Friday, 27 June 2014

NAGA MANG

1

DALAM HIDUP, RASA CEMBURU PERTAMA KALI KURASAKAN PADA TEMAN-TEMAN MASA KECIL DI KAMPUNG HALAMANKU. AKU BINGIT BANGET, KARENA TERNYATA BAPAK JUGA MENCERITAKAN KISAH YANG SAMA KEPADA MEREKA TENTANG SEBUAH RAHASIA. ITULAH KALI PERTAMA PULA AKU MERASA, DALAM HIDUP, RASA KESAL YANG BEGITU MEMUNCAK, PADA BAPAK.

( via sandera )
Sebelum tidur sampai umurku lima tahun, hampir setiap hari Bapak menceritakan kisah tentang ‘Naga Mang’, ular agung yang bisa terbang dan mampu menyemburkan api. Ia tinggal dan bergerilya di bukit tinggi belakang kampung kami, orang-orang di kampungku menyebutnya Bukit Pendek, tapi Bapak menamainya Gunung Manglayang. Belakangan aku baru mengerti dari cerita Bapak, arti Manglayang adalah tempat di mana Naga Mang terlihat melayang. Namun, sejak aku lahir, tak pernah sekalipun kulihat di angkasa, selain burung, awan, dan daun-daun yang meranggas di musim gugur, melayang dari Gunung Manglayang.

Bapak mengaku pernah dua kali melihatnya. Ia menceritakan dengan rasa takjub. Naga Mang melayang di angkasa seperti prisma. Tubuhnya yang hijau berpunuk runcing menatapnya tajam. Ia punya sepasang tanduk mahkota berwarna cokelat mahoni. Matanya merah, di antara sisiknya terdapat lapisan emas yang mengilap. Dari hidungnya keluar asap dan api, saking takutnya Bapak tak bisa lari ketika mata Naga Mang menatapnya lekat-lekat.

Mereka berpandangan begitu lama, sampai bulan purnama yang sebelumnya tertutup awan tebal kembali mengintip pelan-pelan. Naga Mang mengambil ancang-ancang, Bapak membaca doa karena ia pikir akan diterkam. Terdengar suara gemuruh dari langit dan mulut Naga Mang, Bapak memejamkan mata siap akan nasib terburuk baginya, mati tercabik atau tewas terpanggang. Tapi tak lama, udara kembali terasa sejuk, ketika ia membuka mata hanya ada satu lesakkan cahaya bergerak cepat seperti hendak menembak bulan. Ia terpana, sampai tak lama terdengar suara Kakek memanggilnya.

“Tadi, ada, ...Naga Mang, Pak,” ujarnya pada Kakek dengan suara terpenggal-penggal. Bukannya khawatir, Kakek malah tersenyum, “Alhamdulillah, tidak semua orang beruntung bisa bertemu dengan Naga Mang.” Ia menyatakan ketika kecil dulu juga pernah sekali melihat Naga Mang, dan berharap suatu saat bisa kembali melihatnya. Ia menatap nanar ke udara, melihat sisa lesakkan cahaya yang ditinggal Naga Mang menuju purnama.

Hingga akhir hidupnya, Kakek tak pernah meninggalkan kampung halaman kami. Ia juga tak pernah kembali bertemu Naga Mang. Sebelum meninggal ia berwasiat, “Kuburkan aku di tempat aku melihat Naga Mang.” Ayah membawa jenazah Kakek ke salah satu puncak di Gunung Manglayang, sendirian, sesuai wasiatnya. Ayah menggali kubur di tempat yang pernah ditunjukkan Kakek, di mana ia melihat Naga Mang. Air matanya menetes seiring keringat dingin yang membasahi pipinya ketika menggali kubur malam itu. Kakek terbaring tanpa nyawa di samping tanah gailan seukuran peti mati itu. Cuaca mendadak hangat, secercah cahaya muncul dari balik barisan pinus yang mengelilingi tanah lapang itu. Angin berisik, pohon pinus condong ke kiri diterpa udara, Naga Mang muncul dari balik bukit. Ayah kembali merasakan sensasi sama ketika pertama kali bertemu Naga Mang. Namun kali ini ia tak menatap matanya, Naga Mang menatap Kakek yang sudah terbaring tak bernyawa, mengambil ancang-ancang, dan kembali melesat ke udara. Kali kedua Bapak tak merasa takut, tapi kagum terpana dengan mulut menganga, ia menggali semacam rindu pada hal yang sebenarnya mustahil. Bapak tersenyum, sebelum kaget luar biasa ketika menatap ke samping di alas tanah, mata ayahnya terbuka lebar. Untungnya, atau setelah lama ia berpikir, memang itu tujuannya, seulas senyum terpoles di garis bibir Kakek.

Setelah itu Bapak merasa ditakdirkan untuk tak pernah meninggalkan kampung. Kakek yang merupakan tokoh agama di kampung seumur hidup baru dua kali bertemu Naga Mang. Bapak belum separuh abad umurnya, sudah menyamai torehan panutan hidup banyak warga kampung itu. Bapak memilih menjadi guru mengaji sementara kawan-kawannya yang lain mencari peruntungan sebagai kuli dan mandor proyek di kota besar. Di sisi lain, Bapak tak ingin mempersempit kesempatan untuk kembali melihat Naga Mang saat purnama tiba.

“Lebih baik memenuhi yang cukup di gelas yang kecil, daripada serba kekurangan mengisi cawan yang besar,” ujarnya suatu waktu meyakinkan Ibu di saat uang hanya cukup untuk membeli beras tiga mangkuk dan seperempat kilo tempe yang nanti Ibu masak orek agar terlihat lebih banyak.

Hingga hari ini, cerita itu masih tertanam lekang di benakku. Aku selalu berupaya segala cara agar bisa lekas bertemu Naga Mang. Ayah hanya bilang nanti juga tiba waktunya sambil mengulang cerita yang sama padaku hampir setiap malam, dan aku tak pernah bosan. Namun ia menegaskan, “Hanya orang yang beruntung bisa melihat Naga Mang. Dan hanya orang saleh yang masuk golongan orang beruntung.” Ketika orang lain bercita-cita jadi dokter, astronot, atau tentara, aku saat itu cukup saja berikhtiar untuk jadi ‘orang saleh’.

Hari pertama masuk sekolah dasar, tak ada desas-desus tentang Naga Mang yang kudengar dari teman sebayaku. Aku pikir cerita tentang Naga Mang memang hanya ada di garis keluargaku. Aku tersenyum dan memilih untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat, agar aku tak perlu bersaing keras untuk menjadi orang saleh.

“Apakah orang lain tahu tentang kisah Naga Mang ini?” Aku bertanya pada Ayah pulang dari surau. Ayah menjawab, kisah tentang Naga Mang hanya boleh diceritakan pada mereka yang pernah melihat, atau pada keturunannya kelak. Senyumku makin lebar sambil menatap teman sebayaku yang juga mengaji di surau milik Ayah berjalan ke rumahnya masing-masing.

Suatu saat, jika tak salah ingat ketika itu umurku 10 tahun, aku demam tinggi dan meminta izin agar tak ikut mengaji malam itu. Ayah meminta ibu untuk membuatkan teh manis dicampur madu sebelum berangkat ke surau. Ia berharap aku cepat sembuh sambil mengusap dan mengecek suhu badan melalui keningku. Setelah salat Isya, aku langsung tertidur dan berharap paling tidak bertemu saja sekali dengan Naga Mang, walaupun lewat mimpi.

