Thursday, 21 March 2013

MIMPI


1.
Beberapa minggu terakhir, mimpi menjadi hal yang menyenangkan, tapi sekaligus bikin ngeri. Seolah apa yang terjadi di dalamnya begitu nyata. Senang memang bila indah mimpinya. Tak sedih juga bila mimpinya buruk, toh namanya juga cuma mimpi. Yang bikin ngeri, beberapa hal di yang terjadi di dalamnya, merefleksikan apa yang akan terjadi di dunia nyata.
Seperti misal, ini mimpi lama: kira-kira sebulan lalu, mendiang Uyut (ibunya nenek) datang dalam mimpi. Ia bertanya singkat saja, "Kapan jadinya atuh joget di tipi (televisi) teh?" Bangun pagi-paginya tiba-tiba Ibu di rumah kirim pesan singkat. "Jangan lupa berdoa buat Mak Uyut, hari ini tiga tahun meninggalnya." DEG!
Atau mimpi ini: kurang lebih tiga minggu lalu pas AC Milan menjamu Barcelona. Ingin sekali nonton, tapi ngantuk kadang tega, merampas banyak hal yang kita inginkan, *ihik*. Sampai akhirnya, kuat nggak kuat juga tau-tau tidur aja. Lalu mimpi, Barcelona kalah, 2-0, dalam mimpi saya nonton langsung di San Siro dan tiba-tiba lancar berbahasa Italia. Sedih karena Barcelona kalah, senang karena berasa jadi mafia. Tapi kan namanya juga cuma mimpi.
Bangun-bangun lesu, karena dimensi mendeportasikan saya kembali ke kamar kos sempit di Jakarta Selatan. Tapi masih punya harap, Barcelona bisa saja menang dalam partai semalam di dunia nyata. Setelah dicek, kaget cyin, Barcelona benar kalah 2-0. DEG!
Rangkaian mimpi berbuah nyata itu masih berlanjut hingga dua hari kemarin. Tiba-tiba saja dalam mimpi saya datang ke lahiran anak pertama seorang adik kelas di kampus. Lah, kenal dekat aja enggak padahal, sebatas tau. Heran saya juga kenapa bisa mimpi begitu. Eh taunya, bangun-bangun cek linimasa, kawan si teman yang saya mimpikan berkicau kurang lebih begini, "Selamat ya!" Dan pas saya cek, memang lahiran bocahnya. D'oh, tahu kawin dan hamil aja saya enggak, tau-tau lahiran. Kurang ajar emang kadang-kadang mimpi saya. DEG!
Itu adalah beberapa mimpi yang saya ingat, tiba-tiba jadi nyata. Beberapa lainnya dibiarkan mengendap dan otomatis lupa. Tapi ada beberapa yang saya ingat, tapi tak berharap jadi nyata. Dari sekian banyak, ini yang paling penting, tentang mimpi indah yang buruk (bukan oksimoron kalau kamu kenal orangnya, xp). Seorang kawan tiba-tiba menyiram air raksa pada gebetannya, adik kelas di bawah saya dua angkatan saat di kampus. Alasannya cuma karena sakit hati gara-gara sudah mempermainkannya, :)). Gara-gara orangnya masih waras (masih kan ya?), saya yakin itu bukan satu dari sekian banyak mimpi yang bakal jadi nyata. Nggak lucu juga punya teman yang jadi kriminil gara-gara cuma masalah hati, :)).
Tentang mimpi yang ingin jadi nyata ini pun ternyata dialami oleh seorang kawan. "Urang ngimpi, manggih (nemu) jodoh di nikahan maneh, nu nyanyina (wedding singer-nya)," ujar teman yang kadar gantengnya naik 14,7 persen setelah beli Vespa baru. Dia detilkan ciri-ciri wanita yang kelak jodohnya, saya bilang bisa jadi itu keponakan saya. Manis memang. Tapi manis bukan jadi kriteria utama wanita yang ia cari. Semakin dewasa, pikirannya jadi logis dan lebih bijak. Ia tak cari wanita yang cantik, manis, kaya, keren, wangi, tinggi, putih, atau seksi. Ia cuma cari wanita yang, ...MAU!!! :)).
Makanya, nggak aneh kalau akhir-akhir ini dia rajin sekali ngajak main ke Garut, kampung halaman saya, domisili sang ponakan. Ya, apa salahnya bantu teman untuk wujudkan mimpinya, nanti bisa diatur waktunya. Saya selalu menghargai usahanya untuk 'duduluran' dengan saya, :)). Meski masih tak habis pikir dengan pick-up line yang hendak diutarakan nanti bila bertemu sang ponakan, "Neng, Aa gaduh (punya) laptop, Neng!”
Yaudahlah ya. Tiap orang punya caranya sendiri untuk coba tampil memikat. Tapi hal lain, semua orang juga punya seragam cara untuk memaknai setiap bunga tidur indah yang mampir di lelah malamnya. Memang hanya ada satu cara, "Petik dan wujudkan!"
- - -
Ditulis Btok di Radio Dalam, Jakarta Selatan (21/3) sambil membayangkan nanti malam mimpi apa lagi. DEG!
- - -