satu indikatornya, hampir sepekan usai penayangan finale, orang-orang masih membicarakan (dan berdebat) tentang hal ini. Beberapa yang kreatif bahkan mengedit video bagaimana seharusnya serial ini berakhir. (UPDATE: dalam rilis DVD-nya kelak, kreator sudah menyiapkan official alternate ending untuk ‘HIMYM’).
Indikator lain, ‘HIMYM’ berhasil keluar dari pakem ‘akhir yang adil’, ‘bahagia selamanya’, ‘terlalu gula-gula’ yang biasa kita temui di akhir serial atau film drama ala Hollywood. Kreator dan penulis naskahnya berani untuk dihujat, ditempatkan antara perdebatan sengit, namun juga dipuji akan keberaniannya ‘membunuh’ The Mother. Tapi akhir kisah ini malah jadi taktik jitu menurut saya yang bisa membuat pemirsanya kembali menonton ‘HIMYM’ dari awal. Sekadar untuk menguji seberapa pantas takdir Ted bagi Robin, vice versa.
2
Jadi tak masalah bagi saya, bukan akhir dari kisah ‘HIMYM’ yang mengecewakan, melainkan dua puluh episode pertamanya di musim kesembilan yang terlalu bertele-tele. Itu yang membuat saya merasa cukup untuk menikmati empat dari 23 episode musim ini: pilot, dan tiga episode akhir. Kata seorang teman, “Tak apa, nggak ketinggalan apa-apa juga kok.”
Namun yang saya pun bingung hingga kini, entah ini mengecewakan atau tidak, adalah keputusan para penulis untuk membikin karakter ‘The Mother’ aka Tracy McConnell (jadi ingat ketika Ted bertemu seorang stripper bernama Tracy, anak-anaknya berteriak kaget! haha!) begitu mudah untuk dicintai dan terlalu sempurna untuk Ted (bahkan bila kita hanya melihat dari inisialnya saja. Adegan payung kuning di Farhampton lebih dari cukup untuk menjabarkan kecocokan mereka).
Mengecewakan karena, karakter ‘The Mother’ dibuat begitu mudah mendapat tempat di hati pemirsa ‘HIMYM’ (bahkan Josh Radnor di musim kesembilan bertanya kembali pada kreator, “Apa benar akhirnya harus seperti ini?”), bahkan mungkin bagi yang bertindak sebagai germo cinta paling sok betul untuk Ted, akan jatuh cinta. Sang arsitek ini selama sembilan tahun rajin gonta-ganti pasangan, namun tak ada satupun yang cocok dijadikan pendamping hidup. Dan ketika di akhir musim ke delapan, sosok Cristin Milioti muncul sebagai ‘The Mother’, fans langsung reaktif. Ada yang tak puas, membandingkan dengan pasangan-pasangan Ted terdahulu, bersumpah tak akan melanjutkan nonton finale seasonnya, dan bla-bla-bla. Tapi tak sedikit juga yang langsung jatuh hati (termasuk saya), apalagi ketika ia menampilkan gigi gingsulnya yang memikat ketika memesan tiket ke Farhampton, sambil menenteng bass.
Belakangan (seperti yang sudah saya prediksi), penolakan fans terhadap sosok ‘The Mother’ mencair, beberapa bahkan menilai sosok ini jauh lebih tepat untuk Ted, dibanding Robin yang makin sini makin oportumis dan ambisius. Seperti Ted, saya hanya butuh satu hujan di sebuah stasiun kereta untuk mencintai karakternya. Dan ketika adegan itu muncul di episode akhir, beberapa menit kemudian, *BAM*, kita harus menerima kenyataan bahwa akhir dari musim panjang ‘HIMYM’ terjawab. Jangan menilai sebuah serial dari judulnya, ini pelajaran yang amat penting paska-‘HIMYM’.
Ted sudah bertemu ‘The Mother’, lalu penasaran apa lagi yang kita simpan dalam hati? Semua pertanyaan tentang ‘bagaimana’ dalam judul serial ini sudah terjawab. Namun durasi masih tersisa kira-kira sepuluh menit. Dari sana, kita tahu jika pada menit-menit krusial ‘HIMYM’, judul dengan sendirinya berubah menjadi ‘How I Moved On From Your Mother’.
