Thursday, 9 February 2012

MENULIS ITU VAKANSI

1.

Goenawan Mohamad kini berhenti menulis berita, pernah berhenti menulis puisi, tapi ia tidak pernah berhenti menulis. Rangkai Kicaunya masih rajin kita simak di lini masa. Tulisan panjangnya masih rutin mejeng tiap minggu Tempo. Kata Toriq Hadad dalam '40 Tahun Kecap Dapur Tempo', Bagi GM, begitu ia akrab disapa, menulis adalah kutukan. Kutukan yang mencerahkan.

Lalu apa alasan kita berhenti menulis? Karena kita tak dikutuk? Bersyukurlah. Kecuali berkaitan dengan pekerjaan, menulis hura-hura, seperti kisah diri memang tak punya deadline. Maka kadang sabuk kita longgarkan. Kita sibuk untuk hal-hal lain yang sama tak pentingnya.

Bagi beberapa orang, menulis memang tak penting. Sebagian malah menganggapnya genting. Padahal banyak hal yang kita alami setiap hari. Mata melihat sesuatu yang baru, telinga menguping kisah-kisah yang lucu. Hidung menghirup aroma pemicu nostalgia, lidah mengecap aneka rasa. Begitu besarnya waktu, sempitnya keberanian kita untuk mengarsipkannya.

Bahkan untuk cerita paling ringan sekalipun, selalu ada perasaan berat saat tangan mulai menjamah papan ketik, dan layar putih di komputer kursor garis datarnya terus berkelap-kelip. Kursor yang menunggu, menerjemahkan apa yang ada dalam pikiranmu. Apa yang menghambat keberanian itu? Salah satunya adalah anggapan bahwa menulis adalah beban, bukan hiburan.

Butuh berapa detik kamu untuk merampungkan kalimat pertama dalam tulisan? Cepat ya, tapi secepat itu juga biasanya kamu menghapusnya kembali. Kadang sambil mengerenyitkan dahi, merona pipi, atau malah tak kuasa menahan senyum. Menulis dalam keraguan itu meresahkan, tapi menemukan kalimat pembuka yang cantik itu mengasyikan. Setelahnya nikmat akan bermunculan seperti berada dalam perahu yang mengarungi sungai pembelah hutan perawan. Tapi jangan lupa, karena itu pula, terlalu nikmat dalam menulis juga membahayakan. Tapi namanya juga petualangan, bukankah kau harus berani menyelesaikan apa yang kau mulai.

Maka itu, saya menganggap menulis adalah hiburan, sebuah vakansi. Liburan yang menyegarkan pikiran dan mengenyahkan beban. Bercerita tentang kisah diri dan orang-orang yang mempengaruhi, tentang perjalanan dan perenungan, dan dengan gaya tragedi maupun komedi adalah kebutuhan yang menyenangkan. Baik atau buruk silakan menjadi perspektif masing-masing pembaca. Tapi ingin menjadi lebih baik dalam tiap perjalanan kata itu adalah niscaya.

'Aku menulis, maka aku berlibur' adalah awal dari peribahasa 'sehari sepatah kata, lama-lama setumpuk buku'. Bismillah.

:mohammad. andiperdana, 0902.12

Tuesday, 7 February 2012

TENTANG TJANDRA


1.

Bulan yang pipinya merah pada pukul tiga dini hari adalah bulan yang merona dan meronda. Kukalungkan sarung ke lehernya dan kutiup daun telinganya. Bila kucumbu kau malam ini masihkah kau liar meronta?

Lalu, tiba-tiba keping basahmu di riak telaga menyatu kembali dalam ambang yang tenang. Aku melemparmu lagi, bayang bulan, dengan sebongkah batu kali yang meloncat tiga kali. Kau pecah dalam refleksi yang sunyi. Kau desah.

Bulan kau bisu kata orang-orang yang tak tahu, bahwa lenguhanmu tertelan rambat ruang dan waktu. Di sini aku menghamba dan memuja, wahai temaram yang syahdu. Temaram yang malu-malu.

Cerminmu muka telaga. Berkali goyah, kembali utuh tak tercacah. Andai aku bisa sekuat itu. Lewat angin yang berisik, kau berbisik. Untung menang kau hanya butuh tenang.

