1.
Goenawan Mohamad kini berhenti menulis berita, pernah berhenti menulis puisi, tapi ia tidak pernah berhenti menulis. Rangkai Kicaunya masih rajin kita simak di lini masa. Tulisan panjangnya masih rutin mejeng tiap minggu Tempo. Kata Toriq Hadad dalam '40 Tahun Kecap Dapur Tempo', Bagi GM, begitu ia akrab disapa, menulis adalah kutukan. Kutukan yang mencerahkan.
Lalu apa alasan kita berhenti menulis? Karena kita tak dikutuk? Bersyukurlah. Kecuali berkaitan dengan pekerjaan, menulis hura-hura, seperti kisah diri memang tak punya deadline. Maka kadang sabuk kita longgarkan. Kita sibuk untuk hal-hal lain yang sama tak pentingnya.
Bagi beberapa orang, menulis memang tak penting. Sebagian malah menganggapnya genting. Padahal banyak hal yang kita alami setiap hari. Mata melihat sesuatu yang baru, telinga menguping kisah-kisah yang lucu. Hidung menghirup aroma pemicu nostalgia, lidah mengecap aneka rasa. Begitu besarnya waktu, sempitnya keberanian kita untuk mengarsipkannya.
Bahkan untuk cerita paling ringan sekalipun, selalu ada perasaan berat saat tangan mulai menjamah papan ketik, dan layar putih di komputer kursor garis datarnya terus berkelap-kelip. Kursor yang menunggu, menerjemahkan apa yang ada dalam pikiranmu. Apa yang menghambat keberanian itu? Salah satunya adalah anggapan bahwa menulis adalah beban, bukan hiburan.
Butuh berapa detik kamu untuk merampungkan kalimat pertama dalam tulisan? Cepat ya, tapi secepat itu juga biasanya kamu menghapusnya kembali. Kadang sambil mengerenyitkan dahi, merona pipi, atau malah tak kuasa menahan senyum. Menulis dalam keraguan itu meresahkan, tapi menemukan kalimat pembuka yang cantik itu mengasyikan. Setelahnya nikmat akan bermunculan seperti berada dalam perahu yang mengarungi sungai pembelah hutan perawan. Tapi jangan lupa, karena itu pula, terlalu nikmat dalam menulis juga membahayakan. Tapi namanya juga petualangan, bukankah kau harus berani menyelesaikan apa yang kau mulai.
Maka itu, saya menganggap menulis adalah hiburan, sebuah vakansi. Liburan yang menyegarkan pikiran dan mengenyahkan beban. Bercerita tentang kisah diri dan orang-orang yang mempengaruhi, tentang perjalanan dan perenungan, dan dengan gaya tragedi maupun komedi adalah kebutuhan yang menyenangkan. Baik atau buruk silakan menjadi perspektif masing-masing pembaca. Tapi ingin menjadi lebih baik dalam tiap perjalanan kata itu adalah niscaya.
'Aku menulis, maka aku berlibur' adalah awal dari peribahasa 'sehari sepatah kata, lama-lama setumpuk buku'. Bismillah.
Goenawan Mohamad kini berhenti menulis berita, pernah berhenti menulis puisi, tapi ia tidak pernah berhenti menulis. Rangkai Kicaunya masih rajin kita simak di lini masa. Tulisan panjangnya masih rutin mejeng tiap minggu Tempo. Kata Toriq Hadad dalam '40 Tahun Kecap Dapur Tempo', Bagi GM, begitu ia akrab disapa, menulis adalah kutukan. Kutukan yang mencerahkan.
Lalu apa alasan kita berhenti menulis? Karena kita tak dikutuk? Bersyukurlah. Kecuali berkaitan dengan pekerjaan, menulis hura-hura, seperti kisah diri memang tak punya deadline. Maka kadang sabuk kita longgarkan. Kita sibuk untuk hal-hal lain yang sama tak pentingnya.
Bagi beberapa orang, menulis memang tak penting. Sebagian malah menganggapnya genting. Padahal banyak hal yang kita alami setiap hari. Mata melihat sesuatu yang baru, telinga menguping kisah-kisah yang lucu. Hidung menghirup aroma pemicu nostalgia, lidah mengecap aneka rasa. Begitu besarnya waktu, sempitnya keberanian kita untuk mengarsipkannya.
Bahkan untuk cerita paling ringan sekalipun, selalu ada perasaan berat saat tangan mulai menjamah papan ketik, dan layar putih di komputer kursor garis datarnya terus berkelap-kelip. Kursor yang menunggu, menerjemahkan apa yang ada dalam pikiranmu. Apa yang menghambat keberanian itu? Salah satunya adalah anggapan bahwa menulis adalah beban, bukan hiburan.
Butuh berapa detik kamu untuk merampungkan kalimat pertama dalam tulisan? Cepat ya, tapi secepat itu juga biasanya kamu menghapusnya kembali. Kadang sambil mengerenyitkan dahi, merona pipi, atau malah tak kuasa menahan senyum. Menulis dalam keraguan itu meresahkan, tapi menemukan kalimat pembuka yang cantik itu mengasyikan. Setelahnya nikmat akan bermunculan seperti berada dalam perahu yang mengarungi sungai pembelah hutan perawan. Tapi jangan lupa, karena itu pula, terlalu nikmat dalam menulis juga membahayakan. Tapi namanya juga petualangan, bukankah kau harus berani menyelesaikan apa yang kau mulai.
Maka itu, saya menganggap menulis adalah hiburan, sebuah vakansi. Liburan yang menyegarkan pikiran dan mengenyahkan beban. Bercerita tentang kisah diri dan orang-orang yang mempengaruhi, tentang perjalanan dan perenungan, dan dengan gaya tragedi maupun komedi adalah kebutuhan yang menyenangkan. Baik atau buruk silakan menjadi perspektif masing-masing pembaca. Tapi ingin menjadi lebih baik dalam tiap perjalanan kata itu adalah niscaya.
'Aku menulis, maka aku berlibur' adalah awal dari peribahasa 'sehari sepatah kata, lama-lama setumpuk buku'. Bismillah.
:mohammad. andiperdana, 0902.12