Dan kembali ke kebingungan saya di atas, pengenalan sosok ‘The Mother’ yang terlalu mudah dicintai ini sebagai bentuk kekecewaan atau tidak? Ya, di satu sisi kecewa mungkin karena tak rela saja, ia harus muncul satu per sembilan bagian umur serial ini, dan ia muncul justru saat umur serial ini sudah tak lagi prima. Ia harusnya punya porsi lebih di antara geng MacLaren’s Pub. Ia lebih dari sekedar unsur dramatis dalam rom-com ini. Ia punya banyak punch line lucu yang harusnya bisa dieksplorasi dalam beberapa episode khusus. Oh ya, dan saya ingin tahu juga hubungannya dengan Rachel Bilson yang pernah jadi teman sekamarnya.
Di sisi lain, dengan ending seperti yang telah ditasbihkan, harusnya saya tak kecewa, karena bila karakter ini dibuat tak sempurna, kita semua tak akan banyak omong bila karakter ‘The Mother’ tiwas. Ted pun bisa melenggang leluasa kembali pada Robin tanpa perlu ada protes di sana-sini. Tapi akibatnya, serial ini akan berakhir seperti 20 episode sebelumnya yang menyebalkan, karena memang tak menarik, dan tak ada yang bisa diperdebatkan lagi. Justru kita bakal ngomel bila karakter ‘The Mother’ tak sempurna, tapi diberi akhir bahagia untuk keduanya.
3
Satu hal yang menarik dari ‘HIMYM’ adalah penyimbolan karakter dalam berbagai bentuk benda dengan warna yang mencolok. Dua kupu-kupu di perut Ted, disimbolkan sebagai ‘payung kuning’ (The Mother) dan terompet biru (Robin Schrebatszky). Dan kalau ingat pun, Ted pun mengidentifikasikan dirinya dengan sepasang boots merah kesayangannya. Haha, intermezzo saja.
Tapi dua simbol di atas sebenarnya sudah memberi petunjuk tentang apa yang tergambar dalam hubungan ketiganya. “With Robin, Ted had to make it rain, while with the mother it was always raining,” begitulah bunyi satu dari sekian banyak komentar di Reddit yang saya setujui. Dan Ted, seperti kita tahu adalah orang yang gemar membuat orang lain bahagia, dengan segala cara. Dengan Tracy, Ted tahu ia tak perlu banyak berupaya, hidupnya sudah bahagia dan seperti seorang petani padi, apa lagi yang perlu ia kejar bila hujan seolah turun setiap saat.
Namun hal seperti itu justru yang membuat Ted bisa ‘melupakan’ kepergian Tracy. Bahwa setidaknya ia tak perlu penasaran lagi, ia sudah melakukan yang terbaik hingga akhir hayat Tracy. Namun selepas enam tahun, ia rindu menghadirkan hujan kembali bagi seseorang yang pernah ada di hatinya. Dan Robin, kini hidup sendiri usai perceraiannya dengan Barney (perkawinan singkat, pertengkaran yang mengecewakan, karena rasanya tak perlu Barney selalu mengikuti kemana pun Robin bekerja)—mungkin selalu menunggu, Ted.
Dan perlu diingat, payung kuning yang pernah berpindah tangan dari Tracy ke Ted, akhirnya tertinggal begitu saja di apartemen karakter Rachel Bilson, lupa nama karakternya. Tapi terompet biru itu, sekian puluh tahun lamanya selalu Ted simpan. Benda ikonik yang menandai sembilan tahun perjalanan serial ini, atau mungkin bisa disebut, perjalanan Ted bersama Robin.
Dan pada akhirnya, ini memang tentang mereka berdua. Mungkin seharusnya begitu, karena memang selama ini, ‘How I Met Your Mother’ selalu memusat tentang Ted, baik itu tentang hubungannya dengan belasan cabe-cabeannya pra-‘The Mother’, dengan dua karibnya Barney dan Marshall, dengan Lily, dengan Tracy, dengan kedua anaknya, dan terutama, dengan Robin sebagai katarsis dari setiap perjalanan hidup Ted.
Jadi selama ini menjadi akhir bahagia untuk Ted, tak ada yang harus merasa terlalu kecewa dengan series finale yang ditayangkan selama hampir 60 menit, pekan lalu itu. Ya, karena memang semua selama ini hanya tentang, “Bagaimana Ted Menemukan Kebahagiannya?”
2014