Betapa kagetnya aku keesokan hari, dengan badan sempoyongan sisa demam semalam, aku menemukan fakta di sekolah bahwa, Asep, Ujang, dan Maman sibuk bergunjing tentang ular raksasa yang bisa terbang. “Naga Mang!” kudengar salah satu dari mereka yang juga murid mengaji Bapak mengatakan istilah ‘sakral’ itu. Aku cemburu dan kesal bukan main. Bisa-bisanya Bapak menceritakan hal ini pada orang lain ketika aku tak ada. Rahasia yang hanya dimilikki garis keturunanku. Mukaku memerah, demamku rasanya kembali tinggi.

Maman menghampiri, “Malam minggu mau ikut nggak? Kita kemping, berburu Naga Mang di Bukit Pendek!” ujarnya antusias mengajakku. Aku tak mau berbasa-basi, kesal sekali, aku jawab saja, “Naga Mang? Mang gue pikirin!” ujarku meniru dialog salah satu karakter ‘anak kota’ dalam sinetron yang selalu ditonton ibu saban malam.

2 >

/

Ditulis oleh Petang Galajingga (@gala) untuk The Moderntramp. #PAYUNGFANTASI adalah satu bab dalam Selasastra yang berisi tentang cerita fiktif yang kecil kemungkinannya terjadi, kecuali bagi mereka yang memercayainya. Cerita ‘Naga Mang’ adalah bagian pertama dari cerita dua babak berjudul sama, terinspirasi dari cerpen ‘Kuda Emas’ karya Tawakal M. Iqbal yang dimuat di Kompas, Ahad (23/6). 


Tuesday, 24 June 2014

'THE WIND RISES' - HAYAO MIYAZAKI (2013)


1

#15MENIT - FILM TERBARU, SEKALIGUS PAMUNGKAS DARI MAESTRO ANIMASI DARI JEPANG, HAYAO MIYAZAKI RILIS DALAM BENTUK DVD PADA SABTU (21/6) PEKAN LALU. APAKAH INI JADI KARYA YANG HUSNUL KHOTIMAH BAGINYA? JIKA #15MENIT DARI FILM INI BISA MEREPRESENTASIKAN KESELURUHAN FILM, KAMI PIKIR MALAIKAT JUGA TAK SABAR BIKIN LAYAR TANCAP DI SURGA.

Karena Miyazaki tak pernah absen untuk memberi kebahagiaan. Dalam #15MENIT ‘The Wind Rises’, ia menegaskan hal tersebut. Diawali dengan scene mengagumkan dalam mimpi tokoh Jiro Horikoshi muda. Ketika langit hitam kelam menjadi warna fantasi dalam bunga tidurnya. Ia bertemu Giovanni Batista Caproni, insinyur aeronautical yang menjadi idola masa kecilnya.

So you think we’re sharing the same dream?" tanya Caproni pada Jiro (09:00). Saya senyum-senyum sendiri di bagian ini. Mimpi terindah adalah membayangkan orang lain juga memimpikan kita. Saya tak tahu apakah kelak Jiro akan bertemu Caproni, tapi yang jelas mimpi ini adalah modal utama baginya untuk meraih cita-citanya, menjadi seperti Caproni.

Airplanes are beautiful dreams. Engineers turn dreams into reality,” ujar Caproni pada Jiro muda (12:07). Ini sangat menjawab pertanyaan saya mengapa Miyazaki yang dikenal sebagai pakar fantasi, mengakhiri karirnya dengan membuat sebuah film biografi. Karena pada periode itu, terbang (atau menerbangkan orang lain) bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk semata dikhayalkan. Saat itu terbang, bisa jadi fantasi terbesar.

Setelah adegan itu, saya tak membayangkan film berdurasi 126 menit ini akan membosankan. Awalnya terlintas demikian karena buat apa kita menonton film tentang sejarah yang kita tak (merasa perlu) tahu. Tapi separuh dari #15MENIT pertama di ‘The Wind Rises’ adalah fantasi dalam mimpi Jiro mengusir pikiran buruk itu. Siapa bisa bosan dengan fantasi yang dikonstruksi Miyazaki?

Namun yang membuat Miyazaki ternama bukan sekadar karena piawai membangun mimpi, tapi juga membuat cerita di lapis atas sadar karakternya dengan kuat. Saya pikir #15MENIT pertama di film ini akan berakhir ketika Jiro bangun dari tidurnya (13:05). Namun, dua menit setelahnya tampak menjadi pembuka bab penting dalam film ini. Pertemuan kali pertama Jiro dengan Naoko Satomi di atas kereta.

Adegan yang manis saat Naoko menangkap topi bundar Jiro yang tertiup angin. Hampir saja ia jatuh dari kereta. Jiro berganti gerbong untuk mengucapkan terima kasih. Ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Prancis, “Le vent  se leve.” Sebuah puisi ‘Le Cimetiere Marin’ dari Paul Valery , “Il faut tenter de vivre,” ujar Jiro membalas. Keduanya tersenyum

Jiro kembali duduk dan membaca buku, sementara Naomi kembali masuk ke gerbong keretanya. Ia mengulang puisi tadi dalam hening di tengah perjalanan kereta yang bingar. “The wind is rising! We must try to live.” (15:00)

Dan saya akan duduk anteng selama hampir dua jam ke depan karena #15MENIT pertama yang kuat dari film ini. Paling tidak ada tiga alasan. Pertama, menunggu keajaiban sinema lain yang bakal terserak dalam durasi film ini. Kedua, mengulik sejarah tentang Jiro Hiroshiko, yang nantinya dikenal sebagai pembuat kapal perang Jepang di Perang Dunia II. Ketiga, menikmati romantismenya dengan Naoko yang begitu manis di awal film, semoga gulanya tak cepat habis. Semoga bisa segera menulis ulasan panjang mengenai film ini usai film ini habis dilahap. Saya takut saja, terhisap dalam fantasi karya terakhir Hayao Miyazaki dan memilih untuk terus bermimpi.

UPDATE: Setelah membaca beberapa artikel, baru tahu kalau 'Ghibli', studio animasi yang didirikan Miyazaki terinspirasi dari pesawat terbang Caproni Ca.09 dengan julukan 'Ghibli'. Kata ini berasal dari Timur Tengah yang punya arti kurang lebih 'Badai dari Tenggara'. "It's one of my most favourite airplanes," kata Miyazaki.



/

Ditulis Mohammad Andi Perdana (@btork) untuk The Moderntramp. ‘#15MENIT’ adalah tulisan pendek dalam rubrik Seninema: Rubrik ini mencoba untuk menilai sebuah film lebih dari sekadar figur, sampul dan judul. Karena 15 belas menit pertama dalam sinema adalah durasi yang tepat untuk memberi kesan pertama. Pilihannya: lanjut menonton dan siap-siap terpukau; mempercepat banyak adegan film untuk mengetahui bagaimana ceritanya berakhir; atau segera mengakhiri dan melakukan hal lain yang lebih bermanfaat. Tabik.

Thursday, 5 June 2014

SILICON VALLEY - FINALE (2014)

SPOILER ALERT, PAKE BANGET

Minggu ini adalah episode terakhir ‘Silicon Valley’ di musim debutnya yang brilian. Delapan episode yang lebih solid ketinbang serial yang mengisi plot sama di musim tayang sebelumnya, ‘Hello Ladies’. Terlebih karena ‘Silicon Valley’ punya akhir yang klimaks sekaligus menyisakan banyak penasaran untuk musim depan yang baru akan tayang, ...8-10 bulan lagi. Ah. Berikut delapan momen terbaik dari finale ‘Silicon Valley’ yang bikin saya nggak bisa berhenti tertawa, apalagi karena ditonton setelah episode ‘Game of Thrones’ yang begitu depresif.

1) Middle Out. Akhirnya, beres juga era Richard Hendricks yang menyebalkan. Apa-apa panik, apa-apa mual, apa-apa gugup. Akhirnya ia bisa menemukan solusi perumusan efektif kode ‘Pied Piper’ agar bisa melampaui torehan saingannya, ‘Nucleus’. Setelah ini, Richard kembali brilian dan jadi jaminan mutu banyak wanita akan gemas dan akan dengan mudah jatuh cinta padanya.