:hujan, 0702.12

Wednesday, 25 January 2012

SUSAN DAN SHALAT JUMAT


Ada dua hal yang bikin saya menahan senyum sepanjang hari ini. Keduanya terjadi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kuningan, Jakarta Selatan (25/01). Agenda sidang adalah kesaksian dari Y untuk terdakwa kasus wisma atlet, MN. Sidang berlangsung alot, hampir sembilan jam, dan lebih dari setengah waktunya dipakai untuk menjawab pertanyaan dari kuasa hukum terdakwa.

Debat tak kunjung berhenti antara saksi Y dan salah satu pengacara terdakwa, HPH. Si pengacara begitu berapi-api, sampai hakim menyuruhnya untuk menjauhkan mic, agar suaranya tidak terdengar terlalu keras. Sementara saksi tak mau kalah, ngotot, memberi kesaksian yang memberatkan. Lucunya, entah orang lain juga sadar atau tidak, suara saksi Y ini menurut saya identik sekali dengan tokoh boneka ciptaan Ria Enes, yakni Susan. Kemudian saya berpikir, apakah di balik wajahnya yang tertutup cadar, suara itu benar keluar dari mulutnya, atau perutnya?

Yang kedua, saksi Y sempat marah di persidangan karena merasa pihak terdakwa menghinanya dengan menuduh tubuhnya dipasangi kabel. Maksudnya, MN cs. curiga ada orang yang memberi instruksi pada Y dari jarak jauh. “Soalnya kesaksiannya berubah-rubah, kami jadi kesal,” ujar HPH.

Tak habis akal, Y balik menghina MN, di ujung sidang, menjawab pertanyaan MN yang melulu tanya keterkaitannya dengan AU:

MN : “Apakah anda pernah melihat AU di kantor?”
Y : “Ya, saya pernah lihat AU, waktu itu bapak (MN) menemaninya shalat Jumat.”
MN : “Jadi...” (Y buru-buru memotong)
Y : “Mohon izin bu hakim, tanpa maksud mendiskreditkan terdakwa, jika AU tidak datang, bapak biasanya tak pernah shalat Jumat.”
Sweet revenge, Susan!

:mohammad andiperdana, 2501.12

Sunday, 1 January 2012

2012



2012 itu cantik. Angka kembar, sepasang, dan ganda muncul mengapit si ‘nol’ dan sang ‘satu’. Artinya macam-macam, bisa jadi; perlu usaha ganda untuk menjadi nomor satu. Atau, kamu mungkin butuh mencari sepasang dirimu untuk melengkapi satu. Mmmh, atau, kamu akan menemukan kembarmu dan menyadari bahwa kamu bukanlah sesatunya di dunia ini.

Singkat kata, tahun ini memberi kesempatan kita harus bekerja, bercinta, dan berteman lebih keras. Hidup punya 365 hari baru untuk dinikmati. Maka bersenang-senanglah, karena pada akhirnya kamu adalah nol dan satu.

Selamat tahun baru!

:petang galajingga, 0101.12

Sunday, 27 November 2011

BELLAGIO ERGO SUM



Ketika telepon semakin pintar, beberapa penggunanya malah semakin bodoh. Bellagio Ergo Sum, aku punya Blackberry Bold 9790, maka aku ada.


Ibu-ibu pasti marah, apalagi yang gemar diskon. Memburu barang kortingan adalah seni, bukanlah sebuah kebodohan. Maka berjejallah seniman-seniman amatir itu di depan Pasific Place, Jakarta Selatan dari pagi buta ketika tahu Research in Motion (RIM) akan menjual produk terbarunya, BB 9790 Bellagio dengan setengah harga kepada seribu pembeli pertama di Indonesia.

Cerita hari pertama rilis produk teknologi bergengsi selalu diselingi cerita antri. Di negara maju, hal tersebut lazim, fanatik jelas ingin menjadi kalangan yang disebut Paul Saffo sebagai early adopters. Para pengantri yang punya waktu dan uang yang luang lebih sekadar ingin jadi ombak pertama yang menyapu pantai prestise.

Antrian rapi, calon pembeli tertib, standar operasional transaksi yang mumpuni digunakan pengelola untuk menjadikan hari kelahiran produknya sebagai perayaan, bukan musibah. Tak ada cerita duka mengantri demi barang impian, harusnya perburuan barang diskonan bukan kegiatan yang memalukan.

Agaknya panitia lupa, bahwa di negara dunia ketiga, manusia sudah lelah percaya bahwa Tuhan sayang orang sabar, antri bukan lagi budaya tertib, ia semata barisan yang harus dikalahkan untuk menjadi yang terdepan. Panitia pun terlalu menganggap remeh daya beli masyarakat ibukota. Ketika daya beli manusia makin buas, tak satupun dari norma, etika, dan estetika yang bisa mengalahkan konsumtivitas.

