Saturday, 17 May 2014

REN(T)JANA KYRIE

1
"Depresif ya Kay ternyata. Bukunya sih belum sempet dibaca. Tapi filmnya udah kutonton semalem," ujarku menyambut kedatangan Kyrie yang terlambat setengah jam. Alasannya terjebak hujan. Padahal kan bukannya hujan hanya membasahi? Manusia saja yang ingin terjebak di rintiknya, entah romansa atau trauma. Banyak alasan untuk terjebak dalam hujan.

"Apaan?" ujar Kyrie sambil membuka mantel berwarna cokelat tua yang basah di bagian bahu. Mantel ini hampir dipakainya tiap hari pada musim hujan. Sehingga katanya dengan tameng kain tebalnya itu, ia tak perlu lagi repot membawa payung.

"Norwegian Wood!" Aku menyebut novel karya Murakami yang legendaris itu. Yang malah baru ingin kubaca setelah menonton filmnya. Rinko Kikuchi hampir dibugili di sana, meski aku jauh lebih tertarik pada Reika Kirishima yang memerankan tokoh Reiko.

"Astaga! Belum juga dibaca juga.Udah hampir setahun juga aku pinjemin. Balikin aja ah kalau nggak dibaca-baca. Awas balik-balik novelnya keriting." Ia tak pernah meminjamkan novelnya pada orang lain. Aku adalah pengecualian karena pertama, kami kenal lama, kedua, aku memberi tahu novelnya ada di tanganku dua minggu setelah aku diam-diam ambil dari rak buku di kamarnya. Akhirnya ia ikhlas meminjamkan, itu pun dengan catatan, bukunya tak boleh cedera satu depa pun kala pulang ke raknya.

"Ya nggak lah, aman. Hahaha," ujarku sambil kembali memandangi komputer jinjing yang menemaniku saat menunggu keterlambatannya. Bola mataku bergerak-gerak sambil menaik-turunkan alis, hidungku kembang kempis. Padahal tak ada yang sedang kukerjakan.

"Curiga deh. Ilang ya? Bilang?" Ia menatapku tajam, pandangannya mengiris keningku yang mulai berkerut. Suaranya nyaring kalau sudah mengancam.

"Enggak, ahaha, ahahaha. Iya deng, ilang novelmu iya yang merah. Nanti kuganti deh, janji! ...Eh, atau kudownload aja PDF-nya, mau gak? Ya, ya, ya? Haha, aduh," bola mataku makin bergerak liar. Ingin rasanya bersembunyi ke gelap dan berputar 180 derajat, ke dalam lunar mare. Andai  bisa.

"Aaaah! Enggak mau. Gantiin!" Ia menangkap basah sebelum bola mataku sempat bersembunyi. Ia mendumel karena buku yang hilang terbilang langka. Cetakan pertama Norwegian Wood yang diterbitkan dua seri oleh Kodansha English Library, tahun 1989. "Mati!" ujarku kala menyadari satu dari sepaket novel yang kupinjam darinya hilang. Untung satu lainnya masih selamat. 

"Iya, iya nanti kucari sampai ujung dunia. Rrr, rrr," ujarku merasa bersalah sambil pura-pura mengemeretakan gigi dan memberi pandangan bintang-bintang, meminta iba. Ia melepaskan pandangan tajamnya dariku, mengangguk sedih. Kutahu ia tak bisa lama-lama marah padaku.

“Padahal kan dunia nggak ada ujungnya, Kay,” ujarku berbisik pelan, hihi.

2
"Tapi hubungan Toru (Watanabe) sama Naoko di sana itu seru lho. Kok bisa ya mereka bisa nahan untuk cerita sekian lama tentang Kidzuki?" ujarku mengalihkan pembicaraan. Ia sibuk memesan menu, sambil mendamprat pelayan yang kikuk mendeskripsikan pesanannya. Kasihan.

"Eh sebentar. Kidzuki itu yang mana?" tanyanya.

"Lah, katanya udah khatam, gimana sih?" ujarku mencoba mencairkan suasana. Riskan juga sih takutnya dianggap mengejek.