Thursday, 27 March 2014

DALLAS BUYERS CLUB - JEAN-MARC VALLEE (2013)

1
Pada 2005, seorang mahasiswa di sebuah universitas di Columbia, Amerika Serikat, punya cerita seru tentang Matthew McCounaghey. Dalam sebuah sesi tanya jawab tentang film ‘Sahara’ yang diproduserinya, ia ditanya, “Who is your favourite actor?
Matthew, seperti biasa tatkala itu, muncul dengan mata sedikit teler. Ia menjawab hampir semua pertanyaan yang datang sebelumnya sekena hati. Dan untuk pertanyaan terakhir di sesi itu, ia menjawab, “Me, in ten years, ...cool, ...yeah!” Tak kalah gegabah.

Hampir sepuluh tahun berselang ia muncul lewat film terbarunya, ‘Dallas Buyers Club’, ia berakting sebagai seorang petaruh rodeo yang terdiagnosa penyakit AIDS, Ron Woodroof. Matthew menyabet penghargaan tertinggi, ‘Aktor Terbaik’ dalam Oscars 2014 karena perannya itu.
Penampilan lainnya dalam serial HBO, ‘True Detective’ juga monumental. Sebagai Rustin Cohle, penampilannya begitu dipuja, dan membuat orang-orang rela menghamba. Bagi saya, apa yang ditampilkannya dalam ‘True Detective’ punya kelas yang sama dengan Piala Oscar yang kini digenggamnya. Mungkin, ya, bisa jadi Piala Emmy tahun depan juga mampir ke pelukannya.
Dan hampir sepuluh tahun berselang, kita akan berkata karena kembali ingat, “When he was high, he can see the future.

2
Memerankan koboi Texas ‘berpita merah’ itu, McCounaghey mendapat restu dari adik dan putri Ron Woodroof. “OK yes! He’s got that same swagger as Ron,” ujar sang adik, Sharon Braden. Brad Pitt dan Ryan Gosling yang sebelumnya membidik peran itu, harus gigit jari.
Dalam piala bersapuh emas yang digenggam McCounaghey di malam Oscars, terdapat beban seberat 19 kilogram, bobotnya yang susut demi peran menjadi seorang pecandu narkotika yang terjangkit virus HIV di film ini. Bahkan sebelum ‘Dallas Buyers Club’ dirilis, cerita tentang upaya McCounaghey mengempesi tubuhnya sudah menarik perhatian. Upaya itu yang membuatnya spesial (meski memang tak seekstrem apa yang dilakukan Christian Bale dalam ‘The Machinist’, menyusut 31 kilogram), dan tak hanya olehnya, aksi ‘mogok makan’ ini juga dilakukan oleh Jared Leto, yang kebagian peran sebagai Rayon, seorang transgender yang juga divonis mengidap AIDS.
Keduanya bertemu di sebuah rumah sakit, setelah Woodroof akhirnya percaya kalau ia memang benar-benar terinfeksi HIV. Ia butuh zidovudine (ATZ), obat yang dikembangkan sebuah perusahaan bio farmasi, Avonex untuk memperpanjang nyawanya. Ia diprediksi hanya punya 30 hari ketika pertama kali tiba di rumah sakit itu beberapa hari sebelumnya. Di sana ingat sekali saya ia berteriak dengan gayanya yang eksentrik, “There ain’t nothing out there that can kill Ron Woodroof in 30 days.
Tapi, ini bukan sekuel film terdahulu McCounaghey,  ‘How To Lose a Guy in, umm 30 Days’. Ron sadar, ia harus bertahan hidup, entah demi apa. Ia sempat menyuap seorang pegawai rumah sakit untuk menyelundupkan ATZ untuknya. Dosis habis, Ron tak bisa berbuat banyak. Ia kembali kolaps, dan takdir mempertemukannya dengan Rayon.
I’m sorry sweetie, i can’t split my dose,” ujar transgender itu genit pada pria slengean yang berbaring di samping bangsal tidurnya. Tak semua orang beruntung bisa menyelisipkan ATZ dalam tubuhnya. Obat jenis baru itu masih dalam proses percobaan, dan hanya beberapa orang yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi tikus labnya. Untuk saat itu seakan nasib Rayon jauh lebih baik ketimbang Ron.
Ron yang homophobic pun tak sudi menghamba, meski ia tahu amat membutuhkannya. Di ‘hari-hari terakhir’ hidupnya, ia lebih memilih pergi ke selatan, untuk memastikan informasi yang diterimanya bahwa ada seorang dokter di Mexico bisa menyuplai ATZ untuknya.
Tiba dengan kondisi kurus kering, ia menemukan fakta lain. ATZ sesungguhnya berbahaya bagi pengidap HIV, bahwa ada pihak-pihak yang sengaja menangguk untung dari penjualan vaksin mutakhir pada zamannya itu. Ia melewati ‘hari ketiga puluhnya’ dengan harapan baru di Mexico, ia masih hidup dan mencoba sejumlah eksperimen mengandalkan racikan obat lain. Kini ia bergantung pada vitamin dan peptida. Ia memang tak sembuh, tapi setidaknya ia masih bernyawa setelah satu purnama.

