Thursday, 13 February 2014

HER - SPIKE JONZE (2013)


1
Sebelum bercerita tentang film ini, mari sedikit bahas soal 'Lost in Translation', dan sedikit banyak Sofia Coppola mempengaruhi 'Her'. Dalam 'Lost in Translation' kita bertemu dengan Catherine (Scarlett Johannson). Ia 'tersasar' di Tokyo, diajak ke sana, namun kemudian ditinggalkan suaminya yang gila kerja. Dulu, banyak kritikus bilang, 'Lost...' adalah tentang Sofia, paska perceraiannya dengan, ya, Spike Jonze!
Dan ketika Jonze mengumumkan akan merilis 'Her', kritikus yang sempat tertidur sepuluh tahun lamanya, bangun kembali. "Tuh kan, tuh kan," kira-kira begitu lah desas-desus yang muaranya berkesimpulan 'Her' adalah respon dari 'Lost...' Sofia Coppola.
Setidaknya ada beberapa hal yang menguatkan asumsi itu. Di 'Lost...', Sofia lebih jujur. Catherine jelas meninggalkan suaminya dengan alasan kira-kira begini, "Ah, si John (Giovanni Ribisi) mah, gawe muluk! Nyebelin!" Meski hal itu tak terungkapkan dan membuat Catherine teralienasi, hingga nantinya ia bertemu Bo Harris (Bill Murray). Dan membuat kita selalu penasaran dengan apa yang dibisikannya pada Catherine di ujung film.
Jonze memilih untuk lebih tertutup mengapa karakter Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) harus berpisah dengan Catherine (Rooney Mara, cantik banget bikin migren di sini, di Side Effect juga, < 3). Klunya disempilkan singkat dalam perbincangan mereka ketika akan menandatangani surat cerai. Catherine hilang kendali, intinya ia bilang, "It makes me sad. You can’t handle real emotions, Theodore."
Eh sebentar, Catherine kan benar. Rooney Mara di 'Her'? Scarlett Johannson di 'Lost...'? Tuh kan, ah, kalian berdua, Spike, Sopia, ..., :s.
Tapi Jonze lebih jujur ketika mengatakan 'Her' adalah produk semi-otobiografisnya. Tentu kita bisa menerka cerita tentang OS1 yang dimajikani Theodore adalah metafora, bagian ‘semi’ dari semi-otobiografinya. Dan sisanya mengenai Catherine, bisa jadi benar dialami. ya, BISA JADEE!
Karena saya tipe orang yang menganggap "art never comes from happines," saya yakin sih Jonze amat sangat curcol lewat 'Her'. Film ini adalah seni, dan itu mungkin berarti, Jonze masih tak bahagia. Ini jawaban bagi Coppola (yang kini sudah menikah lagi, 2011 silam), sepuluh tahun setelah anak kedua Francis Ford Coppola itu 'tersasar'. Sebuah respon, pernyataan tegas tentang kondisinya saat ini.
Dalam 'Her', Jonze menyelimuti kegelisahannya dengan macam hal menakjubkan. Latar masa depan yang tak berselang lama (syuting di Shanghai, 2013), di sebuah kota yang siangpun gemerlap karena gedung-gedungnya tak hanya mencakar langit, tapi juga memantulkan sinar matari. Ia menciptakan sebuah kondisi psikologi di mana orang-orang nyaman dengan kesunyiannya masing-masing. Ditemani teknologi, menghibur orang-orang yang selalu tak puas dengan apa yang cukup baginya. Dan bagi beberapa dari mereka, termasuk Theodore, teknologi menyempurnakan hidup.
Hingga akhirnya Theodore bertemu Samantha (Scarlet Johannson, suaranya doang), operating system nan jenius, seperti Siri punya Apple, tapi punya simpati dan empati. Lebih dari itu, OS ini selalu berkembang tiap harinya, lebih dari sekadar asisten digital pribadi, melainkan teman ngobrol, penghibur, hingga, ...kekasih, ya, hingga kekasih dalam defiinisi teman tidur di kasur.