"Aku bacanya kelas satu SMA, udah lupa. Kidzuki yang mana ya?" tanyanya lagi.
"Temen Naoko dari kecil. Yang mati bunuh diri itu lho,"
"Aaaaah, ya, ya," muka tegangnya mengendur, layu, dan berkabung. "Iya, sedih."
"Eh tapi, kok seru? Apanya?" tanya Kyrie.

"Ya gitu. Tiba-tiba mereka ketemu lagi kan. Setelah sempat kepisah gara-gara tragedi Kidzuki itu. Dua-duanya rindu. Dua-duanya sedih. Eh tapi pas ketemu bisa seru lagi gitu. Bisa berdamai aja gitu dengan masa lalu mereka. Seolah cerita yang dulu bukan lagi hal-hal penting yang perlu dibahas," ujarku memberi alasan.

"Iya, tapi apa serunya?" Ia, lagi-lagi bertanya.

"Ya itu, kemampuan mereka untuk berdamai dengan masa lalu. Depresif banget coba kamu bayangin, temenmu dari kecil, tiba-tiba bunuh diri. Lah aku misal, kamu pasti sedih banget. Nih coba langsung kupraktekkin,” ujarku sambil mencoba menggapai tubuhnya, dan pura-pura nggak kena. “Kay, Kay, kamu denger aku nggak? aku mau ngomong sesuatu,” ujarku pura-pura jadi hantu. “Sedih kan, ngomongnya harus pake perantara kayak di film 'Ghost'," ujarku sambil mencoba menepuk bahunya, tapi lagi-lagi pura-pura gagal, karena dimensinya (ceritanya) beda. Seolah benar kalau aku ini mati, dan yang berbicara dengannya adalah hantuku.

"Shht ah, berisik!" Ia melirik ke meja sebelah, ada seorang wanita duduk sendiri sambil memesan es kopi hitam. Mungkin menunggu temannya yang terjebak hujan sepertiku sejak satu jam lalu. Wanita itu, wajahnya mirip sekali dengan Whoopi Goldberg. Aduh, aku sekuat tenaga menahan tawa. Mungkin ia tak sendiri di sana, bisa jadi ia sedang duduk bersama Patrick Swayze. “Makanya jangan sok-sokan maen-maenin ‘Ghost’!” ujarnya berang tapi sambil menahan tawa. Aku mengangguk.

"Kan Naoko nantinya nggak seberdamai itu sama masa lalunya. Iya nggak sih, aku lupa?" ujarnya mengajakku kembali berbincang tentang novel itu.

"Iya sih, kan di tengah-tengah Toru terus nanya. Penasaran dulu Naoko sama Kidzuki gimana. Sampai ketahuan kalau ya dua-duanya lebih dari sekedar teman. Naoko keinget lagi, depresi lagi, Toru nenangin lagi, keinget lagi, depresi lagi. Gitu aja siklusnya."

"Sekadar! Terus tadi juga praktik, bukan praktek!" ujarnya meralat. Satu hal yang aku sebal darinya, selain keras kepala, adalah kebiasaannya untuk menjadi polisi kata. Sampai-sampai tadi ketika memesan es teh manis, ia sampaikan pada pelayan kikuk yang kena semprotnya, "Gulanya, ala kadarnya aja ya." Aku tahu si pelayan sebenarnya bingung, tapi tak lagi berani bertanya.

"Ya artinya nggak ada yang berdamai dengan masa lalu dong di sana?" ujarnya melanjutkan pembicaraan,  dan lagi-lagi bertanya.

"Iya sih ya. Haha, maksudku awal-awalnya gitu kan. Seru aja tapi tetep. Eh tapi gini lho, maksudku tadi mau nanya gini, penting nggak sih kita berdamai dengan masa lalu?"

"Konteksnya?" Dia malah balik bertanya.
"Ya kayak Toru tadi, kalau dia bertahan buat berdamai dengan masa lalu Naoko, ya aman. Bisa seru terus apa yang mereka jalanin."