2) The Dick Joke Scene. Momen ‘middle out’ Richard muncul malah ketika teman-temannya, saking stresnya, bercanda bagaimana mereka harus mempresentasikan Pied Piper (yang amat tak siap) esok hari. Solusinya, Erlich will jerking off all the audience selama presentasi. Dari sini, selama lima menit ke depan, kita akan disuguhkan dick joke paling komperhensif dan lucu dalam layar kaca.


3) Let’s Pivoting. Sementara itu, Jared yang selain frustasi, juga kurang tidur, berharap agar Pied Piper berganti halauan, tak lagi menjadi aplikasi peredam kapasitas. “Bagaimana bila aplikasi ini bisa membuat kalian tahu apakah akan masuk surga atau neraka?” ujarnya. Dengan mata yang lelah, ia akan bertanya pada setiap orang >


4) Satanist sejak Dalam Pikiran. Bicara soal neraka, Gilfoyle kembali pada identitasnya (ia punya tato salib terbalik). Untuk mengungkapkan rasa bahagianya, ia bilang>


5) TechCrunch Disrupt Final. Di depan 800 penonton, Richard mengambil alih presentasi keesokan harinya. Timnya tak tahu apa hasil 'coli otak' yang ia lakukan sehari sebelumnya. Ia hanya mengklaim berhasil menaikan Weismann Score Pied Piper menjadi 3,8. Dan, ---drum roll--- dengan ragu-ragu, ia bisa membuktikan bahwa aplikasinya itu bisa mengkompres file dengan tingkat keefektifan, di luar dugaan 5,2 (lebih dari separuh besar file). Orang-orang kagum, karena skor tertinggi dalam sejarah peredaman kapasitas hanya 2,9. So, akhirnya Pied Piper tak jadi dibantai dan dipermalukan di depan publik. Dan saya tepuk tangan sendirian di kamar kosan.


6) Monica for Playboy Bunnies! Dan karena itu, Richard, berhasil menarik hati Monica. Blunder sih ini showrunner, karena pertama saya pikir terlalu cepat untuk Monica yang punya profesionalisme tinggi (mungkin) jatuh hati pada Richard. Kedua, karena Monica—yang gigi kelincinya membuktikan kalau makhluk pemakan rumput itu tak hanya seksi bila dipajang di majalah Playboy—belum rela untuk saya bagi-bagi, < 3.


7) That Bro/Gay Moment. Semua bersorak, termasuk Jared yang datang terlambat karena puas bobo. Dan jeritannya sebelum memeluk Richard, menjadi salah satu hal yang akan saya kenang dari finale serial ini. (Juga tentunya pertanyaan-pertanyaannya sebelum kontes, “Which one, which one, which one?”). Gay moment nomor tiga di serial ini, setelah 'gay code' antara Dinesh dan Gilfoyle dan kecemburuan Jared pada rekan satu timnya terhadap Richard karena merasa useless di episode silam.


8) RIP Christoper Evan Welch. Dan akhirnya usai kemenangan itu, Pied Piper menarik banyak investor. Untuk kedua kalinya Monica membuat Richard amat panik dan lagi-lagi, muntah. Tapi setidaknya ia sudah membuktikan bahwa ia sanggup menerima tantangan yang diberikan oleh Peter Gregory. Namun sayangnya, karakter terakhir pasti akan direcast pada musim keduanya, dan kalian yang sudah nyantol dengan Peter sejak awal episode, akan sedih melihat apa yang muncul di akhir kredit.



Sekian dan terima kasih, sampai jumpa di musim kedua ‘Silicon Valley’, tentunya dengan besar harapan, seperti ‘Entourage’, bahwa delapan episode sangat singkat untuk serial sebagus ini. Tabik.

Wednesday, 28 May 2014

HALT AND CATCH FIRE (2014)


1
Lee Pace sebagai Thranduil dalam ‘The Hobbit’ membuat orientasi seksual saya, pernah sedikit goyah (dikit banget, haha). Maka ketika namanya muncul sebagai salah satu cast dalam serial terbaru AMC, ‘Halt and Catch Fire’ saya tergoda untuk kembali mengetes orientasi seksual saya. Dan kesannya sama, tanpa rambut pirang panjang yang terurai dan mahkota tanduk rusa, dia tetap memesona.

Sampai tiba-tiba muncul Mackenzie Davies sebagai Cameron Howe, mahasiswi drop-out yang punya ketertarikan tinggi di bidang rakit-merakit personal computer (PC). Saya berkata sambil mesem-mesem, “Ini nih.” sebagai alasan awal mengapa saya akan terus menonton serial ini (dan udah, lupa aja sama Lee Pace, haha). Hobi dan obsesi yang aneh kala itu untuk ‘nak mudo’ di pertengahan tahun 1980’an. Masa personal computer semata milik IBM, dan lainnya mencoba mengekor, tanpa bertendensi untuk melampaui.

Lee Pace sebagai Joe MacMillan merekrut Cameron dalam timnya. Berupaya untuk membuat revolusi di industri komputer. “Computers aren’t the thing. They’re the thing that gets us to the thing,” ujarnya mengutip salah satu artikel Gordon Clark yang diperankan oleh Scoot McNairy. Ia menjadi orang terakhir untuk melengkapi timnya. Bertiga, berniat mengubah dunia karena menganggap banyak hal yang bisa dieksplorasi dari sebuah personal computer, tanpa harus dibatasi monopoli perusahaan besar macam IBM.

Porsi Cameron dalam pilot ini cukup irit. Dalam episode pertama yang rencananya baru akan diputar 1 Juni mendatang, ‘Halt...’ lebih berfokus pada awal mula kerja sama Joe dan Gordon. Dua-duanya punya karakter yang unik. Joe adalah seorang ambisius, pernah bekerja di IBM sebelum akhirnya diterima di Cardiff Electric, sebuah perusahaan kuda hitam yang mencoba mengekor IBM. Joe menjadikannya sebagai tameng legalitas sekaligus batu loncatan untuk obsesinya.

Gordon Clark adalah pekerja biasa di Cardiff, namun sebagai seorang perakit komputer, ia seorang jenius. Bersama istrinya ia pernah merakit The Symphony, proyek gagal personal computer yang menghantui Gordon hingga saat ini. Setelah membaca artikel Gordon yang menggugah dalam majalah ‘Byte’, Joe menawarkannya sebuah kerja sama. Gordon tak ingin masuk dua kali di lubang yang sama, terutama banyak hal yang dipertaruhkan di proyek yang tak murah itu, terutama keluarganya. Belakangan, istri tercinta yang selalu khawatir itu, Donna Clark (Kerry Bishe, keduanya juga berperan sebagai suami istri di ‘Argo’) menyetujui. Sang istri tak ingin bakat luar biasa si suami sia-sia.

Di akhir pekan yang tak kenal waktu, dua orang itu mengotak-atik kode dasar chip IBM. Joe punya visi, dan Gordon punya kemampuan untuk mengeksekusi. Hanya berdua, mereka mampu menjabarkan apa yang berada di balik kode chip yang mengontrol pasar personal computer saat itu. Kesuksesan ini yang membuahkan konflik dalam ‘Halt...’, IBM menggugat Cardiff karena proyek personal Joe itu bocor. Dan belasan pengacara IBM mendatangi Cardiff siap untuk membangkrutkan perusahaan itu.

John Bosworth (Toby Huss), pejabat Cardiff kaget, ia tak tahu apa-apa, tahu-tahu perusahaannya mau dipailitkan saja. Hanya karena ia menerima seorang revolusioner obsesif macam Joe MacMillan di dalam perusahaannya. Joe, kepada John berkata, “Kami siap bertanggung jawab.” Dan Gordon plus Cameron mau tak mau harus menerima konsekuensi dari ‘kelancangan visi’ Joe.

