Thursday, 10 April 2014

SILICON VALLEY - MIKE JUDGE (2014)


1
Pada 1987 (tahun ketika saya lahir, bro), Mike Judge sudah lulus SMA dan mulai bekerja selama tiga bulan di lembah terbesar korporasi teknologi mutakhir, yang kini dikenal dengan Silicon Valley. Hanya tiga bulan, ia sudah tak kerasan. “The people I met were like Stepford Wives. They were true believers in something, and I don't know what it was,” ujarnya.
26 tahun berselang, Mike memetakan kembali kultus itu dalam ‘Silicon Valley’, sebuah sitkom satir terbaru garapannya untuk HBO. Richard Hendrix (Thomas Middleditch) adalah programer yang bekerja di sebuah perusahaan multi-teknologi, Hooli, sekaligus sibuk menggarap  aplikasi Pied Piper, yang ia klaim bak Google untuk blantika musik. Richard tak puas hidup sebagai kuli binary, ia masih ingin mengejar mimpinya sebagai techpreneur muda yang punya nama. Ibarat Steve, ia ingin menjadi Wozniak, ketimbang Jobs, Steve yang dinilainya lebih punya esensi ketimbang piawai bersosialisasi. Sebab menurutnya, golongan kedua, adalah poser, dan Silicon Valley kini penuh dengan orang-orang macam itu. Ia muak dengan tren yang berkembang di sana, rapat marketing di atas sepeda pawai, rutinitas brogrammer (programer yang doyan ngegym) atau ritual aneh lainnya yang tak bisa Richard cerna dengan logikanya. Mike Judge, melalui Richard dan Pied Pipernya, mengajak kita untuk menertawakan hal tersebut.
Pied Piper, rupanya punya alogaritma bagus yang memaksimalkan sistem kompresi dalam pengunggahan file ke dunia maya (impresi yang setara dengan apa yang disajikan David Fincher di ‘The Social Network’). Entah apa resepnya, yang pasti, proyek sampingan pekerja Hooli itu jadi rebutan dua tech-bilyuner, Peter Gregory (Christoper Evan Welch, meninggal akhir tahun lalu, gimana dong, :s) dan bosnya sendiri Gavin Belson (Matt Ross). Embrio proyek itu ditaksir bernilai hingga US$ 4 juta dolar, dan kedua horangkayah itu menawar dengan cara yang berbeda. Gavin ingin membelinya tunai, dan Peter hanya ingin berinvestasi di sana.
You can take that money, or keep the company!” Selesai sudah ‘Silicon Valley’ bila Richard memilih opsi yang pertama. Ia akan berakhir seperti Erlich (TJ Miller) yang pernah menyesal menjual mentah-mentah proyek Aviator dan kini hidup ‘luntang-lantung’ di SIlicon Valley, ‘hanya punya’ sebuah rumah ‘agak’ mewah dan mempekerjakan empat orang (salah satunya Richard) programmer/web developer di tempat yang ia sebut sebagai ‘inkubator’.
Dan akhirnya Richard tak memilih jadi budak. Alasan utamanya, jelas ia ingin melihat Pied Piper berkembang dan ia menjadi kepala keluarga dari ‘bayi’ yang dilahirkannya itu. Alasan lain, ia ingin membuat revolusi kecil-kecilan, bahwa Silicon Valley bukanlah Stepford, yang serba mewah, namun ada yang tak genah dalam tiap tingkahnya. Ia ingin membuat populasi kecil di Silicon Valley, yang lebih humanis, bukan robot-robot bertopeng tulang dan kulit yang tak jelas apa yang mereka cari dalam hidup.
Sebab tujuan Richard jelas. Ia ingin sukses, mungkin jadi kaya, mungkin jadi tenar. Tapi ia ingin tetap hidup sukses secara normal. Tak perlu lagi ada rutinitas nge-gym seperti yang dilakukan para brogrammer di kantornya, atau ritual-ritual aneh yang diwajibkan oleh kantornya yang bak menjadi sebuah kultus, tak ada lagi generalisasi grup para programer (seorang Asia Tengah, seorang Asia Timur, seorang pria gendut berambut kucir, dan seorang lain dengan bentuk janggut yang aneh). Ia ingin sukses, dan tetap jadi manusia.
2.
Selain Richard dkk, sebetulnya ada ‘manusia’ lain yang tampil singkat di detik-detik pertama pilot ‘Silicon Valley’ - ‘Minimum Viable Products’. Ia adalah Kid Rock (haha!), yang diundang untuk manggung dalam syukuran Goolybib. “He’s the poorest person here,” ujar Elrich pada Richard di pesta yang dihadiri orang-orang dengan kekayaan hampir US$ 20 juta itu. Dan tak ada yang memperhatikannya, selagi orang-orang kaya itu sibuk memikirkan kultus dalam teknologi masa depan di sebuah pesta. “Fuck these people!” ujar Kid Rock seusai menyanyikan ‘Cucci Galore’.