3
‘Dallas Buyers Club’ pernah disebut sebagai film yang ‘haram’ dibuat. Terinspirasi kisah nyata, petinggi-petinggi Holywood tak pernah menganggap sosok Ron Woodroof sebagai tokoh yang menggugah. Selain positif HIV, ia dikenal sebagai pecandu kokain, pelaku seks bebas, pemabuk berat, hingga homophobic. Apa yang pernah ia lakukan bahkan jauh lebih hina ketimbang sekadar dianggap sebelah mata. Ia bukan Andrew Beckett di ‘Philadelphia’, tanpa HIV, Ron adalah sosok yang amat sangat mudah kita benci. Tapi setidaknya, ia punya sedikit ‘Erin Bronkovich’ dalam prinsip hidupnya. Nyawa bukan milik mereka yang berkuasa.
McCounaghey adalah sosok yang piawai menyetir peran. Ia menjadi magnet dalam ‘Dallas Buyers Club’, bersama Jared Leto yang memerankan Rayon, karakter yang begitu berbeda 180 derajat dari Ron. Genit, sensitif, tampak selalu ceria, meski sejatinya begitu rapuh. Begitu dahsyat Leto menjadi Rayon, membuat kita lupa ia juga adalah vokalis band rock, ’30 Seconds from Mars’. Ah, Tuhan, seharusnya dari dulu saya menyadari kalau ia memiliki mata malaikat itu.
Mata malaikat itu hanya yang tersisa dari keajaiban rias seharga US$ 250 inisiasi Adruitha Lee dan Robin Matthews. Sisanya adalah pipi yang merona merah, peurna mata, dan lipstik merah jambu yang mengilap ala Jane Forth di tahun-tahun psikadelika. Sang aktor utama, McCounaghey juga mendapat perlakuan khusus di tiap fase yang dialaminya di film ini. Dari rona muka Ron, kita sudah bisa menerka apa yang terjadi pada tubuhnya. Tak salah bila dalam Oscars, film ini diganjar penghargaan ‘Tata Rias Terbaik’.
Hal ini menjadi salah satu aspek penyokong dua aktor mendalami perannya. Akibatnya, ‘Dallas Buyers Club’ bisa mengulangi prestasi yang sebelumnya ditorehkan ‘Mystic River’ (memecahkan rekor Ben-Hur pada 1959) di Oscars 2013, menyabet penghargaan untuk dua kategori utama pria, ‘Aktor’ dan ‘Aktor Pendukung Terbaik’ untuk Sean Penn dan Tim Robbins. Ketika Jared menggondol piala di awal Oscars, saya langsung menghela nafas untuk Leonardo di Caprio. Alasannya, baik Ron dan Rayon dalam ‘Dallas Buyers Club’ adalah satu kesatuan. “Keduanya, atau tidak sama sekali.”