2
Tak seperti Bosworth, Juan Jose Campanella (sang sutradara) tahu apa yang ia dan timnya kerjakan. Sebuah drama berbasis perkembangan teknologi berlatar tahun 1980’an. Visinya, ia benar ingin menciptakan kondisi saat ini dengan akurasi yang berkelas. Tata suara dan musik latar ‘Halt...’, saya suka banget. Salut pun untuk penata busana serial ini yang bisa menampilkan Joe dan Cameron sebagai sosok cool pada masanya, seperti Don Drapper dan wanita-wanitanya dalam ‘Mad Men’ di tahun 1960-an.

Namun yang paling mumpuni adalah karakter-karakter di dalam serial ini. Menyenangkan melihat Joe yang baru saja sedikit frustasi bersikap destruktif dengan tongkat dan bola baseball di kamar apartemennya. Menarik melihat Gordon kembali punya ‘darah segar’ ketika merakit komputer di garasi rumahnya. Dan Cameron, ah, apa-apa juga dia mah menarik.

AMC punya tradisi bagus untuk merekonstruksi masa silam. ‘Mad Men’ di New York era 1960 masih terus berkibar. ‘Breaking Bad’ yang mengambil latar waktu pertengahan 1990-an, bintang lima! Sangat besar harapan saya, ‘Halt...’ punya standar yang sama dengan dua opus magnum itu. Jangan seperti ‘Turn’ yang kembali jauh ke belakang, era perang sipil di Amerika, tapi seleranya serba kurang.

Besar harapan saya karena  ‘Halt...’ punya Lee Pace dan sepasang kekasih alumni Argo. Ketiganya punya karakter kuat, bahkan bila kelak plotnya jadi tiba-tiba membosankan (atau mungkin sulit dimengerti karena terlalu teknis). Plus, Mackenzie Davis bisa menjadi meteor baru yang saya harap beberapa tahun mendatang bisa sering muncul di layar kaca. Mungkin untuk yang belum sadar, ia sebenarnya Robin Scherbatsky yang tak memilih karir di layar kaca, pindah ke New York dan bertemu Ted Mosby dkk. Ia adalah Robin Scherbatsky yang tak punya tujuan hidup, berbakat di dunia komputer, disekolahkan orang tuanya di Texas, dan berpikir, “I’m too cool to school!”

Satu hal dari Cameron tentang serial ini dalam wawancara dengan Crave Online di SXSW 2014, “I feel like the pilot episode is the tamest episode of the season. It’s just so sweet. We are monsters after this.” Potensi itu sudah terlihat dalam sosok Joe, yang merepresentasikan pengusaha muda rakus yang punya kecenderungan sociopath di tahun 1980’an. Bahkan Lee Pace sendiri menyebut karakternya, “Then I looked again and saw someone who looked like Steve Jobs, a little like Donald Trump in the early 1980s,a  little like Gordon Gekko, and a little like the guy with 80s greed. He just wants to make a computer for you. It will serve your life and help you connect the dots." Ah, me-nye-nang-kan!

Dan saya menunggu saat-saat di mana tiga sosok yang di awal menimbulkan simpati itu, menjadi tak terkendali seperti Don Drapper di ‘Mad Men’ dan Heisenberg di ‘Breaking Bad’. Monster yang tak pernah kita takut, karena akuilah, karena kita tak perlu takut dengan apa yang bersemayam dalam diri, dan sesungguhnya, kita membutuhkan itu.

/

‘Halt and Catch Fire’, AMC, 45 minutes (10 episodes, per June 1st, 2014). Directed by: Juan Jose Campanella. Starring: Lee Pace, Mackenzie Davis, Scoot McNairy. IMDb Ratings: TBA, The Moderntramp Ratings: 8,2/10, X)

Saturday, 17 May 2014

REN(T)JANA KYRIE

1
"Depresif ya Kay ternyata. Bukunya sih belum sempet dibaca. Tapi filmnya udah kutonton semalem," ujarku menyambut kedatangan Kyrie yang terlambat setengah jam. Alasannya terjebak hujan. Padahal kan bukannya hujan hanya membasahi? Manusia saja yang ingin terjebak di rintiknya, entah romansa atau trauma. Banyak alasan untuk terjebak dalam hujan.

"Apaan?" ujar Kyrie sambil membuka mantel berwarna cokelat tua yang basah di bagian bahu. Mantel ini hampir dipakainya tiap hari pada musim hujan. Sehingga katanya dengan tameng kain tebalnya itu, ia tak perlu lagi repot membawa payung.

"Norwegian Wood!" Aku menyebut novel karya Murakami yang legendaris itu. Yang malah baru ingin kubaca setelah menonton filmnya. Rinko Kikuchi hampir dibugili di sana, meski aku jauh lebih tertarik pada Reika Kirishima yang memerankan tokoh Reiko.

"Astaga! Belum juga dibaca juga.Udah hampir setahun juga aku pinjemin. Balikin aja ah kalau nggak dibaca-baca. Awas balik-balik novelnya keriting." Ia tak pernah meminjamkan novelnya pada orang lain. Aku adalah pengecualian karena pertama, kami kenal lama, kedua, aku memberi tahu novelnya ada di tanganku dua minggu setelah aku diam-diam ambil dari rak buku di kamarnya. Akhirnya ia ikhlas meminjamkan, itu pun dengan catatan, bukunya tak boleh cedera satu depa pun kala pulang ke raknya.

"Ya nggak lah, aman. Hahaha," ujarku sambil kembali memandangi komputer jinjing yang menemaniku saat menunggu keterlambatannya. Bola mataku bergerak-gerak sambil menaik-turunkan alis, hidungku kembang kempis. Padahal tak ada yang sedang kukerjakan.

"Curiga deh. Ilang ya? Bilang?" Ia menatapku tajam, pandangannya mengiris keningku yang mulai berkerut. Suaranya nyaring kalau sudah mengancam.

"Enggak, ahaha, ahahaha. Iya deng, ilang novelmu iya yang merah. Nanti kuganti deh, janji! ...Eh, atau kudownload aja PDF-nya, mau gak? Ya, ya, ya? Haha, aduh," bola mataku makin bergerak liar. Ingin rasanya bersembunyi ke gelap dan berputar 180 derajat, ke dalam lunar mare. Andai  bisa.

"Aaaah! Enggak mau. Gantiin!" Ia menangkap basah sebelum bola mataku sempat bersembunyi. Ia mendumel karena buku yang hilang terbilang langka. Cetakan pertama Norwegian Wood yang diterbitkan dua seri oleh Kodansha English Library, tahun 1989. "Mati!" ujarku kala menyadari satu dari sepaket novel yang kupinjam darinya hilang. Untung satu lainnya masih selamat. 

"Iya, iya nanti kucari sampai ujung dunia. Rrr, rrr," ujarku merasa bersalah sambil pura-pura mengemeretakan gigi dan memberi pandangan bintang-bintang, meminta iba. Ia melepaskan pandangan tajamnya dariku, mengangguk sedih. Kutahu ia tak bisa lama-lama marah padaku.

“Padahal kan dunia nggak ada ujungnya, Kay,” ujarku berbisik pelan, hihi.

2
"Tapi hubungan Toru (Watanabe) sama Naoko di sana itu seru lho. Kok bisa ya mereka bisa nahan untuk cerita sekian lama tentang Kidzuki?" ujarku mengalihkan pembicaraan. Ia sibuk memesan menu, sambil mendamprat pelayan yang kikuk mendeskripsikan pesanannya. Kasihan.

"Eh sebentar. Kidzuki itu yang mana?" tanyanya.

"Lah, katanya udah khatam, gimana sih?" ujarku mencoba mencairkan suasana. Riskan juga sih takutnya dianggap mengejek.