Maka sebetulnya jangan heran, bila semut-semut yang mengerubungi Pasific Place pada Jumat (25/11) bikin rusuh. Ahli filsafat ekonomi B Herry Priyono memberi kritik pada masyarakat konsumtif itu sebagai kaum yang tak tahu mana yang diinginkan dan dibutuhkan. Dari mata turun ke iklan, berjalan kemudian dari mulut ke mulut, dan telinga mereka yang berada di setiap penjuru tempat diskon mendengar seolah-olah hal tersebut berguna dan paling penting bagi diri mereka.

Adiksi buruk terhadap konsumerisme, konon membawa eksistensi ke tahap yang lebih baru. Sejarah mencatat pada abad ke-17 eksistensi berada dalam pikiran, maka Rene Descartes mengucap, “Corgito, ergo sum.” Abad ke-18, para penyair-penyair romantik memberi peran bahwa 'ada' bukan hanya dalam pikir, tapi juga dalam hati. Khusus di Indonesia, terekam dalam sajak Peter Meinke di awal abad ke-21, pikir dan hati tak lagi menjadi pertanda ‘ada’ manusia, melainkan nafsu. Dalam lariknya ia berteriak, “Libido ergo sum.” Aku punya nafsu, maka aku ada.

Masyarakat konsumerisme tak mau kalah menyatakan, mereka bikin konkrit eksistensi yang sebelumnya tak berwujud ke dalam genggaman yang nyata. Kisruh membara karena ternyata mereka tak cukup untuk berteriak, “Aku punya gadget, maka aku ada!” Tapi mereka selalu ingin menjadi yang pertama, walau dengan berbagai cara.

Amatlah perlu diperhatikan pernyataan bijak dari budayawan Jakob Soemardjo, “Kekayaan bukan soal kepemilikan, tapi soal penggunaan.” Dari sini kita tahu, bahwa yang berdesak-desakan kemarin hanyalah sekumpulan orang ‘miskin’, mereka yang jauh dari ‘kaya’ justru karena tidak banyak berbuat baik dengan kekayaan yang mereka miliki.

Jadi, orang-orang miskin, apa yang membuatmu merasa ‘kaya’ di dunia ini?

Saturday, 19 November 2011

POHON KEPOMPONG

Agustus 2010,
Sebelum pohon kepompong, Pakistan diguyur hujan besar, hujan yang sedianya disimpan untuk sepuluh tahun, turun dalam waktu hanya satu minggu. Pakistan, negeri yang dibelah Sungai Indus yang kuno, ketar-ketir. Menyapu dari dataran tinggi Pashtun di utara, ke Sindh di selatan yang dijepit oleh Laut Arab yang dingin.

Maka banjir terbit dari rintik-rintik hujan yang tiada henti, menenggelamkan Pakistan, korban tewas berjatuhan. Jumlahnya mencapai lebih dari 1.600 jiwa. Empat juta penduduk mengungsi, rumah-rumah mereka dikunjungi tamu yang amat kurang ajar, banjir. Kata mereka, “Anjir!”

Seminggu berlalu, Pakistan menjadi ceruk, air menggenang tanpa mengenal mana kota, mana desa. Tak ada tetanda kapan, kaki para warga bisa kembali menginjak tanah mereka yang kering tanpa harus basah.

Yang panik tak hanya manusia, juga laba-laba. Jutaan mereka naik ke tiap-tiap pohon yang ada. Membuat sarang di sana, dan membalut setiap ranting dan daun dengan jejaring mereka yang mistis. Tim Burton pasti suka, imajinasinya menjadi nyata.

via Russell Watkins

Russell Watkins, direktur multimedia untuk Department of International Development (DFID), lembaga Inggris penyalur bantuan sosial untuk negara dunia ketiga. Ia merekam fenomena ini dan mengirimkan fotonya untuk bersaing dalam NatGeo Photo Contest 2011. (huj)

Mmmh, ada yang ikut kontesnya?

