Friday, 27 June 2014

NAGA MANG

1

DALAM HIDUP, RASA CEMBURU PERTAMA KALI KURASAKAN PADA TEMAN-TEMAN MASA KECIL DI KAMPUNG HALAMANKU. AKU BINGIT BANGET, KARENA TERNYATA BAPAK JUGA MENCERITAKAN KISAH YANG SAMA KEPADA MEREKA TENTANG SEBUAH RAHASIA. ITULAH KALI PERTAMA PULA AKU MERASA, DALAM HIDUP, RASA KESAL YANG BEGITU MEMUNCAK, PADA BAPAK.

( via sandera )
Sebelum tidur sampai umurku lima tahun, hampir setiap hari Bapak menceritakan kisah tentang ‘Naga Mang’, ular agung yang bisa terbang dan mampu menyemburkan api. Ia tinggal dan bergerilya di bukit tinggi belakang kampung kami, orang-orang di kampungku menyebutnya Bukit Pendek, tapi Bapak menamainya Gunung Manglayang. Belakangan aku baru mengerti dari cerita Bapak, arti Manglayang adalah tempat di mana Naga Mang terlihat melayang. Namun, sejak aku lahir, tak pernah sekalipun kulihat di angkasa, selain burung, awan, dan daun-daun yang meranggas di musim gugur, melayang dari Gunung Manglayang.

Bapak mengaku pernah dua kali melihatnya. Ia menceritakan dengan rasa takjub. Naga Mang melayang di angkasa seperti prisma. Tubuhnya yang hijau berpunuk runcing menatapnya tajam. Ia punya sepasang tanduk mahkota berwarna cokelat mahoni. Matanya merah, di antara sisiknya terdapat lapisan emas yang mengilap. Dari hidungnya keluar asap dan api, saking takutnya Bapak tak bisa lari ketika mata Naga Mang menatapnya lekat-lekat.

Mereka berpandangan begitu lama, sampai bulan purnama yang sebelumnya tertutup awan tebal kembali mengintip pelan-pelan. Naga Mang mengambil ancang-ancang, Bapak membaca doa karena ia pikir akan diterkam. Terdengar suara gemuruh dari langit dan mulut Naga Mang, Bapak memejamkan mata siap akan nasib terburuk baginya, mati tercabik atau tewas terpanggang. Tapi tak lama, udara kembali terasa sejuk, ketika ia membuka mata hanya ada satu lesakkan cahaya bergerak cepat seperti hendak menembak bulan. Ia terpana, sampai tak lama terdengar suara Kakek memanggilnya.

“Tadi, ada, ...Naga Mang, Pak,” ujarnya pada Kakek dengan suara terpenggal-penggal. Bukannya khawatir, Kakek malah tersenyum, “Alhamdulillah, tidak semua orang beruntung bisa bertemu dengan Naga Mang.” Ia menyatakan ketika kecil dulu juga pernah sekali melihat Naga Mang, dan berharap suatu saat bisa kembali melihatnya. Ia menatap nanar ke udara, melihat sisa lesakkan cahaya yang ditinggal Naga Mang menuju purnama.

Hingga akhir hidupnya, Kakek tak pernah meninggalkan kampung halaman kami. Ia juga tak pernah kembali bertemu Naga Mang. Sebelum meninggal ia berwasiat, “Kuburkan aku di tempat aku melihat Naga Mang.” Ayah membawa jenazah Kakek ke salah satu puncak di Gunung Manglayang, sendirian, sesuai wasiatnya. Ayah menggali kubur di tempat yang pernah ditunjukkan Kakek, di mana ia melihat Naga Mang. Air matanya menetes seiring keringat dingin yang membasahi pipinya ketika menggali kubur malam itu. Kakek terbaring tanpa nyawa di samping tanah gailan seukuran peti mati itu. Cuaca mendadak hangat, secercah cahaya muncul dari balik barisan pinus yang mengelilingi tanah lapang itu. Angin berisik, pohon pinus condong ke kiri diterpa udara, Naga Mang muncul dari balik bukit. Ayah kembali merasakan sensasi sama ketika pertama kali bertemu Naga Mang. Namun kali ini ia tak menatap matanya, Naga Mang menatap Kakek yang sudah terbaring tak bernyawa, mengambil ancang-ancang, dan kembali melesat ke udara. Kali kedua Bapak tak merasa takut, tapi kagum terpana dengan mulut menganga, ia menggali semacam rindu pada hal yang sebenarnya mustahil. Bapak tersenyum, sebelum kaget luar biasa ketika menatap ke samping di alas tanah, mata ayahnya terbuka lebar. Untungnya, atau setelah lama ia berpikir, memang itu tujuannya, seulas senyum terpoles di garis bibir Kakek.

