Wednesday, 20 March 2013

SSSST... ADA YANG GILA



1.
Tak ada hari yang lebih baik daripada hari ini. Bangun dengan kabar bahagia, lewat tautan yang dikirim seorang teman. Tentang Sore dan single barunya berjudul 'Sssst...'.
Anj*ng! emang. Baru saja kecele, sampai minggu lalu saya masih mengira band ini bubar. Gara-garanya, waktu mereka manggung di Kuningan, saya seolah dengar, "Ini panggung terakhir kami." Ternyata setelah dicek lagi, "Ini panggung terakhir kami dengan Mondo (Ramondo Gascaro, keyboard). Hehe.
Entah kali ya, dunia kerja udah bikin saya luput banyak hal penting yang saya suka. Bisa-bisanya menganggap demikian dan putus asa tanpa lebih lanjut memverifikasi. Atau mungkin dalam beberapa hal, saya tak pernah lagi berharap banyak. Album terakhir mereka dirilis hampir lima tahun lalu. Personil-personilnya sibuk dengan proyek sampingan, dari mengisi original soundtrack banyak film keren hingga Molly May yang tak kalah kerennya. Terlalu lama rasanya untuk tetap berharap.
Alih-alih saya pikir sempat tak apa kehilangan satu 'sore', tapi toh, lima elemen senjanya masih tetap saya nikmati karya-karya terbarunya. Hingga sadar suatu waktu, satu senja megah yang utuh, tak akan pernah bisa kamu nikmati terpisah.
Tentang Sore, saya sempat, masih dan akan terus selalu suka. Kalau tak salah, sampai tak pernah absen jika mereka manggung di Bandung. Tak ada lagi rasanya bagi saya, sebuah band yang lebih dari separuh lirik di seluruh albumnya hafal di luar kepala. Atau dalam skala 'lebih'nya, tak ada lagi rasanya, lagu-lagu yang ketika terdengar secara random di sebuah tempat, membuatmu bergeming, berhenti melakukan kegiatan apapun, kecuali Sore. Bagi saya, mendengar 'Sore', ibarat sebuah ibadah yang bisa dilakukan kapan saja.
Meski tak pernah bosan (ah, andai ibadah semudah ini). Ada kalanya, saya ingin mendengar lantunan ayat-ayat baru dari mereka. Jelas rindu, tapi di satu sisi juga penasaran, bagaimana musiknya kini setelah ditinggal Mondo. Dan seorang teman beberapa hari lalu mengirim tautan berita, kalau tak salah judulnya 'Sore Garap Album Baru'. Sekaligus memverifikasi bahwa keputusasaan saya salah.
Dan kini, 'Ssst...' mengiang di telinga. Saya tak terkejut dan mungkin tak ikut-ikut berkata 'Gila!'. Karena tiap mendengar pertama kali, musik mereka selalu tak pernah berhasrat memuaskan. Tapi mengajak berpikir, lewat lirik, nada, dan bagaimana mereka melantunkannya. Sore adalah sebuah band, yang membikin penggemarnya puas dengan pikiran mereka sendiri. Maka tak aneh, bila sekarang saya merasa baru bisa menikmati 'Setengah Lima', single pertama di album 'Ports of Lima'. Sekian lama..., entah saya sulit merasa puas, atau begitu lambat otak ini mencerna, xp.
Dalam 'Sssst...', jelas dahaga kampiun mulai tercicil. Ibarat sebuah oase di kemarau karya mereka selama lima tahun terakhir. Seolah saya bisa berkata, “Mata air sudekat!” ketika mendengarnya.
Tapi tanpa Mondo, jelas ada yang kurang. Entah apa istilah teknisnya, tapi saya tak lagi mendengar peluit sendu dari tuts-tuts piano di bawah jemari Mondo. Bukan berarti lagunya nggak bagus, tapi ya seperti ini misal: senja kemarin dan hari ini tak akan pernah lagi sama, walau setara takjubnya. Dan barangkali ke depannya memang Sore bakal begini konsepnya. Harapan saya di albumnya kelak, nomor megah seperti 'Bebas' di album pertama dan '400 Elegi' di kedua masih membentang. Walau pasti, tak bakal lagi ada semacam 'No Fruits for Today'.
Saya suka artwork lagu ini. Begitu depresif, sesuai pesan lagu yang hendak disampaikan. Kurang gila apalagi coba orang yang hendak menyedot (bukan menenggak!) sebotol obat nyamuk cair. Seolah pesannya: Jangan gila, nanti cepat mampus. Haha!

2.
Sebuah lagu yang bagus selalu membikin saya membayangkan ilustrasinya. Dalam 'Ssst...' saya membayangkan seorang yang jadi gila, karena malu untuk marah, karena mememdam begitu lama ternyata lelah. Kurang lebih begini ceritanya:
- - - Seseorang masuk ke sebuah ruangan kedap suara dan cahaya. Penuh barang-barang yang memang sudah siap dirusak, menunggu dibanting dan dipiting. Dan tunggu apalagi gelas-gelas kristal pecah, piranti kayu patah. Tembok retak, keramik-keramik berserak. Ruangan ini mempersilakan orang-orang waras menjadi gila. Dan nantinya kembali waras ketika tak ada lagi barang yang bisa dirusak kecuali dirinya sendiri. Setelah tenang, ia keluar dari ruangan itu, seorang gadis kecil yang menunggunya di luar. Gadis kecil itu ketakutan melihat ia yang penuh peluh, matanya nyalang.
"Ssst..." ujarnya sambil tersenyum. Satu telunjuknya disilangkan di garis bibir. Mata yang nyalang itu seketika lembut. "Apakah orang 'gila' tak boleh punya harapan? Atau harapan telah membuat orang-orang menjadi gila?" ujar gadis itu kelak ketika dewasa. Membayangkan lelaki yang dulu bilang akan menunggunya dewasa, untuk mempersuntingnya. Lelaki yang sekarang nyawanya sudah hilang entah ke mana, karena gila, ia terlalu letih untuk berharap. - - -

3.
Lagu ini memang terdengar sedikit psycho (seperti ‘In 1997 The Bullet Was Shy’), tapi amat menyenangkan. Setidaknya bagi kampiun karena telah mengobati rindu. Dan pula menyenangkan bagi para orang-orang 'gila', untuk tak pernah kehilangan harapan.
Dan akhirnya menyenangkan bagi saya, karena tak ada yang lebih baik dari hari ini. Ketika satu lagu datang seolah membaca situasi yang sedang terjadi. Lagu itu mengiang di telinga untuk dinikmati sekaligus mencoba memperingatkan, "Ku bisa gila tak berharap."
Tak ada yang lebih baik dari hari ketika kamu diingatkan untuk tak letih ber-asa, meski risikonya, kamu bisa (dibilang) gila. Tapi dalam setiap waras yang terpendam, kita sudah punya 'gila'-nya sendiri. Jadi jangan pernah membuang ke'gila'an, karena 'gila' punya jiwa. Maka tetaplah 'gila', tapi jangan pernah hilang harapan, agar kelak tak jadi gila.
- - -
Ditulis Btok di Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (20/3) dengan penuh harap.