SANG PENARI


(109 minutes)
directed by: Ifa Isfansyah
starring: Prisia Nasution, Oka Antara, Slamet Rahardjo
Salto Film
(2011)


Akhirnya Rasus (Oka Antara) menyerah, ia tak mampu membendung keinginan Srintil untuk menjadi ronggeng. Itu jalan hidupnya, kata Srintil (Pia Nasution). Selain itu, menjadi ronggeng adalah upaya Srintil untuk memulihkan nama baik keluarganya yang hancur karena insiden yang dicipta kedua orang tuanya di Dukuh Paruk. Srintil masih kecil saat itu, saat tempe bongkrek yang dijual ayahnya ternyata mengandung racun, membunuh beberapa warga, termasuk Surti (Happy Salma), ronggeng terakhir Dukuh Paruk. Ayah dan ibunya kemudian juga mati, mereka mencoba buktikan bongkrek mereka tak beracun, sayangnya tak terbukti. Itulah hari ketika Srintil menjadi yatim piatu.

Hubungannya makin dekat dengan Rasus, pemuda lugu yang dikenalnya sejak kecil. Rasus memegang keris warisan Eyang Secamenggala yang jatuh di hari tewasnya Surti. Ia tahu tak ada gunanya lagi menahan keris tersebut karena Srintil akan terus menari meski tanpa restu dari dukun ronggeng, Kertarejasa (Slamet Rahardjo). Rasus menyerah, hari itu Dukuh Paruk punya ronggeng lagi, Srintil namanya, dengan keris warisan Eyang Secamenggala tersemat di baju tarinya. Dukuh Paruk menyiapkan pesta besar.

Yang bikin Rasus rada susah untuk ikhlas adalah menjadi ronggeng di Dukuh Paruk tak semata menari. Kali pertama sanga gadis meronggeng dikenal istilah ‘buka kelambu’, yakni menyerahkan keperawanan sang penari pada pria yang menawar paling mahal. Hal ini amat memberatkan Rasus, menyerahkan Srintil pada kehormatan adat yang tak pernah bisa dimengertinya.

Setidaknya bila Srintil hanya ingin menari, ia tak akan segelisah ini. Namun kecemburuan benaknya menimbulkan kecemburuan bahwa Srintil tak hanya ingin menari, tetapi juga menikmati status istimewa sebagai seorang ronggeng. Status mulia yang dipuja seluruh desa, meski harus rela ditiduri penawar tertinggi setiap kali habis menari. Berkah desa menumpu di golek dan selangkangannya.

Kegelisahan memuncak, bagi keduanya saat malam ‘buka kelambu’ tiba. Debar resah hati mereka segemuruh tetabuhan pesta yang disiapkan untuk malam istimewa. Hanya beberapa saat sebelum momen paling penting dalam kehidupan seorang ronggeng terjadi, Srintil membuat keputusan penting, menyerahkan keperawannya pada orang yang paling dia sayangi, Rasus, di pelosok desa yang remang, keduanya bercinta dalam gamang.

Setelah malam itu Rasus menghilang dari Dukuh Paruk, Srintil makin moncer sebagai ronggeng, kehidupan di desa kering itu hijau kembali. Kabar terakhir Rasus si pemuda lugu, melamar sebagai tentara. Menjadi bagian dari garda republik rentan yang umurnya masih belum mapan. Waktu di mana kekuatan-kekuatan kelima masuk desa dan memberi provokasi pada rakyat untuk melakukan pemberontakan pada negara.

Adalah Bakar (Lukman Sardi), yang lewat pidato yang berapi-apinya meyakinkan warga Dukuh Paruk untuk bersikap oposisi terhadap kekuatan yang dikendalikan negara. “Tanah untuk rakyat,” adalah salah satu propaganda populer yang dikampanyekannya. Dengan jeli, ia juga melihat potensi kesenian rakyat macam ronggeng dan tari tayub sebagai salah satu alat yang efektif mengumpulkan massa, untuk kemudian dikendalikannya sebagai aksi-aksi penyampai tanda bahaya pada negara. Dukuh Paruk yang sempat kuning kering, lalu hijau, kini merah menyala.

Inilah masa yang ingin direkam sutradara Ifa Isfansyah dalam ‘Sang Penari’. Tapi sebagaimana judulnya, bukan dimensi waktu itu yang ingin disuarakannya. Film ini memberi fokus pada pada yang lebih detil, maknailah kisah seorang wanita yang ingin diberikan kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Selebihnya, termasuk juga Rasus, hanya romantisme, dan kejadian politik seputar 1965, hanya eufimisme.

