Friday, 2 August 2013

KARMA: INTRODUKSI

via 199932real

#001
Karma adalah akibat dari hal-hal yang tak (sempat) terjelaskan. Hal-hal yang tak terselesaikan. Menghindari karma, aku hanya perlu menuntaskan segalanya secara lugas.
>< 
"Hallo, hallo! Aku bisa jelaskan. Bukan, bukan. Aku tak bermaksud demikian, biar kujelaskan dulu. Tunggu, tunggu!" ujarnya dengan nada tinggi. Kubiarkan saja mereka berbicara selama beberapa menit. Aku tak ingin menguping. Kunyalakan sebatang rokok sambil menunggu di sebuah sofa lapuk di gudang tua yang gelap ini.
Sebab tugasku bukan menguping. Tugasku membunuhnya.
"Hallo, hallo, hallo! Hai, tolong, telepon dia lagi," ujarnya dengan nada tinggi dalam keadaan terikat di sebuah bangku kayu yang lapuk. Telepon genggamku tergeletak di meja besi di depan sekapnya. Terdengar bunyi menutut, tut-tut-tut, dari lubang suara telepon genggamku. Lawan bicaranya menutup sambungan. Lawan bicaranya, orang yang menyewaku untuk membunuhnya.
"Kau sudah tahu kan siapa aku? Siapa pula yang menyuruhku dan alasan mengapa ia ingin aku membunuhmu," ujarku.
"Tunggu sebentar, aku bisa menjelaskannya. Biarkan aku bicara padanya sekali lagi," ujar ia. Keringat dingin membasahi kemeja putihnya yang terpapar noda tanah. Lututnya gemetaran. Kurang banyak berdoa rasanya ini orang, takut sekali menghadapi kematian.
"Tapi kau sudah tahu kan? Sudah tidak penasaran lagi?" ujarku bertanya sambil memasang peredam suara pada pistolku. Ia tak menjawab, sibuk meracau dengan entah, aku lupa apa kata-kata terakhirnya. Kalau tidak salah, "Aku tak mengerti, ini hanya salah paham sa..."
Sebutir peluru menembus kepala plontos itu sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Tugasku usai. Tak ada yang tak terselesaikan antara aku dengannya. Pria muda malang itu tahu segalanya tentangku dan alasan Tuhan memilihku sebagai malaikat pencabut nyawa baginya.
Bila ada hal-hal yang tak terselesaikan. Itu antara ia dan orang yang menyewaku untuk membunuhnya. Karma mungkin akan datang kepadanya suatu saat.
Tapi tidak kepadaku. Toh aku belum mati, belum mau mati. Anehnya lima tahun berselang kelak, karma juga tidak (atau belum) datang pada orang yang menyewaku itu. Malah kulihat hidupnya lebih bahagia. Ah, mungkin ia tak percaya karma saja.
>< 
Tapi aku percaya. Maka aku selalu menyelesaikan setiap hal secara jelas dan tuntas. Seberapapun menyakitkannya dan betapa malas kumengusaikannya. Niscaya itu lebih baik dari pada merasa kebal, tapi banyak hal-hal mengendap tertinggal. Aku hanya tak ingin meninggalkan rasa penasaran. Percayalah, penasaran adalah bibit dendam paling dalam. Ya, aku amat percaya itu. Dan aku selalu takut dengan apa yang kupercayai.
Bukan, bukan Tuhan.
- - -
Ditulis Galajingga di Radio Dalam, Jakarta Selatan (1/8). Tulisan ini merupakan bagian dari serial #CeritaGala: #Karma
- - -