Tuesday, 12 February 2013

DRUPADI KEBELET BOKER


1.
“Drupadi ingin terbang sendiri. Jangan jadi sangkar, jadilah langit yang lebar. Jangan jadi sayap, jadilah angin yang senyap,” kata Mas Hujan.

Semalam ia  mendalang. Kisahnya, ‘Drupadi Kebelet Boker’. Suatu hari ceritanya di Hastinapura, Yudhistira merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri istrinya. “Apa gerangan yang kau rasakan, Dinda?” Drupadi menggeleng, matanya sayu. Yudhistira mengulang pertanyaannya.
“Tak apa-apa Kanda, aku hanya kebelet boker,” ujar Drupadi. Kalau begitu, kata Yudhistira, “Bokerlah!” Drupadi kembali menggeleng, “Aku ingin buang air di angkasa, seperti burung yang luas kamar kecilnya.”
“Tapi Adinda bukan burung,” ujar Yudhistira heran dengan permintaan sang istri. “Tapi aku merasa dalam sangkar,” ujarnya membalas. Yang tak pernah Yudhistira dan adik-adiknya tahu, semenjak mereka miliki, Drupadi merasa terpenjara.
“Kalau begitu pergilah, ambil kembali kebebasanmu,” ujar Yudhistira setengah rela, bersedih seperti rasanya kalah berjudi dadu. “Tapi aku bukan burung, Kanda.” Drupadi kembali bersedih, agar tak menjadi beban, berhari-hari ia memilih menjaga jarak dengan suaminya.
Kepada dewa-dewa Yudhistira berkonsultasi. Mereka berjanji memberi Drupadi sepasang sayap. Dengan syarat, Yudhistira harus membelah dirinya menjadi dua dengan tombak Kalimahusada. “Selalu ada pengorbanan dalam tiap pembebasan,” itu kalimat terakhir sebelum Yudhistira bertemu ajal.
Yudhistira mati dan sirna, tubuhnya terbelah dua menjelma dalam bentuk lain. Separuh tubuhnya ke atas menjadi angin. Separuh tubuhnya ke bawah menjadi langit. Di saat yang bersamaan, dua pucuk sayap tumbuh dari pundak Drupadi. Angin mengepakkan sayapnya, langit rela dipijakknya. Yudhistira tak lagi memiliki, tapi dimiliki Durpadi.
Drupadi hendak pamit pada Yudhistira, tapi ia sudah tak di ‘sana’. Drupadi yang sudah bebas, tak lagi menunggu. Ia melesat bebas, terbang tanpa arah. Ia melihat lansekap alam dari ketinggian, melihat betapa sepinya puncak dunia, melihat matahari yang tak pernah terbenam, dan menggapai bulan. Drupadi meraih kebebasannya.
Satu hal yang belum dilakukannya justru buang air di angkasa. Berjam-jam ia terbang konstan dalam posisi jongkok di langit. Raut muka senangnya tiba-tiba hilang, “Aku tak lagi kebelet boker.” Padahal kepada suaminya ia berkata itu obsesinya.
Dengan sepasang sayap, Drupadi telah mendapat jauh yang lebih menyenangkan daripada itu. Tapi ia suatu saat menyadari, percuma bebas jika tak punya tujuan.

“A-a-aku ingin boker :(,” ujarnya menangis di langit dan seketika hujan jatuh ke bumi. Yudhistira tersenyum saja di balik awan. Tangannya menjelma angin yang mengusap air mata kemudian mendekapnya.
- - -
Ditulis oleh Btok berdasarkan naskah 'wayangaco' Mas Hujan di Radio Dalam, Jakarta Selatan (12/2).