"Tapi di satu momen, Toru ngerasa perlu nuntasin segala kepenasarannya dengan minta klarfikasi semua dari Naoko. Dan ya, dia tahu sendiri resikonya... (menahan tawa) Meski ya nanti kita tahu kan yang lebih banyak nanggung bebannya, tetep Naoko," ujarku menjelaskan

"Ya kan katanya beberapa hal yang nggak kita tahu, katanya nggak bakal bikin kita ngilu. ..."
"...Tapi beberapa orang milih buat ngilu, karena mereka sangat ingin tahu, dan mereka nganggap itu penting."
"Jadi buat apa tahu? Apa pentingnya tahu? Apalagi kalau cuma buat bikin ngilu,"

"Ah, kamu kenapa jadi nanya balik muluk," ujarku sedikit kesal, meski ia ada benarnya. Karena aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.

"Buat apa?" ia kembali bertanya, menegaskan.
"Ya, buat apa ya. Ya udah itu, buat ngilu kan, haha. some people can get addicted to a certain kind of sadness. Hahaha, tapi auk ah, ya tanya Toru lah jangan ke saya."

"Ya kamu juga tahu kan gimana akhirnya di sana. Toru akhirnya tahu, penasarannya tuntas. Ia ngilu keras. Tapi toh kan bukan dia yang berakhir tragis di sana?" ia menanyakan satu hal yang kami berdua sudah tahu jawabannya.

"...," aku tak tahu harus bicara apa, mungkin bingung. Tapi mengerti kok, mengerti. Dan aku tahu akan ke mana arah perbincangan ini.

"Kamu tahu kamu ngilu. Tapi bukan berarti orang yang menceritakan semuanya padamu, nggak lebih ngerasa ngilu dari kamu," jawaban Kyrie ini bak pecutan terpedas bagi orang yang terlalu ingin tahu seperti saya. Orang yang sangat ingin tahu, sangat sok tahu, tapi mengakuinya selalu malu.

"Kok aku?" kini giliranku yang bertanya.
"Ini soal Sekar lagi kan?" Ah, nama itu. Terkaan Kyrie. Setelah terdiam beberapa saat, aku tak bisa menahan lebih lama untuk tidak mengangguk.

3
Aku tak berkata-kata. Kembali pura-pura sibuk di depan laptop. Kulirik sedikit, Kyrie tampak sedikit bersalah. Meski tidak, sama sekali ia tak salah. Ia selalu tahu kemana kailku memancing. Apalagi untuk banyak perbincangan  beberapa bulan terakhir. Aku selalu butuh Mori untuk meredakan keresahan yang menggenang entah di bagian mana dalam tubuhku, sehingga kadang sulit rasanya untuk bernafas.

Dan ia selalu berhasil untuk sedikit mengurasnya.  Selalu berhasil untuk menahanku untuk tidak menumpahkan segalanya pada Sekar. Hanya akan membuatnya duka dengan cara yang sudah kuduga, sesuai jawabannya: menorehkan luka.

Bingung menanganiku, ia tanpa pamit pergi ke kamar kecil. Ia berlalu dengan sepatu boots barunya, belum sempat kupuji betapa maskulinnya ia mengenakan itu. Dipadu dengan tas punggung hitam polosnya yang sederhana, membonceng di balik bahunya yang bidang, dalam balutan mantel cokelat yang hangat. Saat itu aku menyadari jangan lagi terlalu banyak bicara. Ia sedang ‘ada tamu’. Selalu saja begitu dari dulu kubilang bawa pouch kecil untuk menyimpan pembalutnya. Jadi tak perlu repot bawa seluruh tas untuk ganti pengaman di tempat umum seperti ini. Ia tak pernah berubah, selalu keras kepala.

Kyrie Amori dan aku seperti Naoko dan Kidzuki, kami mengenal sejak kecil. Tapi kami hanya berteman, tak pernah dan tak berpikir lebih dari teman. Kata orang-orang, "Belum saja." Tapi kami yakin itu. Dan tak ada hal yang salah di luar keyakinan kami berdua.  Ia dan keluarganya pindah ke komplekku pada saat umurku sembilan tahun. Rumahnya selempar bidak kuda catur dari rumahku. Setahun lebih kukira ia lelaki. Karena postur dan potongan rambutnya. Juga karena ia tak pernah menolak ketika kuajak bermain bola.

Aku baru kaget, ketika masuk SMP yang sama, ia memakai rok biru tua ke sekolah. Buah dadanya pun mulai menonjol. Tak hanya kaget, pun takut. Baru pertama kali aku melihat perempuan selaki-laki ini. Baru kutahu belakangan, tomboi istilahnya.