Film ‘Sang Penari’ diinspirasi oleh trilogi novel Dukuh Paruk yang diciptakan Ahmad Tohari pada 1980’an. Sebelum ‘Sang Penari’, novel pertamanya, ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ pernah difilmkan dengan judul ‘Darah dan Mahkota Ronggeng’ pada 1983. Secara kualitas, boleh dibilang filmnya jeblok, terlebih karena mengeksploitasi seksualitas dalam diri Srintil. Pelajaran penting yang tak boleh diulang Ifa dalam ‘Sang Penari’. Tak dipungkiri bahwa sensualitas ronggeng menjadi salah satu aspek penting dalam film, tapi Ifa mencoba menghindari eksploitasi dengan menyeimbangkan dengan aspek romansa, komodifikasi adat, dan latar belakang sejarah dalam trilogi Ahmad Tohari.

Bila ‘Sang Penari’ dirilis lima atau sepuluh tahun lebih awal, peran Srintil pasti jatuh ke Happy Salma (di ‘Sang Penari’ memerankan Surti). Kesulitannya, mampukah Happy memunculkan ekspresi lugu dalam diri Srintil. Beruntunglah kru kasting menemukan Pia Nasution, wanita hitam manis yang sebelumnya kita sering pantengi di film-film televisi esceteve (dibaca dengan nada Jeremy Teti). Pia adalah Happy Salma di usia menuju prima, dengan tingkat keluguan yang lebih proporsional untuk memerankan Srintil dibanding Salma. Terpilihnya Pia, menekan tingkat eksploitasi wanita dalam ‘Sang Penari’, karena dalam penilaian subjektifku, Happy Salma memiliki daya tarik fisik yang jauh lebih menarik.


Tapi bukan itu yang kita cari dari sosok Srintil, bukan pula apa yang Rasus cari. Pemuda canggung yang bertranformasi menjadi sosok tentara andalan itu diperankan dengan apik oleh Oka Antara. Penampilannya cukup mengejutkan, penggemarnya yang terbiasa dengan peran-perannya yang cool, akan sedikit ilfil dengan pendalaman karakter yang dilakukannya untuk Rasus. Saya termasuk yang kagum dan terkejut akan kesanggupannya memerankan Rasus. Peran-peran pendukung lain seperti Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, dan Tio Pakusadewo tetap bermain prima meski tak jadi sosok utama. Patut dipuji kemampuan Ifa untuk memoles kepercayaan diri Oka dan Pia agar tetap mencolok di tengah bintang-bintang pendukung yang sinar karirnya lebih dulu terang.

Saat Jakarta bergolak akibat gerakan yang dituding makar, tinggal menunggu waktu saja tsunami kisruhnya sampai di Dukuh Paruk. Desa yang terlanjur merah ini ketar-ketir, pasalnya, Partai Komunis Indonesia dituding sebagai biang kekacauan. Meski punya banyak waktu untuk melarikan diri, sesungguhnya warga Dukuh Paruk tak mengerti bahwa mereka semata bidak. Saat penyapuan hal-hal yang berkaitan dengan komunis terjadi, Dukuh Paruk hanya menyisakan puing.

Saat itulah Rasus teringat Srintil, sesatunya wanita yang ia cinta. Bila ini roman, pertanyaannya adalah, “Apakah Rasus dapat menyelamatkan Srintil?” Tapi ‘Sang Penari’ sekali lagi kutegaskan, menempatkan posisinya setingkat di atas itu. Jika dilihat lebih jeli, film ini tak berinti di hubungan antar personal Rasus dan Srintil, melainkan pergolakan batin dalam diri Srintil. Beberapa pihak merasa judul ‘Sang Penari’ begitu kering, namun apa mau dikata, memang Srintil sentrisnya.

‘Sang Penari’ sukses membagi kalangan yang telah membaca novelnya menjadi pro dan kontra. Beberapa menilai Ifa telah sukses menghadirkan imaji yang dituliskan Ahmad Tohari. Sebagian lagi menilai ‘Sang Penari’ kehilangan rasa puitis, interpretasi dialognya terasa kering dan tak puitis. Namun bagi yang belum membaca novelnya, seperti saya, dari segi peran, sinematografi, penataan alur, logika cerita, hingga usaha untuk menghadirkan nuansa pergolakan di era revolusi, ‘Sang Penari’ adalah sebuah usaha yang epik. Skala kolosal untuk film Indonesia, dan seluruh pihak yang terlibat dalam film ini patut berbangga. Terimakasih karena telah memberi harapan pada sinema bangsa, teruslah menari, dan kami akan setia duduk menonton dan menemani. (amr)