Ini jadi jualan 'Her', jujur bila premisnya seperti ini, saya sangat tertarik. Setelah 'Where The Wild Things Are' (yang saya cuma suka soundtracknya, Karen O, dan ia ngisi lagu lagi di 'Her'), saya tak berpikir untuk menonton karya Spike Jonze lagi. Juga Scarlett, sebelumnya suara Samantha akan disampaikan oleh Samantha Morton, namun di tengah film perannya dicabut (meski tetap masuk kredit). Alasannya, suaranya kurang punya afeksi. Saya sih curiga bukan itu alasannya. Pertama karena ini Hollywood, ketika curhatan seorang sutradara difilmkan, tetap harus menjual. Siapapun pasti lebih setuju mendengar (dan membayangkan) ditemani Scarlett selama film ini diputar. Apalagi mendengar ia mendesah di tengah-tengah film ketika mencoba memuaskan Theodore.
Kedua, karena Scarlet adalah sentral dalam 'Lost...', ia adalah Catherine. Sudah saya bilang kan ini adalah repson untuk Coppola. Jonze ingin menyampaikan itu lebih tegas.
Untungnya, Scarlet tampil ciamik. Bukan saya saja yang ngomong. Buktinya, ia hampir bikin rekor, hampir masuk nominasi Oscar untuk kategori aktris terbaik, hanya untuk suaranya saja. Ide ini ditolak, ia tetap digdaya meski tanpa piala.
Eh tapi sebentar, ada yang ngeh gak kalau tak cuma Scarlet yang tampil tanpa raga di 'Her'. Ini bakal jadi trivia seru, silakan cari Kirsten Wiig di film ini. Dan kalau saya jadi Theodore, saya akan lebih jatuh cinta pada Wiig ketimbang Scarlet bila keduanya menjadi OS.
Tak hanya Scarlet, semua pemeran wanita dalam 'Her' tampil bagus. Rooney Mara mah saya nggak mau komen, gak bisa subjektif tentang ia setelah 'Side Effects', < 3. Amy Adams juga tampil tanpa beban, senang lihatnya keluar dari stigma perannya yang kerap tampil terlalu rapi (eh tau-tau bocahnya menang aja di 'American Hustle'). Terakhir, Olivia Wilde, meski cuma tampil sebentar, tapi bikin saya amat menyesal melewatkan 'Drinking Buddies' sebelum menonton 'Her'.
Dan muaranya, Joaquin Phoenix mau tak mau harus tampil kuat, kata kritikus luar ini penampilannya yang meditatif, gentle, dan cerebral. Setuju, pas, tak se'berlebihan' di 'The Master, meski bagus juga ia main di sana. Ia membuktikan itu dengan membuat yakin kalau orang bisa berkomitmen dengan teknologi.  meski beberapa gesturnya mengingatkan saya pada Leonard Hoftstader di 'The Big Bang Theory (series)'. Versi lebih tinggi dan lebih ganteng mungkin. Tapi ya kalau boleh saya terka, referensi karakter Theodore adalah Leonard, dan kumisnya yang tertinggal sepulang ekspedisi dari Antartika. Ohya, dan soal komitmen, ini bukan hal pertama, dalam 'Big Bang...', Raj juga pernah hampir jatuh cinta pada Siri. Beberapa sub-plotnya juga mengingatkan salah satu episode dalam serial science fiction asal Inggris, ‘Black Mirror’. Jadi ya, yang orisinal di sini bukan idenya, tapi keberanian sutradara untuk bertunangan dengan masa lalunya, menjadikan ini konsumsi publik, untuk direnungkan.
2.
Tapi di atas (mungkin sudah pada lupa, karena baru sadar kok panjang banget ya tulisannya), saya sudah bilang kalau cerita Theodore dangan OS1 adalah metafora. Beberapa kritikus menyebutnya ini sisi gila kerja Jonze. OS1 merepresentasikan film, video, semua karya visual yang diciptakannya. Dan Jonze jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta pada hal yang tak perlu punya raga, tak perlu punya nafas. Jonze menawarkan dan sempat kalut dalam konsep itu, mencintai yang fana. Hingga ia harus kehilangan status sebagai menantu Francis Ford Coppola.
Dan dalam 'Her' ia ingin kita menerka, "Apakah itu sebuah dosa?" Dan "Apakah kita, perlu didera karena melakukannya?"
/
HER (2013), directed by: Spike Jonze. Starring: Joaquin Phoenix, Scarlett Johannson, Amy McAdams. Release date: 13 October, 2013 (New York Film Festival). Duration: 126 minutes. Rating - 84 (IMDB), 91 (Metacritic), 94 (Rotten Tomatoes), 86 (The Moderntramp, xp).
/
Ditulis Mohammad Andi Perdana untuk ‘The Moderntramp’, Februari 2014. “Apakah kalian berani untuk jatuh cinta dengan hal-hal yang tak hidup juga?”