Tak perlu mengerti dunia pemograman untuk bertanya, “Ini orang-orang kenapa sih?” Karena mereka bisa ditemukan di mana saja. Sebuah dunia yang tampak sederhana, tapi selalu punya geliat mahal dan istimewa. Bila tiap lingkungan punya kelasnya sendiri, ‘Silicon Valley’ akan menyibir tentang tech-elite dan kelas menengah ngehe di sana. Banyak aturan yang tak bisa kita pahami logikanya. Sebuah dunia yang aneh bentuk habluminannasnya.
Mike Judge (kreator Beavis and Butthead) menampilkan pesona unik itu secara satirikal dalam ‘Silicon Valley’. Karena sama-sama diproduksi HBO, dan tiap musimnya hanya diisi delapan episode, skema ini mengingatkan saya akan ‘Hello Ladies’. Hanya saja di kisah satir lain itu, karakter utama Stuart Pritchard ada di pihak yang terbawa arus. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Richard punya mimpi, hanya menjunjung langit dari bumi yang dipilihnya untuk berpijak. Lebih jauh, lewat karakternya, kreator Mike Judge ingin memberi batas pada para tech elite di Silicon Valley, bahwa semakin tinggi mereka ingin terbang, semakin keras kita ingin tertawa.
Karena ‘Silicon Valley’ hadir dengan cara seringan itu (ya, namanya juga komedi satir, bro). Saya pernah baca lupa di mana, beberapa tech-elite, kini memang dikultuskan oleh banyak bawahannya dan partnernya yang demen menjilat. Hal tersebut dihadirkan dan mudah dicerna di pilot serial ini (dan membuat kita geleng-geleng karena tetap tak paham dengan yang mereka lakukan). Misal ketika Richard pertama kali dipanggil big bossnya yang agendanya super-sibuk. “Hardly to describe, he's not humiliating, he's elevating you,” ujar salah satu bawahannya yang hanya pernah bertemu bosnya itu selama 10 menit. Nyatanya, sang bos malah sedang sibuk memperhatikan pola grup bawahannya, mengapa selalu terdiri dari orang Asia Tengah, pria gendut berambut poni, dan pria lain dengan mode janggut yang aneh. Dan penasihat spiritualnya malah berkata, “You have great understanding in humanity.” WTF.
Yang seperti ini nih, yang menjadi akar kuluts dari banyak perusahaan teknologi mutakhir di ‘Silicon Valley’, dan membuatnya lambat laun jadi seperti Stepford tanpa harus menghadirkan gadis-gadis berkaki jenjang. Para programer berbakat ini cukup beruntung, bekerja di perusahaan besar dengan gaji dan fasilitas nyaman. Tapi banyak yang takut untuk berpikir seperti Richard, “I don’t wanna be a lifer here (at Hooli).” Karena jelas, Richard tak mau jadi bagian kultus tersebut.
3.
Semua karakter di inkubator milik Erlich, termasuk ia sendiri, punya potensi jadi geng baru yang siap diperbincangkan selama delapan pekan ke depan. Karakter Elrich, memang paling ngehe sih. Misal, kengototannya untuk mendapat 10 persen bagian dari penjualan Pied Piper, yang sebelumnya ia anggap sampah. Highlight lain, ada Martin Starr (Bill Haverchuck di ‘Freaks and Geeks’) di sini sebagai karakter satanis, “Hail to The Dark Lord!” yang punya tato salib terbalik di lengannya. Senang rasanya melihat satu per satu alumnus Freaks and Geeks dapat porsi lagi di kancah pertelevisian Amerika yang kini jaya lagi. Karakter Big Head juga mengundang simpatim, justru karena kerendah diriannya, juga tentunya aplikasi Nipple Alert yang sedang digarapnya.
Salut juga untuk Kid Rock, yang mau-maunya dibayar untuk jadi orang paling miskin di Silicon Valley. Manggung setengah lagu, tapi siapa yang mau peduli. Sudah kurang apa lagi, itu hanya lima menit di episode perdana, dan saya sudah cekikikan. Di tengah episode, malah muncul Andy Dale (yang belakangan saya simak di ‘Review’, Comedy Central), jadi dokter yang menangani Richard pas kena panik akut. Muncul sebentar, tapi bikin ketawa KO karena sudah hampir jadi penasihat terburuk dalam karir Richard.
Karakter Richard sendiri diperankan Thomas Middleditch secara apik. Takaran kerendah-diriannya pas untuk kita sebut sebagai geek yang bermartabat. Gaya kikuknya pun juga membuatnya mudah disukai. Kadang saya melihat ada karisma Seth Cohen (The OC) dalam perannya.
Semoga di tujuh episode sisa, penampilannya prima dan banyak cameo lain yang tetap membumikan serial ini. ‘Silicon Valley’ membutuhkan itu karena topik yang diangkat, sangat tersegmentasi, tak semua mudah dimengerti. ‘Silicon Valley’ perlu dibuat tetap waras dan wajar, karena ironis nanti, jika komedi satir ini malah menjadi ‘cult’ untuk para programer sakit hati yang seolah ingin berteriak, “Occupy, Silicon Valley!”
/
‘Silicon Valley’, HBO, 30 minutes (8 episode, per April 6th, 2014). Created by: Mike Judge. Starring: Thomas Middleditch, TJ Milller, Josh Brener, Martin Starr, Kumail Nanjiani. IMDb Ratings: 8,5/10 from 920 users. The Moderntramp Rating: 8,4/10, X).