"Aku bacanya kelas satu SMA, udah lupa. Kidzuki yang mana ya?" tanyanya lagi.
"Temen Naoko dari kecil. Yang mati bunuh diri itu lho,"
"Aaaaah, ya, ya," muka tegangnya mengendur, layu, dan berkabung. "Iya, sedih."
"Eh tapi, kok seru? Apanya?" tanya Kyrie.

"Ya gitu. Tiba-tiba mereka ketemu lagi kan. Setelah sempat kepisah gara-gara tragedi Kidzuki itu. Dua-duanya rindu. Dua-duanya sedih. Eh tapi pas ketemu bisa seru lagi gitu. Bisa berdamai aja gitu dengan masa lalu mereka. Seolah cerita yang dulu bukan lagi hal-hal penting yang perlu dibahas," ujarku memberi alasan.

"Iya, tapi apa serunya?" Ia, lagi-lagi bertanya.

"Ya itu, kemampuan mereka untuk berdamai dengan masa lalu. Depresif banget coba kamu bayangin, temenmu dari kecil, tiba-tiba bunuh diri. Lah aku misal, kamu pasti sedih banget. Nih coba langsung kupraktekkin,” ujarku sambil mencoba menggapai tubuhnya, dan pura-pura nggak kena. “Kay, Kay, kamu denger aku nggak? aku mau ngomong sesuatu,” ujarku pura-pura jadi hantu. “Sedih kan, ngomongnya harus pake perantara kayak di film 'Ghost'," ujarku sambil mencoba menepuk bahunya, tapi lagi-lagi pura-pura gagal, karena dimensinya (ceritanya) beda. Seolah benar kalau aku ini mati, dan yang berbicara dengannya adalah hantuku.

"Shht ah, berisik!" Ia melirik ke meja sebelah, ada seorang wanita duduk sendiri sambil memesan es kopi hitam. Mungkin menunggu temannya yang terjebak hujan sepertiku sejak satu jam lalu. Wanita itu, wajahnya mirip sekali dengan Whoopi Goldberg. Aduh, aku sekuat tenaga menahan tawa. Mungkin ia tak sendiri di sana, bisa jadi ia sedang duduk bersama Patrick Swayze. “Makanya jangan sok-sokan maen-maenin ‘Ghost’!” ujarnya berang tapi sambil menahan tawa. Aku mengangguk.

"Kan Naoko nantinya nggak seberdamai itu sama masa lalunya. Iya nggak sih, aku lupa?" ujarnya mengajakku kembali berbincang tentang novel itu.

"Iya sih, kan di tengah-tengah Toru terus nanya. Penasaran dulu Naoko sama Kidzuki gimana. Sampai ketahuan kalau ya dua-duanya lebih dari sekedar teman. Naoko keinget lagi, depresi lagi, Toru nenangin lagi, keinget lagi, depresi lagi. Gitu aja siklusnya."

"Sekadar! Terus tadi juga praktik, bukan praktek!" ujarnya meralat. Satu hal yang aku sebal darinya, selain keras kepala, adalah kebiasaannya untuk menjadi polisi kata. Sampai-sampai tadi ketika memesan es teh manis, ia sampaikan pada pelayan kikuk yang kena semprotnya, "Gulanya, ala kadarnya aja ya." Aku tahu si pelayan sebenarnya bingung, tapi tak lagi berani bertanya.

"Ya artinya nggak ada yang berdamai dengan masa lalu dong di sana?" ujarnya melanjutkan pembicaraan,  dan lagi-lagi bertanya.

"Iya sih ya. Haha, maksudku awal-awalnya gitu kan. Seru aja tapi tetep. Eh tapi gini lho, maksudku tadi mau nanya gini, penting nggak sih kita berdamai dengan masa lalu?"

"Konteksnya?" Dia malah balik bertanya.
"Ya kayak Toru tadi, kalau dia bertahan buat berdamai dengan masa lalu Naoko, ya aman. Bisa seru terus apa yang mereka jalanin."

"Tapi di satu momen, Toru ngerasa perlu nuntasin segala kepenasarannya dengan minta klarfikasi semua dari Naoko. Dan ya, dia tahu sendiri resikonya... (menahan tawa) Meski ya nanti kita tahu kan yang lebih banyak nanggung bebannya, tetep Naoko," ujarku menjelaskan

"Ya kan katanya beberapa hal yang nggak kita tahu, katanya nggak bakal bikin kita ngilu. ..."
"...Tapi beberapa orang milih buat ngilu, karena mereka sangat ingin tahu, dan mereka nganggap itu penting."
"Jadi buat apa tahu? Apa pentingnya tahu? Apalagi kalau cuma buat bikin ngilu,"

"Ah, kamu kenapa jadi nanya balik muluk," ujarku sedikit kesal, meski ia ada benarnya. Karena aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.

"Buat apa?" ia kembali bertanya, menegaskan.
"Ya, buat apa ya. Ya udah itu, buat ngilu kan, haha. some people can get addicted to a certain kind of sadness. Hahaha, tapi auk ah, ya tanya Toru lah jangan ke saya."

"Ya kamu juga tahu kan gimana akhirnya di sana. Toru akhirnya tahu, penasarannya tuntas. Ia ngilu keras. Tapi toh kan bukan dia yang berakhir tragis di sana?" ia menanyakan satu hal yang kami berdua sudah tahu jawabannya.

"...," aku tak tahu harus bicara apa, mungkin bingung. Tapi mengerti kok, mengerti. Dan aku tahu akan ke mana arah perbincangan ini.

"Kamu tahu kamu ngilu. Tapi bukan berarti orang yang menceritakan semuanya padamu, nggak lebih ngerasa ngilu dari kamu," jawaban Kyrie ini bak pecutan terpedas bagi orang yang terlalu ingin tahu seperti saya. Orang yang sangat ingin tahu, sangat sok tahu, tapi mengakuinya selalu malu.

"Kok aku?" kini giliranku yang bertanya.
"Ini soal Sekar lagi kan?" Ah, nama itu. Terkaan Kyrie. Setelah terdiam beberapa saat, aku tak bisa menahan lebih lama untuk tidak mengangguk.

3
Aku tak berkata-kata. Kembali pura-pura sibuk di depan laptop. Kulirik sedikit, Kyrie tampak sedikit bersalah. Meski tidak, sama sekali ia tak salah. Ia selalu tahu kemana kailku memancing. Apalagi untuk banyak perbincangan  beberapa bulan terakhir. Aku selalu butuh Mori untuk meredakan keresahan yang menggenang entah di bagian mana dalam tubuhku, sehingga kadang sulit rasanya untuk bernafas.

Dan ia selalu berhasil untuk sedikit mengurasnya.  Selalu berhasil untuk menahanku untuk tidak menumpahkan segalanya pada Sekar. Hanya akan membuatnya duka dengan cara yang sudah kuduga, sesuai jawabannya: menorehkan luka.

Bingung menanganiku, ia tanpa pamit pergi ke kamar kecil. Ia berlalu dengan sepatu boots barunya, belum sempat kupuji betapa maskulinnya ia mengenakan itu. Dipadu dengan tas punggung hitam polosnya yang sederhana, membonceng di balik bahunya yang bidang, dalam balutan mantel cokelat yang hangat. Saat itu aku menyadari jangan lagi terlalu banyak bicara. Ia sedang ‘ada tamu’. Selalu saja begitu dari dulu kubilang bawa pouch kecil untuk menyimpan pembalutnya. Jadi tak perlu repot bawa seluruh tas untuk ganti pengaman di tempat umum seperti ini. Ia tak pernah berubah, selalu keras kepala.

