Tuesday, 30 July 2013

BAPAKE

Saya tahu ada ada beberapa hal menyenangkan datang, bukan sebagai pengganti, karena memang beberapa hal tak akan terganti. Tapi, tak ada salahnya untuk merasa sedikit senang. Senang karena beberapa hal menyenangkan datang, untuk mengingatkan.
Terakhir kali berkomunikasi dengan Bapak, mungkin Oktober dua tahun lalu. Sebelum dia terkena stroke, mendadak sekali dan kami semua kaget. Orang yang tak pernah mengeluh sakit selama hidupnya. Memang ya, tak ada yang pasti di dunia ini.
Komunikasi saya dengan Bapak begitu klise. Ia lahap habis semua halaman koran hampir setiap hari. Langganannya, Kompas untuk skala nasional, Pikiran Rakyat untuk skala regional. Setelah pensiun, ya teman sejati di pagi harinya, dua surat kabar itu.
Menjelang siang, saya baru bangun. Ya kami ngobrol soal apa yang dibacanya tadi pagi. Tentang apa saja, dari politik  hingga olahraga. Ngobrol ngalor ngidul dan sok bener tentang negara, atau tentang hasil pertandingan sepak bola semalam. Kata ibu, ia komentator sejati. Kasarnya, "Jago komentar doang." Bapak hanya tersenyum mendengarnya.
Entah kenapa mendadak rindu obrolan klise macam itu. Saya amat bersyukur stroke tak memisahkannya selamanya dari saya. Tapi juga kecewa karena itu pula, saya tak bisa lagi berkomunikasi kata-ke-kata dengannya. Stroke tak hanya pernah membuat separuh tubuhnya lumpuh, tapi juga membuat kemampuan bicaranya lenyap. Setelah itu, ia hanya mengangguk, menggeleng, dan tersenyum terhadap orang-orang yang bercengkerama padanya.
Kerinduan terhadap sosok orang tua laki-laki sedikit terbayar dua pekan lalu. Pulang dari Jakarta, singgah di tempat teman menjelang sahur. Jelas ada yang menyambut, karena sudah 'wanci janari'. Menunggu makanan siap saji, kami ngobrol ngalor-ngidul. Bapak si teman ini juga gandrung obrolan seputar media massa. Topik-topik terhangat ia ikuti. Kami jadi mengobrol tentang itu, juga tentang hal-hal lain yang lebih sederhana, tentang hidup, kerja, dan rencana-rencana ke depannya (nggak sederhana-sederhana banget ternyata, xp). Senang saja rasanya ketika bertemu bapak-bapak yang lebih tua, menaruh perhatian lebih terhadap kita, di saat, ya mungkin sedikit banyak yang merasa, kita rindu perhatian macam itu. Ya, menyenangkan rasanya.
Dan ia menawarkan untuk sahur di tempatnya. Obrolan masih jauh dari usai. Rasanya tak ada salahnya untuk menyicip masakan ibu si teman yang terkenal jago masak ini. Tergoda pula. Tapi di rumah juga ada yang berharap saya tiba. Meski biasanya makanan sahurnya cuma 'ceplok endog' dan ayam goreng yang dipanaskan sisa semalam.
Seperti yang sudah saya bilang di atas. Beberapa hal menyenangkan datang untuk mengingatkan. Di rumah, Bapak yang ternyata ikut puasa pasti menunggu. Meski ia tak bisa secara eksplisit bilang rindu. Tawaran itu, justru jadi pengingat bahwa masih ada tanggung jawab lain yang harus saya penuhi.
Saya pamit. Di perjalanan pulang ke rumah yang tak sampai setengah jam saya berharap Bapak cepat pulih lagi. Membaca koran lagi dan kembali bertukar cerita tentang apa yang tercetak di sana. Sekarang mungkin beda rasanya, saya jadi salah satu pelakunya, peliput berita-berita itu. Bapak mungkin senang.
Atau ya bila itu terlalu berat. Setidaknya hanya ingin mendengar ia berkata, "Gimana kabarmu sekarang?" Dan saya akan bercerita tentang semuanya, mengalihkan perhatannya dari segala apa yang ia dengar, lihat dan baca. Saya bersyukur masih diberi kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya.
- - -
Ditulis oleh Btok di Radio Dalam, Jakarta Selatan (29/7) setelah menonton Le Grand Voyage.
- - -