Tuesday, 16 April 2013

CELAKA


1.
DUARR! 

Bom meledak di sebuah ajang maraton. Jauh sekali dentumannya dari sini. Tapi ada yang ikut bergetar, mungkin sepasang kuncup hati. Melihat orang-orang yang berlari tiba-tiba berhenti. Orang-orang yang diam, tiba-tiba terbirit-birit. Dalam raut muka yang gelisah.
Resonansi simpati. Atau mungkin pula getar ketakutan. Karena setelah tragedi di Boston, Senin, 15 April 2013 waktu setempat, saya percaya bahwa 'celaka' bisa datang kapan saja.
"Aku bisa membakarmu, hari ini," bunyi sepenggal lirik band folk asal Bali, Dialog Dini Hari. Judul lagu itu, 'Oksigen'. Ada satu sisi yang sama antaranya dengan 'celaka'. Ia ada di mana-mana, tak kasat mata, dan bila tiba saatnya bisa amat berbahaya.
Hanya saja 'celaka' lebih gila. Ia tak hanya bisa membakarmu. Bisa mengoyakmu, menghantammu, membekukanmu, mencacahmu jadi tak terhingga. Hanya saja celaka, tak pernah ada untungnya. Kita tak bisa menebak kapan datangnya.
Beberapa orang memilih mengantisipasi dan menghindari 'celaka'. Tanya saja pada mereka yang menghimpit rapat kantongnya di kendaraan umum, pada mereka yang enggan berjalan di gang-gang sempit, gelap, dan kumuh, pada mereka yang diam-diam lari kala sekumpulan orang-orang berjanggut memakai sorban bersamuh.
"So when you spot violence, or bigotry, or intolerance or fear or just garden-variety misogyni, hatred or ignorance, just look it in the eye and think, "The good outnumber you, and we always will"," ujar komedian Patton Oswalt bersimpati atas tragedi Boston. Itu yang terpikir bila nasib, hanya saya yang menjalani. Tapi belakangan saya justru terlalu khawatir dengan takdir orang lain.
Ibu saya gemar pamer punya banyak musuh, karena ia selalu tegas pada apa yang dipikirnya benar (keras kepala). Banyak teman saya pun mengadu nasib di tempat berisiko kerja lumayan tinggi. Tapi saya tak selalu ada untuk mereka. Minimal untuk berkata jangan takut ketika mereka cemas. Lalu melanjutkan kalimat Patton Oswalt yang sudah saya kutip di atas. Intinya, "Masih banyak orang karimah, tak elok terlalu gundah..."
"...Setidaknya kini satu, yang terdekat darimu, berusaha menjadi orang-orang yang tak perlu kau risaukan." Hanya ingin membuat mereka percaya dan sedikit lebih tenang. Meski kekhawatiran pada ‘celaka’, tak pernah ada habisnya. Rasanya sering terpikir untuk selalu bersama. Paling tidak untuk meredam kegelisahan.
Hanya saja kita tak bisa selalu dekat, apalagi selalu bersama. Maka tak ada lagi Dialog, tak ada lagi Oswalt. Akhirnya cuma doa, untuk kalian selalu sentosa dan bahagia. Semoga orang-orang baik selalu berada di sekeliling kalian. Amin, :).
- - -
Ditulis Btok di Bulungan, Jakarta Selatan (16/4) beberapa jam setelah bom meledak di Boston Marathon, Amerika Serikat. Dua tewas, seratus lebih terluka. Doa boleh luput, tapi amunisinya tak pernah habis.