Kyrie Amori dan aku seperti Naoko dan Kidzuki, kami mengenal sejak kecil. Tapi kami hanya berteman, tak pernah dan tak berpikir lebih dari teman. Kata orang-orang, "Belum saja." Tapi kami yakin itu. Dan tak ada hal yang salah di luar keyakinan kami berdua.  Ia dan keluarganya pindah ke komplekku pada saat umurku sembilan tahun. Rumahnya selempar bidak kuda catur dari rumahku. Setahun lebih kukira ia lelaki. Karena postur dan potongan rambutnya. Juga karena ia tak pernah menolak ketika kuajak bermain bola.

Aku baru kaget, ketika masuk SMP yang sama, ia memakai rok biru tua ke sekolah. Buah dadanya pun mulai menonjol. Tak hanya kaget, pun takut. Baru pertama kali aku melihat perempuan selaki-laki ini. Baru kutahu belakangan, tomboi istilahnya.

Di SMA, kami mulai dekat karena ia merasa tak nyaman dengan teman-teman wanitanya yang dianggap terlalu ceriwis. Sementara ia tak suka berbasa-basi. Ia mengetuk pintuku setiap pagi dan kadang sarapan di rumah sebelum pergi sekolah. Kami berangkat naik motor. Sekali-kali kuizinkan ia yang mengendarai.

Di sekolah kami saling mengenalkan sebagai sepupu. "Biar orang nggak mikir macem-macem," ujarnya. Meski kadang itu tetap jadi masalah. Beberapa pria urung mendekatinya, karena dipikirnya Kyrie ada apa-apa denganku. Begitu juga sebaliknya kuadrat. Kuadrat karena setiap aku mencoba mendekati teman wanita di SMA, banyak yang beralasan, "Nggak enak sama Kyrie ah," ujar salah satu dari sekian banyak mereka. Kutegaskan kami tak ada apa-apa. Kami cuma sepupu. Atau kadang kalau sedang jahat, kubilang Kyrie tak doyan lelaki. Mereka tetap tak mau mengerti. Belakangan aku menyadari bahwa alasannya bukan karena Kyrie, gadis-gadis itu memang tak mau saja denganku.

Lulus sekolah, kami satu kampus lagi. Satu universitas dan sempat satu kelas selama setahun. Semester ketiga ia mengambil Jurusan Jurnalistik hanya karena jaket almamaternya paling macho. Sementara aku masuk jurusan Manajemen Komunikasi, karena awalnya kupikir di Jurnalistik, ceweknya nggak ada yang ciamik. Aku senang melihatnya tumbuh dewasa, dan menjadi cantik dengan caranya sendiri. Kata seorang temanku di kampus yang naksir padanya, "Cantik yang macho-macho gimana gitu." Aku bingung kadang, berarti kalau begitu ada pula lelaki yang 'ganteng tapi feminim-feminim gimana gitu'. Ah, kenapa juga kupikirkan!

Belajar dari pengalaman masa sekolah. Kami mulai menjaga jarak di kampus. Tak perlu menjaga jarak pun tak masalah baginya. Baru kutahu saat itu, Kyrie bukan tipe wanita yang percaya komitmen dalam berhubungan. “Ya udah temenan aja, nggak harus pacar-pacaran,” ujarnya padaku saat kutanya tentang seorang lelaki yang sedang mendekatinya. Hingga lulus pun, tak ada satupun mahasiswa, bahkan dosen yang nyangkut di hatinya. Sementara aku di tahun ketiga bertemu Sekar. Setelah itu hubungan kami seperti sedia kala, tak lagi perlu menjaga jarak. Tak ada yang perlu dihindari lagi. Sekar pun amat menerima Mori, vice versa. Kadang aku iri, karena Sekar tampak lebih perhatian pada Mori, begitupun sebaliknya. Aku langsung mengingat perkataanku zaman sekolah dulu. "Mori kan nggak suka cowok!" Mengingat itu aku langsung berdoa saban malam agar candaan jahat itu tak dihitung tuhan sebagai harapan.

Kyrie Amori. Namanya diambil dari tiga bahasa asing. 'Kyrie' dalam bahasa Yunani artinya 'tuhan'. Katanya terinspirasi dari lagu Mr. Mister, "Kyrie Eleison" Kami berdua selalu menyanyikannya saat karaoke bersama teman-teman satu geng di kampus. Liriknya kami plesetkan menjadi, "Carry a laser down the road that i must travel." Sambil pura-pura memegang pistol imajiner dan menembaki hadirin-hadirot jemaah karaoke lainnya.

Nama belakangnya pun kusuka. Paduan dari "Amor", dan "Mori". Amor dalam bahasa Spanyol adalah 'cinta', Kyrie menyebutnya dengan istilah ‘hantu’ karena ia percaya hal itu ada tapi tak pernah bisa dilihatnya, dan hal itu selalu membuatnya takut. Sementara itu Mori, diambil dari Bahasa Jepang, artinya 'hutan'. Akan sangat lucu bila pada 1987, tahun kelahirannya, Norwegian Wood tak pernah terbit. "Tadinya aku mau dikasih nama, Kyrie Amor aja. Nggak tahu itu beneran apa becanda. Tapi geli banget, kayak ‘Por Tu Amor’ dong masa. Untung aja diselamatkan Murakami," ujarnya suatu waktu.

‘Norwegian Wood’ yang dikarang Murakami berjudul asli 'Noruwei no Mori'. Ia berutang banyak pada buku ini, namanya jadi cantik dan penuh makna. Kyrie Amori.  "Artinya, dalam hutan, aku menemukan ‘hantu’ dan tuhan. Dalam tuhan, aku menemukan ‘hantu’ dan hutan. Dalam ‘hantu’, aku menemukan tuhan dan hutan."

Ia selalu memberi alegori pada kata-kata dalam namanya itu. 'Hutan' adalah kehidupan, 'tuhan' adalah kematian, dan cinta, atau istilahnya yang lain, ‘renjana’ adalah rencana. "Mori menuju Kyrie, harus dibimbing oleh Amor." Itu yang selalu membuatnya tenang, mampu berdamai dengan situasi apapun. Pun memberikan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. "Dengan mencintai hidup, kamu tak perlu membenci kematian." Ya, setiap orang takut mati, tapi untuk apa membencinya, kata ia. Cintai saja hidup, semoga kematian juga mencintaimu kelak.

Motto yang selalu kudebat, karena menurutku bagaimana orang bisa tak membenci suatu hal yang merebut apa yang dicintainya. "Kalau tiba-tiba kamu dapat lotere, satu miliar misalkan. terus kurampok kamu besoknya, terus kamu aku bikin mati. Apa kamu tak akan membenci kematian?"

"Aku hanya akan membencimu." ujarnya ringan, karena jelas tahu bahwa aku jauh dari serius. Tapi kadang kalau sudah kesal dan terus kutekan kala berdebat tentang hal itu, ia selalu lari ke pertanyaan yang akan ia jawab sendiri ini:

"Kamu punya barang berharga, lalu seseorang mencurinya darimu. Siapa yang akan kau benci? Pencurinya?" tanya Mori yang disambung dengan jawabanny sendiri.

"Kalau aku. Aku hanya akan membenci diriku sendiri karena kelalaianku," ujarnya. Balik kesal, aku langsung mengambil tahu mayo yang masih hangat dari tangannya. Tepat ketika ia hendak menyuapkan itu dalam mulutnya yang sudah menganga besar. Hendak dilahapnya itu mungkin dalam sekali telan.

Dia tertawa pasrah sambil berkata, "Aaah, aku benci kelalaianku. Udah sini balikin aku laper banget," ujarnya sambil memasang muka sedih. Menopang tangannya di dagu, dan gantian memberi pandangan bintang-bintang kepadaku.

