Wednesday, 27 March 2013

HORRRMON



1.
"It must be the hormones."

Itu jawaban yang akhirnya saya temukan ketika Dian Sastrowardoyo tak lagi menarik paska 'Ada Apa dengan Cinta'. Ia terlalu banyak tampil di mana-mana. Sampul majalah, iklan, serial televisi, hingga papan-papan iklan raksasa di sudut kota.
Itu juga jawaban untuk pertanyaan mengapa puisi-puisi Joko Pinurbo tak lagi memikat untuk dibaca. Setelah ia rajin berkicau dan membikin buku dari cuitannya.
Saya tereksploitasi oleh kehadiran mereka yang jadi begitu sering. Bosan? Tidak, hanya saja tak bisa lagi menikmati rindu.
Bukan berarti kala itu Dian Sastro jadi tak cantik. Bukan juga puisi-puisi baru Joko Pinurbo tak layak dibaca. Hanya saja saya tak ingin 'bertemu' dulu dengan mereka.
Tak ada jawaban lain. Bukan bosan, bukan berpaling, bukan juga benci. Kata teman, mungkin itu pengaruh hormon. Kurang cantik apa Dian Sastro, kurang menarik apa coba buku-buku Joko Pinurbo.
Kata teman, bisa jadi apa yang pernah dan saya alami adalah pengaruh hormon. Namanya endorfin. Suatu malam ia membeberkan begitu jelas pada saya. Analoginya begini, "Apa hal yang paling membikinmu ketagihan? Masturbasi misalnya."
"Kamu melakukannya tiap hari dan merasa senang. Itu candu yang ada dalam tubuhmu. Tapi ya namanya candu, harus ada takarannya, agar tak berlebihan dan merusak" ujarnya. Maksud Dian dan Joko jelas baik, tapi dosis yang mereka beri, sudah lebih dari cukup. Saya tak mau berlebihan dan merusak. Saya butuh sekadarnya saja.
Endorfin itu candu. Lihat saja etimologinya dari Bahasa Yunani Kuno, endo (berada di dalam) dan morphine. Banyak pakar berkata inilah hormon kebahagiaan. Tapi jangan lupa, ada morphine di sana. Dan saya harus sadar, bahwa kebahagiaan pun bisa mengenal kata ketergantugan.
Karena itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa, kebahagiaan saya tak hanya didapat dari melihat Dian Sastro di 'AADC'. Atau membaca antologi puisi 'Celana' Joko Pinurbo. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa bahagia dengan banyak cara lain. Meski tetap percaya bahwa suatu hari saya akan rindu, betapa cantiknya Cinta, dan betapa menggelitiknya puisi 'Celana Ibu'. Karena saya selalu menyimpan itu.
Lagipula, tak ada salahnya kan menyimpan yang terbaik, untuk sebuah akhir yang romantik, :).
- - -
Ditulis Btok di Radio Dalam, Jakarta Selatan (27/3). Tabik.