Di SMA, kami mulai dekat karena ia merasa tak nyaman dengan teman-teman wanitanya yang dianggap terlalu ceriwis. Sementara ia tak suka berbasa-basi. Ia mengetuk pintuku setiap pagi dan kadang sarapan di rumah sebelum pergi sekolah. Kami berangkat naik motor. Sekali-kali kuizinkan ia yang mengendarai.

Di sekolah kami saling mengenalkan sebagai sepupu. "Biar orang nggak mikir macem-macem," ujarnya. Meski kadang itu tetap jadi masalah. Beberapa pria urung mendekatinya, karena dipikirnya Kyrie ada apa-apa denganku. Begitu juga sebaliknya kuadrat. Kuadrat karena setiap aku mencoba mendekati teman wanita di SMA, banyak yang beralasan, "Nggak enak sama Kyrie ah," ujar salah satu dari sekian banyak mereka. Kutegaskan kami tak ada apa-apa. Kami cuma sepupu. Atau kadang kalau sedang jahat, kubilang Kyrie tak doyan lelaki. Mereka tetap tak mau mengerti. Belakangan aku menyadari bahwa alasannya bukan karena Kyrie, gadis-gadis itu memang tak mau saja denganku.

Lulus sekolah, kami satu kampus lagi. Satu universitas dan sempat satu kelas selama setahun. Semester ketiga ia mengambil Jurusan Jurnalistik hanya karena jaket almamaternya paling macho. Sementara aku masuk jurusan Manajemen Komunikasi, karena awalnya kupikir di Jurnalistik, ceweknya nggak ada yang ciamik. Aku senang melihatnya tumbuh dewasa, dan menjadi cantik dengan caranya sendiri. Kata seorang temanku di kampus yang naksir padanya, "Cantik yang macho-macho gimana gitu." Aku bingung kadang, berarti kalau begitu ada pula lelaki yang 'ganteng tapi feminim-feminim gimana gitu'. Ah, kenapa juga kupikirkan!

Belajar dari pengalaman masa sekolah. Kami mulai menjaga jarak di kampus. Tak perlu menjaga jarak pun tak masalah baginya. Baru kutahu saat itu, Kyrie bukan tipe wanita yang percaya komitmen dalam berhubungan. “Ya udah temenan aja, nggak harus pacar-pacaran,” ujarnya padaku saat kutanya tentang seorang lelaki yang sedang mendekatinya. Hingga lulus pun, tak ada satupun mahasiswa, bahkan dosen yang nyangkut di hatinya. Sementara aku di tahun ketiga bertemu Sekar. Setelah itu hubungan kami seperti sedia kala, tak lagi perlu menjaga jarak. Tak ada yang perlu dihindari lagi. Sekar pun amat menerima Mori, vice versa. Kadang aku iri, karena Sekar tampak lebih perhatian pada Mori, begitupun sebaliknya. Aku langsung mengingat perkataanku zaman sekolah dulu. "Mori kan nggak suka cowok!" Mengingat itu aku langsung berdoa saban malam agar candaan jahat itu tak dihitung tuhan sebagai harapan.

Kyrie Amori. Namanya diambil dari tiga bahasa asing. 'Kyrie' dalam bahasa Yunani artinya 'tuhan'. Katanya terinspirasi dari lagu Mr. Mister, "Kyrie Eleison" Kami berdua selalu menyanyikannya saat karaoke bersama teman-teman satu geng di kampus. Liriknya kami plesetkan menjadi, "Carry a laser down the road that i must travel." Sambil pura-pura memegang pistol imajiner dan menembaki hadirin-hadirot jemaah karaoke lainnya.

Nama belakangnya pun kusuka. Paduan dari "Amor", dan "Mori". Amor dalam bahasa Spanyol adalah 'cinta', Kyrie menyebutnya dengan istilah ‘hantu’ karena ia percaya hal itu ada tapi tak pernah bisa dilihatnya, dan hal itu selalu membuatnya takut. Sementara itu Mori, diambil dari Bahasa Jepang, artinya 'hutan'. Akan sangat lucu bila pada 1987, tahun kelahirannya, Norwegian Wood tak pernah terbit. "Tadinya aku mau dikasih nama, Kyrie Amor aja. Nggak tahu itu beneran apa becanda. Tapi geli banget, kayak ‘Por Tu Amor’ dong masa. Untung aja diselamatkan Murakami," ujarnya suatu waktu.