“Kamu sadar nggak sih tadi aku ngomong resiko pake 'e' kok tumben nggak rewel?” tanyaku usil. “Aku tahu dari hidungmu yang suka tiba-tiba kembang kempis itu, kapan kamu sengaja ngisengin atau beneran serius salah! Ngapain juga kutanggepin.”

“Ah, udah ah sini balikkin kamu tahu kan kenapa aku suka makan tahu mayo di sini? Karena porsinya pas, jadi kalau kamu ambil satu, mending empat sisanya nggak aku makan daripada ntar kenyangnya nanggung,” ujarnya memohon.

Aku lebih sibuk memerhatikan hidungku dengan ujung mataku. Benar juga ternyata kalau sedang usil, hidungku kembang kempis. Hrr, aku tak suka jika orang lain lebih paham tentangku daripada diriku sendiri. Kyrie masih berisik memohon aku agar mengembalikan cemilannya. Mataku bangkit dan menatapnya tajam. Hidungku sengaja kukembang-kempiskan lebih kuat.

Yyuuummmm! kulahap tahu mayonya dan ia sekuat tenaga mencoba menggigit lenganku.

/

‘Ren(t)jana Kyrie’ ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk The Moderntramp pada Januari 2014. Merupakan bagian entah ke berapa dari cerita panjang yang berjudul sementara ‘Suar Sekar’. Sebuah fiksi

Tuesday, 13 May 2014

TRA-TRA-TRAILERS

1
Dua minggu terakhir banyak banget ya trailer serial-serial keluar (tjrot!). Ada ‘Gotham’, 'Constantine', ‘Wayward Pines’, ‘Last Man on Earth’, ‘Gracepoint’, ‘A to Z’, sampai ‘Utopia’. Di Gotham, seru banget liat Benjamin McKenzie alias Ryan Tokwood dari The OC tampil lagi di serial yang punya kelas. Di sini, ia berperan sebagai James Gordon brondong, sebagai tokoh utama, menceritakan asal-muasal Gotham sebagai kota kriminal tempat kelahiran Batman. Dari dunia komik ada trailer lain dari 'Constantine', cuma untuk sekarang saya masih belum tertarik.

Wayward Pines’ muncul dengan trailer yang memamerkan trofi aktor-aktor dan artisnya, ada Matt Dillon, Mellisa Leo, dan Terrence Howard, semua pernah jadi nominasi Oscar. Semoga serial yang diproduseri oleh M. Night Shyamalan (duh!) ini punya greget lebih tinggi ketimbang serial sejenis macam ‘Under The Dome, ‘Resurrection’, atau juga mungkin ‘Helix’. Orang-orang sih berharapnya ini bakal jadi ‘Twin Peaks’, saya belum nonton euy.

Last Man on Earth’ juga kayaknya seru. Butuh upaya teknis lumayan lho untuk menghilangkan jutaan orang dalam trailernya yang mencakup sejumlah landmark terkenal di dunia, tanpa manusia. Kecuali Will Forte, satu-satunya tokoh dalam serial ini. Di ‘A to Z’, The Mother hidup lagi menjadi Zelda, menjalin romansa dengan karakter bernama Andrew. Trailer serial yang dibikin oleh Rashida Jones (ex Parks and Recreation) ini banyak banget memanfaatkan momen kemunculan efektif Cristin Milloti di ‘How I Met Your Mother’ lewat-lewat dialog dan skena yang antara lain misal, “Zelda, have you met Andrew?” atau ketika mereka berdua ngobrol di bar dan bercerita bagaimana bila kelak menikah mereka akan menceritakan kisahnya pada anak-anak mereka.

Yang seru adalah, ‘Gracepoint’, versi Amrik untuk salah satu serial favorit saya (dan nggak banyak yang nonton tapi, sedih) ‘Broadchurch’. Dari trailernya ini bener-bener plek-plek ambil banyak referensi dari ‘Broadchurch’. Dari mula nada warna, latar, adegan, sampai tokoh utama. Saya suka bayangkan lucu saja gimana rasanya David Tennat kembali harus memerankan karakternya di dua serial berbeda dengan cerita yang plek-plek sama. Ohya, ada Anna Gun (Skylar di ‘Breaking Bad’) di sini, yakin banget saya ia bisa menyamai akting brilian Olivian Colman di ‘Broadchurch’. Tapi sisanya masih perlu disimak nanti di pilotnya.

Terakhir, ‘Uuuuuuutopia’, serial favorit saya lainnya, mau dibuat ulang oleh David Fincher dan Gillian Flynn (my current crush, aak, < 3). Bingung juga kok udah ada lagi trailernya, hhh~, hh~, h~ tak sabar lihat versi Fincher untuk ‘Utopia’ (meski pernah kecewa gara-gara bikin jelek Rooney Mara di ‘Girl with Dragon Tatoo’, phbt!). Pas disimak trailernya, eh, lho kok, ...ternyata ada ‘Utopia’ lain, fak lah. Makanya aneh banget kok ‘Utopia’ tapi kok kayak ‘Siberia’, faklah, faklah, fak, fak.

Dua serial terakhir, ada baiknya ditonton dulu sebelum versi Amriknya keluar, nggak bakal nyesel dijamin deh. Sisanya, ya disimak aja dulu trailernya dan tunggu kapan tanggal serial-serial itu dirilis secara resmi.

/

Ditulis oleh Btok untuk The Moderntramp di Jakarta, 12 Mei 2014

Thursday, 10 April 2014

SILICON VALLEY - MIKE JUDGE (2014)