4
Tanpa ‘Dallas Buyers Club’, McCounaghey tak akan menang Oscar. Sejak 2011 ia membintangi sejumlah film bagus, dari ‘Lincoln’s Lawyer’ hingga ‘Magic Mike’ (atau mungkin saya perlu sebut semua satu per satu, ‘Bernie’, ‘Killer Joe’, ‘The Paperboy’, dan ‘Mud’, semua layak tonton), tapi ‘Dallas Buyers Club’ punya struktur penokohan yang ciamik. Ron dan Rayon adalah sosok yang unik. Kisahnya berputar-putar di keduanya saja bergelut dengan HIV, saya akan tetap menikmati. Yang agak menganggu hanyalah porsi tokoh Eve Saks (Jennifer Garner) yang terlalu besar, namun tak signifikan. Saya berharap peran Eve Saks dipersingkat (atau dihapus sama sekali pun tak masalah). Kehadiran Eve bagi Ron malah membuat film ini beraroma Darren Aronovsky, terutama dalam The Wrestler. Hubungan keduanya mengingatkan saya akan kisah Randy Robinson (Mickey Rourke) dan Pam (Marisa Tomei). Lebih baik sutradara Jean Michael Vallee berkonsentrasi pada perubahan sikap Ron yang semula homophobic, lalu bersimpati pada Rayon. Sehingga ia punya ‘jejak khas’ dalam film ini.
Meski begitu, juri Oscar punya selera sendiri terhadap ‘Dallas Buyers Club’ terutama di kompartemen naskahnya yang: tak berlapis, namun begitu sederhana dan subtil. Pesannya jelas, ada yang salah dengan sistem penanganan kesehatan bagi penderita AIDS kala itu, ada yang salah dengan orang-orang yang bereksperimen untuk keselamatan banyak jiwa, orang-orang yang terbuang, dan dipandang sebelah mata.
Pemerintah (melalui Food and Drugs Association, kala itu) tak bisa mengesampingkan lagi kaum ‘haram’ itu. Perlawanan yang digalakkan Ron dianggap membahayakan. Rumah-rumah sakit kehilangan pasien, perusahaan farmasi terancam bangkrut, mereka tunggang langgang. Tikus-tikus lari dari lab-lab milik pemerintah, ke dua kamar motel yang disulap jadi ruang terapi Ron. Tak lagi bertaruh di arena banteng menjungkirkan manusia, Ron kini bertaruh di kancah yang lebih serius, manusia menunggangkan manusia.
Jelas ada yang berubah, pemerintah merasa dilecehkan karena cara mereka menangani pengidap HIV tak lagi dihiraukan, yang tak berubah adalah penghargaan pemerintah atas nyawa mereka. Seolah, “Kami tak peduli apa yang baik untuk mereka. Yang kami pedulikan adalah apa yang terbaik bagi kami.” Seolah kaum termarjinalkan itu hanya boleh mendapat sisa-sisa kebaikan dari apa yang mereka coba entaskan.
Itu membuat tensi dalam ‘Dallas Buyers Club’ membuih. Dan Ron berulang kali ditekan, Ron berulang kali tumbang, tumbuh lagi, Ron berulang kali layu, mekar lagi, dan Ron berulang kali hampir gugur, tapi selalu bersemi kembali. Sampai-sampai karena semangat itu, kita lupa, Ron adalah orang yang hidup dengan penyakit AIDS. Jika dalam satu adegan tak diperlihatkan betapa tubuhnya kembali menyusut, dan tulang-tulang di pipinya kembali menyembul usai pemerintah menganggap metode pengobatannya ilegal, kita akan menganggap ini pertarungan yang adil.
Peptide D is the online line i have to staying alive. When i stop it, i start dragging myself. I urinate on myself,” ujar Ron asli dalam sebuah wawancara kepada penulis naskah film ini Craig Borten. Naskah ini ditentengnya ke begitu banyak produser sejak 1995. Pernyataan Ron di atas menggugah Borten agar pemirsa bisa terinspirasi dengan apa yang diperjuangkan oleh koboi slengean itu di layar lebar. Awalnya film ini akan digarap Dennis Hooper dan dibintangi oleh sahabat baik McCounaghey, Woody Harrelson. Tak kunjung mendapat dana, Borten terus bergerilya dan tetap mengontak sejumlah bintang. Namun nama besar Brad Pitt dan bintang baru Ryan Gosling tak cukup meyakinkan produser untuk mengangkat cerita ini ke bioskop.  
Tapi Borten tak mau mati dalam tiga puluh hari seperti vonis dokter pada Ron. Ia berjuang, setidaknya pada mulanya, untuk dirinya sendiri, untuk Ron, untuk penderita AIDS di seluruh dunia. Setelah menunggu hampir 20 tahun, ‘Dallas Buyers Club’ akhirnya difilmkan, 22 tahun setelah Ron wafat di umurnya yang lebih panjang 2.257 hari dari vonis dokter.
Dari proses pewujudan film jelas sudah memberi banyak inspirasi. Dan memang intinya adalah itu, setidaknya bagi Ron, hidup itu perlu paling tidak sekali saja punya arti, baru setelah itu boleh mati. Karena mungkin jawabannya di sana, untuk siapapun yang masih bertanya, “Untuk apa kita (masih) hidup?”

