Tuesday, 26 March 2013

SILVER LININGS PLAYBOOK



1.
'Badai Pasti Berlalu', itu mungkin jadi padanan yang pas terhadap istilah 'silver lining'. Sementara itu 'playbook', dikenal dalam istilah American Football semacam buku strategi yang tebal dan rumitnya minta ampun.
Kata itu menjadi istilah umum, yang artinya kurang lebih seperti tutorial panjang lebar. Barney Stinson dalam serial 'How I Met Your Mother' misalnya, punya buku The Playbook: Suit Up, Score Chicks, Be Awesome, kurang lebih berisi tata cara yang baik dan benar untuk menjadi playboy (Halah, playboy kok baik dan benar, :p).
Dalam film terbaru David O. Russell, 'Silver Linings Playbook' kita tidak diajak ke lapangan hijau. Melainkan ke lantai dansa yang mempertemukan Pat Solitano (Bradley Cooper) dan Tiffany Maxwell (Jennifer Lawrence). Ini drama komedi tentang orang-orang gila.
Pat gila sejak lahir. Ia menderita bipolar disorder. Delapan bulan terakhir ia harus mendekam di panti rehabilitasi. Sebelumnya, ia menghajar habis pria yang menyelingkuhi istrinya. Di rumahnya sendiri. Di bathub tempat ia biasa mandi. Penyelewengan yang diiringi lagu 'My Cherie Amour' milik Stevie Wonder. Lagu pernikahan mereka.
Tiffany gila sejak suaminya meninggal. Ia depresi, karirnya hancur, kehidupan sosialnya lebur. Ia kini lebih dikenal sebagai janda muda, cantik, menggairahkan, yang haus seks.

2.
Keduanya bertemu kali pertama di rumah sahabat Pat, Ronnie dan Veronica Maxwell (John Ortiz dan Julia Stiles). Mereka memang berencana menjodohkan dua orang yang sarat masalah itu. Tapi manusia berencana, Tuhan tetap yang menentukan. Siapa sangka, delapan bulan sejak kejadian yang amat menyakitkan hatinya, Pat masih berupaya mendapatkan kembali sang istri, Nikki (Brea Bree).
"If you stay positive, you have a shot at a silver lining," ujar Pat. Dalam film ini, tipis bedanya definisi optimistik dan pathetic.
Namun inilah jalan awal bagi pemirsa untuk menikmati hubungan keduanya. Tiffany sudah putus urat malunya. Ia menganggap Pat yang tak kalah gila adalah jodoh baginya. Dua-duanya dalam kondisi saling ingin memperbaiki diri. Pertanyaannya, berapa lama keduanya bisa bertahan terjebak dalam hujan yang tak kunjung reda?
Maka Tuhan pun merentangkan tali silaturahmi melalui dansa dan American Football. Pat punya ketergantungan yang unik pada Tiffany. Ia satu-satunya wanita yang sudi membantu kirimkan surat pada istrinya. Ia tak bisa mengirim sendiri karena dilarang mendekati sang istri oleh pengadilan. Syarat yang diberi Tiffany susah-susah mudah, Pat harus menemaninya dalam komptenesi dansa.
Pat setuju, namun belum usai meniti langkah, datang lain masalah yang lebih maskulin. Tiba dari orang-orang terdekat Pat, keluarga yang amat fanatik tim Philadelphia Eagles. Terutama bapaknya, terlebih karena ia gemar bertaruh, dan menganggap Pat sebagai lucky charm.

3.
Sejak 'The Fighter' saya merasa Russell punya ciri khas piawai mengelola drama. Dalam 'Silver Linings Playbook', intensitas gairah konfliknya ditata dalam dosis yang teratur. Dari mulai dialog-dialog sensitif antar kedua tokoh utamanya, syarat pamrih dansa, hingga keluarga Pat yang posesif.
Jejak 'The Fighter' dalam film terbarunya ini kentara. Situasi yang kompetitif dicampur dengan bumbu dialog yang cerkas dan jujur. Russell pun punya banyak cara untuk mengelabui penonton yang sok tahu menerka akhir filmnya. Satu lagi, ia begitu paham bahwa Amerika (juga dunia yang mengiblatinya) sedang candu pada masalah keluarga.
Film ini menemukan dua karakter 'gila'. Pat yang bipolar sejak lahir dan Tiffany yang karena gila, jadi liar. Karena dua gila tak bisa menghasilkan satu normal, maka hadirlah kegilaan yang riang, emosional, namun juga dramatis.
Bradley Cooper memerankan Pat secara mengejutkan. Ia keluar dari stereotip perannya yang kadung terkenal lewat calon trilogi 'The Hangover'. Jennifer Lawrence? Ah dia mah selalu memberi yang terbaik sejak Winter's Bone. (dengan catatan, saya belum nonton The Burning Plain, hiks).
Akting mereka berkawin di film ini (kabarnya hubungan ini berlanjut dari satu festival ke festival lain). Jika nanti Oscar jatuh ke genggaman Jennifer, ia berutang satu ciuman panjang pada Bradley yang membantunya menghayati perannya dalam film sarat prestasi itu. “Saya tak bisa membayangkan orang lain memerankan Tiffany,” ujar Bradley menyanjung.
Saya setuju pada penilaian Peter Travers dari Rolling Stone ini terhadap peran yang dimainkan Jennifer, "She's rude, dirty, funny, foulmouthed, sloppy, sexy, vibrant and vulnerable, sometimes all in the same scene, even in the same breath." Itu pencapaian gila, dari aktris yang berperan sebagai orang setengah gila.
Di pilar pendukung, dua tokoh membuat film ini terasa lebih baik. Keduanya adalah Patrizio Solitano, diperankan oleh Robert de Niro, dan Danny, sahabat Pat di rehab, ditokohkan oleh Chris Tucker. Keduanya mencampur-adukkan definisi 'keluarga' dan 'teman' jadi istilah yang sama. Mereka tak bisa ditentangkan, karena kamu membutuhkan keduanya untuk melengkapi hidup.
Love interest, keluarga, teman jadi unsur yang membikin konflik dalam upaya Pat menggapai kembali cinta istrinya. Pertanyaannya, apakah Pat bisa melalui konflik-konflik itu, atau justru hidup bersama konflik-konflik tersebut?



4.
Dan akhirnya, dari film ini saya belajar pada kata-kata seperti yang sudah dikutipkan di atas. Selalu ada 'silver lining' dalam setiap masalah, dan kita hanya perlu terus mencoba berpikir positif. Tapi sayangnya, Tuhan tak selalu menjanjikan Jennifer Lawrence turun dari balik awan untuk memecahkan masalah bersama. Hehe.
- - -
Silver Lining Playbook (2012). Directed by David O. Russell. Starring: Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert de Niro, and Chris Tucker. The Weinstein Company, Mirage Enterprises. (122 minutes) Rating: 4/5, Lejatt!