1
Pada 1987 (tahun ketika saya lahir, bro), Mike Judge sudah lulus SMA dan mulai bekerja selama tiga bulan di lembah terbesar korporasi teknologi mutakhir, yang kini dikenal dengan Silicon Valley. Hanya tiga bulan, ia sudah tak kerasan. “The people I met were like Stepford Wives. They were true believers in something, and I don't know what it was,” ujarnya.
26 tahun berselang, Mike memetakan kembali kultus itu dalam ‘Silicon Valley’, sebuah sitkom satir terbaru garapannya untuk HBO. Richard Hendrix (Thomas Middleditch) adalah programer yang bekerja di sebuah perusahaan multi-teknologi, Hooli, sekaligus sibuk menggarap  aplikasi Pied Piper, yang ia klaim bak Google untuk blantika musik. Richard tak puas hidup sebagai kuli binary, ia masih ingin mengejar mimpinya sebagai techpreneur muda yang punya nama. Ibarat Steve, ia ingin menjadi Wozniak, ketimbang Jobs, Steve yang dinilainya lebih punya esensi ketimbang piawai bersosialisasi. Sebab menurutnya, golongan kedua, adalah poser, dan Silicon Valley kini penuh dengan orang-orang macam itu. Ia muak dengan tren yang berkembang di sana, rapat marketing di atas sepeda pawai, rutinitas brogrammer (programer yang doyan ngegym) atau ritual aneh lainnya yang tak bisa Richard cerna dengan logikanya. Mike Judge, melalui Richard dan Pied Pipernya, mengajak kita untuk menertawakan hal tersebut.
Pied Piper, rupanya punya alogaritma bagus yang memaksimalkan sistem kompresi dalam pengunggahan file ke dunia maya (impresi yang setara dengan apa yang disajikan David Fincher di ‘The Social Network’). Entah apa resepnya, yang pasti, proyek sampingan pekerja Hooli itu jadi rebutan dua tech-bilyuner, Peter Gregory (Christoper Evan Welch, meninggal akhir tahun lalu, gimana dong, :s) dan bosnya sendiri Gavin Belson (Matt Ross). Embrio proyek itu ditaksir bernilai hingga US$ 4 juta dolar, dan kedua horangkayah itu menawar dengan cara yang berbeda. Gavin ingin membelinya tunai, dan Peter hanya ingin berinvestasi di sana.
You can take that money, or keep the company!” Selesai sudah ‘Silicon Valley’ bila Richard memilih opsi yang pertama. Ia akan berakhir seperti Erlich (TJ Miller) yang pernah menyesal menjual mentah-mentah proyek Aviator dan kini hidup ‘luntang-lantung’ di SIlicon Valley, ‘hanya punya’ sebuah rumah ‘agak’ mewah dan mempekerjakan empat orang (salah satunya Richard) programmer/web developer di tempat yang ia sebut sebagai ‘inkubator’.
Dan akhirnya Richard tak memilih jadi budak. Alasan utamanya, jelas ia ingin melihat Pied Piper berkembang dan ia menjadi kepala keluarga dari ‘bayi’ yang dilahirkannya itu. Alasan lain, ia ingin membuat revolusi kecil-kecilan, bahwa Silicon Valley bukanlah Stepford, yang serba mewah, namun ada yang tak genah dalam tiap tingkahnya. Ia ingin membuat populasi kecil di Silicon Valley, yang lebih humanis, bukan robot-robot bertopeng tulang dan kulit yang tak jelas apa yang mereka cari dalam hidup.
Sebab tujuan Richard jelas. Ia ingin sukses, mungkin jadi kaya, mungkin jadi tenar. Tapi ia ingin tetap hidup sukses secara normal. Tak perlu lagi ada rutinitas nge-gym seperti yang dilakukan para brogrammer di kantornya, atau ritual-ritual aneh yang diwajibkan oleh kantornya yang bak menjadi sebuah kultus, tak ada lagi generalisasi grup para programer (seorang Asia Tengah, seorang Asia Timur, seorang pria gendut berambut kucir, dan seorang lain dengan bentuk janggut yang aneh). Ia ingin sukses, dan tetap jadi manusia.
2.
Selain Richard dkk, sebetulnya ada ‘manusia’ lain yang tampil singkat di detik-detik pertama pilot ‘Silicon Valley’ - ‘Minimum Viable Products’. Ia adalah Kid Rock (haha!), yang diundang untuk manggung dalam syukuran Goolybib. “He’s the poorest person here,” ujar Elrich pada Richard di pesta yang dihadiri orang-orang dengan kekayaan hampir US$ 20 juta itu. Dan tak ada yang memperhatikannya, selagi orang-orang kaya itu sibuk memikirkan kultus dalam teknologi masa depan di sebuah pesta. “Fuck these people!” ujar Kid Rock seusai menyanyikan ‘Cucci Galore’.
Tak perlu mengerti dunia pemograman untuk bertanya, “Ini orang-orang kenapa sih?” Karena mereka bisa ditemukan di mana saja. Sebuah dunia yang tampak sederhana, tapi selalu punya geliat mahal dan istimewa. Bila tiap lingkungan punya kelasnya sendiri, ‘Silicon Valley’ akan menyibir tentang tech-elite dan kelas menengah ngehe di sana. Banyak aturan yang tak bisa kita pahami logikanya. Sebuah dunia yang aneh bentuk habluminannasnya.
Mike Judge (kreator Beavis and Butthead) menampilkan pesona unik itu secara satirikal dalam ‘Silicon Valley’. Karena sama-sama diproduksi HBO, dan tiap musimnya hanya diisi delapan episode, skema ini mengingatkan saya akan ‘Hello Ladies’. Hanya saja di kisah satir lain itu, karakter utama Stuart Pritchard ada di pihak yang terbawa arus. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Richard punya mimpi, hanya menjunjung langit dari bumi yang dipilihnya untuk berpijak. Lebih jauh, lewat karakternya, kreator Mike Judge ingin memberi batas pada para tech elite di Silicon Valley, bahwa semakin tinggi mereka ingin terbang, semakin keras kita ingin tertawa.
Karena ‘Silicon Valley’ hadir dengan cara seringan itu (ya, namanya juga komedi satir, bro). Saya pernah baca lupa di mana, beberapa tech-elite, kini memang dikultuskan oleh banyak bawahannya dan partnernya yang demen menjilat. Hal tersebut dihadirkan dan mudah dicerna di pilot serial ini (dan membuat kita geleng-geleng karena tetap tak paham dengan yang mereka lakukan). Misal ketika Richard pertama kali dipanggil big bossnya yang agendanya super-sibuk. “Hardly to describe, he's not humiliating, he's elevating you,” ujar salah satu bawahannya yang hanya pernah bertemu bosnya itu selama 10 menit. Nyatanya, sang bos malah sedang sibuk memperhatikan pola grup bawahannya, mengapa selalu terdiri dari orang Asia Tengah, pria gendut berambut poni, dan pria lain dengan mode janggut yang aneh. Dan penasihat spiritualnya malah berkata, “You have great understanding in humanity.” WTF.
Yang seperti ini nih, yang menjadi akar kuluts dari banyak perusahaan teknologi mutakhir di ‘Silicon Valley’, dan membuatnya lambat laun jadi seperti Stepford tanpa harus menghadirkan gadis-gadis berkaki jenjang. Para programer berbakat ini cukup beruntung, bekerja di perusahaan besar dengan gaji dan fasilitas nyaman. Tapi banyak yang takut untuk berpikir seperti Richard, “I don’t wanna be a lifer here (at Hooli).” Karena jelas, Richard tak mau jadi bagian kultus tersebut.
3.
Semua karakter di inkubator milik Erlich, termasuk ia sendiri, punya potensi jadi geng baru yang siap diperbincangkan selama delapan pekan ke depan. Karakter Elrich, memang paling ngehe sih. Misal, kengototannya untuk mendapat 10 persen bagian dari penjualan Pied Piper, yang sebelumnya ia anggap sampah. Highlight lain, ada Martin Starr (Bill Haverchuck di ‘Freaks and Geeks’) di sini sebagai karakter satanis, “Hail to The Dark Lord!” yang punya tato salib terbalik di lengannya. Senang rasanya melihat satu per satu alumnus Freaks and Geeks dapat porsi lagi di kancah pertelevisian Amerika yang kini jaya lagi. Karakter Big Head juga mengundang simpatim, justru karena kerendah diriannya, juga tentunya aplikasi Nipple Alert yang sedang digarapnya.
Salut juga untuk Kid Rock, yang mau-maunya dibayar untuk jadi orang paling miskin di Silicon Valley. Manggung setengah lagu, tapi siapa yang mau peduli. Sudah kurang apa lagi, itu hanya lima menit di episode perdana, dan saya sudah cekikikan. Di tengah episode, malah muncul Andy Dale (yang belakangan saya simak di ‘Review’, Comedy Central), jadi dokter yang menangani Richard pas kena panik akut. Muncul sebentar, tapi bikin ketawa KO karena sudah hampir jadi penasihat terburuk dalam karir Richard.
Karakter Richard sendiri diperankan Thomas Middleditch secara apik. Takaran kerendah-diriannya pas untuk kita sebut sebagai geek yang bermartabat. Gaya kikuknya pun juga membuatnya mudah disukai. Kadang saya melihat ada karisma Seth Cohen (The OC) dalam perannya.
Semoga di tujuh episode sisa, penampilannya prima dan banyak cameo lain yang tetap membumikan serial ini. ‘Silicon Valley’ membutuhkan itu karena topik yang diangkat, sangat tersegmentasi, tak semua mudah dimengerti. ‘Silicon Valley’ perlu dibuat tetap waras dan wajar, karena ironis nanti, jika komedi satir ini malah menjadi ‘cult’ untuk para programer sakit hati yang seolah ingin berteriak, “Occupy, Silicon Valley!”
/
‘Silicon Valley’, HBO, 30 minutes (8 episode, per April 6th, 2014). Created by: Mike Judge. Starring: Thomas Middleditch, TJ Milller, Josh Brener, Martin Starr, Kumail Nanjiani. IMDb Ratings: 8,5/10 from 920 users. The Moderntramp Rating: 8,4/10, X).