/
DALLAS BUYERS CLUB (2013), directed by: Jean-Marc Vallee. Starring: Matthew McCounaghey, Jared Leto, Jennifer Garner. Release date: 7 September, 2013 (Toronto International Film Festival). Duration: 116 minutes. Rating: 80 (IMDb), 84 (Metacritic), 94 (Rotten Tomatoes), 82 (The Moderntramp, xp).

/
GOLDEN MINUTES
Introduksi yang memikat di 15 menit pertama ‘Dallas Buyers Club’. Film dibuka dengan amat brengsek di menit (01:00) saat Ron berkencan dengan dua wanita di tepi gelap arena rodeo. Pada menit (04:09), ia kabur dari kejaran petaruh lain, usai membawa kabur duit judi rode. Ia memukul seorang polisi, dengan tujuan agar ia ditangkap, dan selamatlah dari kejaran orang-orang murka di lapangan banteng itu.
Butuh waktu lama untuk mendapat ‘kejutan’ di pembuka film hingga menit (08:00) atau yang saya sebut dengan menit paling emas dalam film ini. “Dhuar!” sistem listrik yang sedang diperbaiki Ron tiba-tiba meledak, ia pingsan dan segera dibawa ke rumah sakit.
Di sini, pada menit (09:30), kita baru tahu apa tujuan film ini, si bajingan itu rupanya terinfeksi HIV. Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana membuat karakter menyebalkan itu bisa meraih simpati penonton. Apalagi setelah ia pada menit (11:17) divonis hanya berumur paling lama 30 hari, dan berteriak congkak. “There ain’t nothing out there that can kill Ron Woodroof in 30 days.”
Dari ‘pilot’ tersebut, 80 persen saya akan lanjut menonton ‘Dallas Buyers Club’. Selain untuk menjawab pertanyaan dalam alinea selanjutnya, juga setidaknya menjawab, “Apakah Ron akan benar-benar mati dalam tiga puluh hari?” (2014)

/
Ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk rubrik #Seninema di ‘The Moderntramp pada 27 Maret 2014. (#GoldenMinutes adalah mini rubrik yang berisi tentang 15 menit pertama sebuah film. Seperti sebuah pilot dalam tiap serial, golden minutes adalah indikator apakah kami akan melanjutkan menonton film tersebut, dibuat tergesa (alias dicepet-cepetin) atau tidak menontonnya sama sekali).
“Jadi, apa hal paling berarti yang pernah kalian lakukan untuk orang banyak dalam hidup?” 

Friday, 7 March 2014

THAT'S WHAT'S UP - THE STELLAS

1
Setelah hampir setahun (teman asal Batak akan berkata, "Kamana hungkul atuh?"---maksudnya, “Kamana wae?”), The Stellas balik lagi. Terakhir kali lihat mereka setahun lalu bikin lagu khusus untuk idola mereka (meh lah bro, :|), Harry Styles.
Lennon pangling jadi cantik banget (mungkin efek lepas kaca mata ya. greget nerdnya berkurang, tapi entah kenapa jadi mirip Elizabeth Olsen versi kurus, < 3). Sang adik, Maisy (jumpa lagi!) makin lucuk, gemes, pengen nyubit terus-terusan bawaannya.
Yang tak berubah, nyanyinya tetap bikin merinding. Plus, di video terbaru mereka yang diunggah Kamis, 5 Maret 2014, 'That's What's Up' - Lennon and Maisy Stella (Edward Sharpe and The Magnetic Zeros cover), chemistry keduanya bikin bulu kuduk nggak duduk-duduk. Lirik lagunya yekaaan~ (aneh malah kalau Edward Sharpe yang nyanyi), merepresentasikan keduanya banget. Dan di lagu ini, mereka tak hanya menyanyi, tapi saling mengagumi. Bagus banget broh! Falset Maisy di reffrain bikin narik nafas. Iwan Fals aja sampai bilang, "Anaaaak sekecil ituuuu~"
Silakan deh langsung disimak penampilan mereka, dan video-video sebelumnya di kanal Lennonandmaisy. Akan membuatmu bertanya sendiri deh, (lebay memang), "Ini ibu mereka, melahirkan keduanya lewat pita suara kali ya?"
They've made my day!
/
Ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk Rubrik #Coverabu di The Moderntramp. "Jadi, Lennon atau Maisy?"