‘Norwegian Wood’ yang dikarang Murakami berjudul asli 'Noruwei no Mori'. Ia berutang banyak pada buku ini, namanya jadi cantik dan penuh makna. Kyrie Amori.  "Artinya, dalam hutan, aku menemukan ‘hantu’ dan tuhan. Dalam tuhan, aku menemukan ‘hantu’ dan hutan. Dalam ‘hantu’, aku menemukan tuhan dan hutan."

Ia selalu memberi alegori pada kata-kata dalam namanya itu. 'Hutan' adalah kehidupan, 'tuhan' adalah kematian, dan cinta, atau istilahnya yang lain, ‘renjana’ adalah rencana. "Mori menuju Kyrie, harus dibimbing oleh Amor." Itu yang selalu membuatnya tenang, mampu berdamai dengan situasi apapun. Pun memberikan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. "Dengan mencintai hidup, kamu tak perlu membenci kematian." Ya, setiap orang takut mati, tapi untuk apa membencinya, kata ia. Cintai saja hidup, semoga kematian juga mencintaimu kelak.

Motto yang selalu kudebat, karena menurutku bagaimana orang bisa tak membenci suatu hal yang merebut apa yang dicintainya. "Kalau tiba-tiba kamu dapat lotere, satu miliar misalkan. terus kurampok kamu besoknya, terus kamu aku bikin mati. Apa kamu tak akan membenci kematian?"

"Aku hanya akan membencimu." ujarnya ringan, karena jelas tahu bahwa aku jauh dari serius. Tapi kadang kalau sudah kesal dan terus kutekan kala berdebat tentang hal itu, ia selalu lari ke pertanyaan yang akan ia jawab sendiri ini:

"Kamu punya barang berharga, lalu seseorang mencurinya darimu. Siapa yang akan kau benci? Pencurinya?" tanya Mori yang disambung dengan jawabanny sendiri.

"Kalau aku. Aku hanya akan membenci diriku sendiri karena kelalaianku," ujarnya. Balik kesal, aku langsung mengambil tahu mayo yang masih hangat dari tangannya. Tepat ketika ia hendak menyuapkan itu dalam mulutnya yang sudah menganga besar. Hendak dilahapnya itu mungkin dalam sekali telan.

Dia tertawa pasrah sambil berkata, "Aaah, aku benci kelalaianku. Udah sini balikin aku laper banget," ujarnya sambil memasang muka sedih. Menopang tangannya di dagu, dan gantian memberi pandangan bintang-bintang kepadaku.

“Kamu sadar nggak sih tadi aku ngomong resiko pake 'e' kok tumben nggak rewel?” tanyaku usil. “Aku tahu dari hidungmu yang suka tiba-tiba kembang kempis itu, kapan kamu sengaja ngisengin atau beneran serius salah! Ngapain juga kutanggepin.”

“Ah, udah ah sini balikkin kamu tahu kan kenapa aku suka makan tahu mayo di sini? Karena porsinya pas, jadi kalau kamu ambil satu, mending empat sisanya nggak aku makan daripada ntar kenyangnya nanggung,” ujarnya memohon.

Aku lebih sibuk memerhatikan hidungku dengan ujung mataku. Benar juga ternyata kalau sedang usil, hidungku kembang kempis. Hrr, aku tak suka jika orang lain lebih paham tentangku daripada diriku sendiri. Kyrie masih berisik memohon aku agar mengembalikan cemilannya. Mataku bangkit dan menatapnya tajam. Hidungku sengaja kukembang-kempiskan lebih kuat.

Yyuuummmm! kulahap tahu mayonya dan ia sekuat tenaga mencoba menggigit lenganku.

/

‘Ren(t)jana Kyrie’ ditulis oleh Mohammad Andi Perdana untuk The Moderntramp pada Januari 2014. Merupakan bagian entah ke berapa dari cerita panjang yang berjudul sementara ‘Suar Sekar’. Sebuah fiksi