Setelah itu Bapak merasa ditakdirkan untuk tak pernah meninggalkan kampung. Kakek yang merupakan tokoh agama di kampung seumur hidup baru dua kali bertemu Naga Mang. Bapak belum separuh abad umurnya, sudah menyamai torehan panutan hidup banyak warga kampung itu. Bapak memilih menjadi guru mengaji sementara kawan-kawannya yang lain mencari peruntungan sebagai kuli dan mandor proyek di kota besar. Di sisi lain, Bapak tak ingin mempersempit kesempatan untuk kembali melihat Naga Mang saat purnama tiba.

“Lebih baik memenuhi yang cukup di gelas yang kecil, daripada serba kekurangan mengisi cawan yang besar,” ujarnya suatu waktu meyakinkan Ibu di saat uang hanya cukup untuk membeli beras tiga mangkuk dan seperempat kilo tempe yang nanti Ibu masak orek agar terlihat lebih banyak.

Hingga hari ini, cerita itu masih tertanam lekang di benakku. Aku selalu berupaya segala cara agar bisa lekas bertemu Naga Mang. Ayah hanya bilang nanti juga tiba waktunya sambil mengulang cerita yang sama padaku hampir setiap malam, dan aku tak pernah bosan. Namun ia menegaskan, “Hanya orang yang beruntung bisa melihat Naga Mang. Dan hanya orang saleh yang masuk golongan orang beruntung.” Ketika orang lain bercita-cita jadi dokter, astronot, atau tentara, aku saat itu cukup saja berikhtiar untuk jadi ‘orang saleh’.

Hari pertama masuk sekolah dasar, tak ada desas-desus tentang Naga Mang yang kudengar dari teman sebayaku. Aku pikir cerita tentang Naga Mang memang hanya ada di garis keluargaku. Aku tersenyum dan memilih untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat, agar aku tak perlu bersaing keras untuk menjadi orang saleh.

“Apakah orang lain tahu tentang kisah Naga Mang ini?” Aku bertanya pada Ayah pulang dari surau. Ayah menjawab, kisah tentang Naga Mang hanya boleh diceritakan pada mereka yang pernah melihat, atau pada keturunannya kelak. Senyumku makin lebar sambil menatap teman sebayaku yang juga mengaji di surau milik Ayah berjalan ke rumahnya masing-masing.

Suatu saat, jika tak salah ingat ketika itu umurku 10 tahun, aku demam tinggi dan meminta izin agar tak ikut mengaji malam itu. Ayah meminta ibu untuk membuatkan teh manis dicampur madu sebelum berangkat ke surau. Ia berharap aku cepat sembuh sambil mengusap dan mengecek suhu badan melalui keningku. Setelah salat Isya, aku langsung tertidur dan berharap paling tidak bertemu saja sekali dengan Naga Mang, walaupun lewat mimpi.

Betapa kagetnya aku keesokan hari, dengan badan sempoyongan sisa demam semalam, aku menemukan fakta di sekolah bahwa, Asep, Ujang, dan Maman sibuk bergunjing tentang ular raksasa yang bisa terbang. “Naga Mang!” kudengar salah satu dari mereka yang juga murid mengaji Bapak mengatakan istilah ‘sakral’ itu. Aku cemburu dan kesal bukan main. Bisa-bisanya Bapak menceritakan hal ini pada orang lain ketika aku tak ada. Rahasia yang hanya dimilikki garis keturunanku. Mukaku memerah, demamku rasanya kembali tinggi.

Maman menghampiri, “Malam minggu mau ikut nggak? Kita kemping, berburu Naga Mang di Bukit Pendek!” ujarnya antusias mengajakku. Aku tak mau berbasa-basi, kesal sekali, aku jawab saja, “Naga Mang? Mang gue pikirin!” ujarku meniru dialog salah satu karakter ‘anak kota’ dalam sinetron yang selalu ditonton ibu saban malam.

2 >

/

Ditulis oleh Petang Galajingga (@gala) untuk The Moderntramp. #PAYUNGFANTASI adalah satu bab dalam Selasastra yang berisi tentang cerita fiktif yang kecil kemungkinannya terjadi, kecuali bagi mereka yang memercayainya. Cerita ‘Naga Mang’ adalah bagian pertama dari cerita dua babak berjudul sama, terinspirasi dari cerpen ‘Kuda Emas’ karya Tawakal M. Iqbal yang dimuat di Kompas, Ahad (23/6).